
HANYA selang dua hari pasca ditandatanganinya perjanjian damai parsial antara Amerika Serikat dan kubu Taliban di Doha, Qatar (29/2) lalu, ledakan bom mematikan terjadi di Khost, Afghanistan timur.
Dilaporkan, tiga orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa itu, sementara di tempat lain Taliban menyerang pos-pos militer rezim Afghanistan di Badghis, Afghanistan barat dan pertikaian pecah di dua distrik di Kandahar, markas Taliban.
Kesepakatan damai antara AS dan Taliban ditandatangani oleh Utusan Khusus AS di Afghanistan Zalmai Khalilzad dan Kepala Urusan Politik Taliban Mullah A. Ghani Baradar, disaksikan Menlu AS Mike Pompeo.
Isinya a.l. pengurangan pasukan AS di Afghanistan dari 13-ribu menjadi 8.600 personil, sebaliknya Taliban setuju untuk tidak membiarkan negeri itu menjadi sarang teroris Al Qaeda.
Pasal penting lainnya, AS akan membebaskan lima ribu angggota Taliban yang ditawan di penjara-penjara yang dikelola rezim Kabul , ditukar dengan 1.000 tawanan yang berada ditangannya.
Jutaan rakyat Afghanistan di berbagai pelosok negeri pun, Sabtu sore itu (29/2) larut dalam eforia kegembiraan, karena bisa dibayangkan sejak 19 tahun lamanya mereka hidup di tengah kancah peperangan.
Sejumlah kelompok remaja menari-nari di jalan-jalan utama kota Jalalabad sambil membentangkan bendera Afghanistan , sementara anak-anak kecil bergembira-ria di lapangan di samping spanduk bertuliskan “peace”.
Tujuh hari menjelang penandantangan damai antara AS dan Taliban,dilakukan pula gencatan senjata antara pihak-pihak bertikai di negeri itu yakni AS, pemerintah Afghanistan dan Taliban.
Namun kubu Taliban menarik diri dari kesepakatan itu karena Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menolak untuk melepaskan lima ribu tawanan anggota Taliban tersebut, dengan alasan, ia tidak dilibatkan dalam kesepakatan itu.
Bagi Taliban, tidak ada perundingan intra-Afghanistan (dengan rezim Kabul) tanpa pembebasan lima ribu anggotanya, lagi pula mereka menganggap, kesepakatan damai hanya dengan pihak asing (AS), sedangkan perang melawan rezim pemerintah terus berlanjut.
Sebaliknya, rezim Kabul juga bersikeras, “Kami tidak akan membuat komitmen apa pun untuk membebaskan anggota Taliban sebelum perundingan dimulai, “ tandas Presiden Ashraf Ghani.
Rezim Afganistan sendiri memang tidak terlibat dalam kesepakatan damai itu dan hanya mengutus enam orang delegasi, dengan harapan ke depannya mereka bisa bernegosiasi dengan Taliban.
Rakyat Afghanistan agaknya ditakdirkan untuk hidup dalam peperangan. Konflik di era pendudukan Uni Soviet melawan Mujahidin antara 1979 sampai 1989 menewaskan 14.500 personil negara beruang merah itu dan hampir setengah juta rakyat, milisi Mujahidin dan pasukan pemerintah.
Sedangkan perang antara AS dan Taliban yang dituding mendalangi peristiwa 11 Sept. 2001 sampai kini sudah merenggut nyawa 1.160 tentara AS, 313 pasukan Inggeris dan 433 pasukan koalisi lainnya, 1.800 anggota Al Qaeda dan sampai 20-ribu anggota Taliban.
Perdamaian agaknya masih jauh untuk diwujudkan di Afghanistan, mengingat Taliban sendiri bukan kelompok yang solid, melainkan terdiri dari sempalan-sempalan banyak oganisasi teroris.(Reuters/AP/AFP/ns)




