Konflik Suriah: Perebutan Idlib makin Mendekat

Turki mengerahkan 15-ribu pasukan, 70 tank dan 200 panser untuk mempertahankan Prov. Idlib, Suriah barat laut dari serangan koalisi pasukan Rusia dn loyalis Presiden Bashar al-Assad. Eskalasi konflik Suriah sudah diambang mata.

PERANG habis-habisan antara pasukan loyalis Presiden Bashar al-Assad dukungan Rusia untuk memperebutkan benteng terakhir milisi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) pro-Turki di provinsi Suriah barat laut, Idlib diduga segera berkecamuk.

Pesan Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan pada pada Presiden Rusia Vladimir Putin Sabtu lalu (22/2) yang menyebutkan, Propinsi Idlib di barat laut Suriah yang berbatasan dengan negaranya bernilai penting,  dinilai pengamat menyiratkan rencana itu.

Bagi Turki, keterlibatannya di Suriah selain bagian dari perebutan hegemoni kawasan dan perang bersama melawan NIIS yang sudah dituntaskan, juga untuk menghadang gerakan separatis milisi Kurdistan (YPG) yang beroperasi di perbatasan Suriah.

Sebelumnya, Turki telah sukses melancarkan Operasi Militer Ranting Zaitun dengan mengerahkan tank-tank dan kekuatan udaranya untuk menaklukkan konsentrasi milisi YPG di Provinsi Afrin di timur laut  Suriah pada Maret  2018.

Pasukan rezim al-Assad yang didukung kekuatan militer raksasa Rusia, sejauh ini berada di atas angin setelah terjadinya eskalasi pertempuran di seputar Idlib sejak Desember lalu sehingga membuat posisi milisi FSA keteteran karena Turki belum bergabung.

Perimbangan di palagan mungkin berubah setelah Turki, salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)  mengerahkan sekitar 70 tank, 200 kendaraan lapis baja, sejumlah baterai artileri dan satuan rudal balistik untuk memperkuat posisi milisi SDA di Idlib.

Namun Turki juga meminta dukungan AS agar menempatkan rudal-rudal anti pesawat udara Patriot PAC-3 di wilayahnya untuk sewaktu-waktu menangkal serangan udara atau rudal Rusia.

Rusia dan Turki sebenarnya masih memiliki hubungan baik, karena kedua negara termasuk anggota forum dialog internasional dan regional Astana (kini  Nur-Sultan, ibukota Kazakahstan).

Dalam dalam hubungan militer, Turki memilih membeli sistem pertahanan rudal S-400 Triumph Rusia sehingga membuat kesal AS, mitranya di NATO, sehingga membatalkan kerjasama pembuatan pesawat tempur F-35 Super Lightning II.

Turki juga ketiban beban ekonomi akibat konflik Suriah karena harus mengurus 3,7 juta pengungsi yang terus berdatangan dari tapal batas tetangganya itu dan pasca eskalasi konflik di wilayah Idlib sejak Desember lalu, masuk lagi sekitar 900-ribu pengungsi.

Kekhawatiran juga muncul di negara-negara Uni Eropa, karena jika pecah perang besar memperebutkan Idlib, para pengnugsi juga akan mengalir ke negeri-negeri mereka.

Upaya negosasi juga akan digelar dengan pertemuan antara Presiden Turki Erdogan, Presiden Rusia Putin, Peresiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merckel, 5 Maret nanti.

Konflik Suriah tak mengenal jeda, kapan rakyatnya bisa hidup tenang dan tenteram?

(AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

Konflik berdarah d Suriah mulai berkecamuk pasca meninggalnya diktator Suriah yang berkuasa lebih 30 tahun Presiden Hafez al-Assad pada 2011 yang telah menelan 350-ribu nyawa, sebagian besar anak-anak dan perempuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara Turki yang juga berada di kubu Bashar al-Assad ikut bergabung melawan NIIS daan saat ini menanti waktu yang pas untuk menyerbu kelompok separatis milisi YPG Kurdistan di kota Manbij, timur laut Suriah.

YPG adalah kelompok milisi perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang oleh Turki karena dicap sebagai teroris dan selama ini mengobarkan aksi pemisahan diri dari negara itu.

Namun pasukan Turki yang sudah digelar di tapal batas Turki – Suriah masih menahan untuk tidak menyerbu Manbij karena disana masih ada sekitar 2.000 pasukan AS yang semula hadir untuk memerangi NIIS.

 

 

 

 

Israel vs Iran Diambang Perang Terbuka

SURIAH “bagai orang yang terjatuh, terimpit tangga”, tidak habis-habisnya dirundung konflik berdarah diawali sejak perlawanan massa terhadap pemerintah di tengah euforia gerakan “musim semi Arab“ pada  2011.

Aksi damai melawan Presiden Bashar al-Assad yang mulai digelar pada Maret 2011 berubah menjadi tragedi perang sipil melibatkan negara-negara di kawasan dan “pemain” global: Amerika Serikat dan Rusia.

Bashar sendiri menggantikan kedudukannya ayahnya, Hafez Al-Assad pada 2000 yang berkuasa dengan tangan besi selama hampir tiga dekade (1971 – 2000) sebagai presiden Suriah.

Diperkirakan sekitar 350-ribu orang tewas, puluhan ribu luka-luka dan jutaan mengungsi, tidak saja ke wilayah tetangganya, tapi juga ke daratan Eropa. Ribuan diantaranya tenggelam atau terdampar, tidak pernah mencapai tujuan.

Suriah yang menjadi salah satu kekuatan negara-negara Arab melawan Israel terutama dalam dua perang besar yakni Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973 secara insidentil sampai hari ini juga masih terlibat pertempuran dengan musuh bebuyutannya itu.

Saat diproklamasikannya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pada 1999, wilayah al-Raqqah yang dijadikan basis operasi kelompok tersebut di Suriah juga porak-poranda digempur oleh pasukan koalisi yang akhirnya berhasil menumpasnya.

Ironisnya, pihak-pihak yang bertikai di Suriah maupun kekuatan regional dan global bersatu menghadapi NIIS yang semula ingin mendirikan negara khilafah di Irak dan Suriah.

Hancurnya seluruh kekuatan NIIS baik di Irak  dan Suriah pada akhir 2017 membuat para pemain kawasan dan global kembali mengendepankan kepentingan masing-masing di Suriah.

Iran yang mendukung rezim Bashar al-Assad menempatkan Garda Revolusi dari satuan al-Quds dan juga milisi binaanya di Lebanon, Hesbollah di wilayah Suriah untuk melancarkan operasi melawan Israel.

Sementara Turki yang juga berada di kubu Bashar al-Assad ikut bergabung melawan NIIS daan saat ini menanti waktu yang pas untuk menyerbu kelompok separatis milisi YPG Kurdistan di kota Manbij, timur laut Suriah.

YPG adalah kelompok milisi perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dilarang oleh Turki karena dicap sebagai teroris dan selama ini mengobarkan aksi pemisahan diri dari negara itu.

Namun pasukan Turki yang sudah digelar di tapal batas Turki – Suriah masih menahan untuk tidak menyerbu Manbij karena disana masih ada sekitar 2.000 pasukan AS yang semula hadir untuk memerangi NIIS.

Presiden AS Donald Trump sudah menyarakan akan menarik pasukannya dari wilayah Manbij karena tugas mereka memerangi NIIS sudah selesai.

Rencana penarikan pasukan AS dari Manbij, tentu saja disambut baik oleh Turki, karena hal itu bakal membuatnya leluasa mengejar YPG, sebaliknya membuat cemas YPG yang harus menghadapi sendiri kekuatan Turki yang juga anggota NATO itu.

Dari sisi pemain global, Rusia menganggap rezim penguasa Suriah selain sobat kental, juga mitra strategis, dimana negara beruang merah itu  menempatkan armadanya di Pangkalan AL Tartus dan juga pesawat-pesawat tempurnya di pangkalan udara Khmeimin.

Israel Serang Iran

Perkembangan terakhir, sejak 30 Januari Israel melancarkan sejumlah serangan udara ke posisi-posisi satuan Iran dan Hezbollah serta pusat-pusat pengoperasian pesawat-pesawat nirawak (drone) untuk mengusik wilayah Israel.

Sistem pertahanan udara Suriah yang dilengkapi rudal-rudal S-300 Rusia dilaporkan mampu merontokkan sejumlah rudal-rudal Israel, namun demikian dilaporkan 12 tentara Suriah dan delapan tentara Iran terbunuh, serta sejumlah fasilitas pangkalan rusak.

Panglima AU Iran Amir Ali Hazizadeh seperti dikutip TV AlJazeera menyatakan pihaknya siap berperang dengan Israel dan menghadapi kemungkinan terburuk.

Hal senada disampaikan Panglima Garda Revolusi M. Ali Jafari yang mengemukakan bahwa negaranya tetap akan mempertahankan penasehat militernya di Suriah.

Iran dan Israel yang sejauh ini terlibat insiden kecil-kecilan saling ancam akan menihilkan satu dan lainnya, sehingga mungkin saja konflik di wilayah Suriah akan menyeret kedua seteru bebuyutan ini ke medan perang terbuka. (AP/AFP/Aljazeera)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement