SUKABUMI – Seorang bayi berusia satu bulan, Kanaya Nur Azizah menjadi salah satu penyintas gempa Sukabumi, dan kondisinya kurang sehat setelah dicek kesehatan Emergency Medical Team (EMT) Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.
Sang ibu, Siska, mengatakan bahwa Kanaya sempat alami kejang saat menangis dan Koordinator EMT DMC Dompet Dhuafa dr Aprianto menyarankan agar bayi mungil itu dirujuk jika saat dicek termometer nanti derajatnya menunjukkan temperature 38° ke atas.
Kanaya yang sebulan lalu lahir prematur, 8 bulan lebih 10 hari, menjadi salah satu penyintas gempa bumi yang melanda kawasan Sukabumi karena rumahnya yang berada di Kampung Babakan, Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat mengalami kerusakan di atap dan dinding. Sehingga saat gempa terjadi, Kanaya sempat terpapar debu dari bahan bangunan yang rubuh.
“Tapi waktu kena debu, dia teh ga nangis. Malamnya juga engga, padahal biasanya pukul 2 pagi nangis kareba haus. Baru nangis esok siangnya sekitar jam 1 sambil kaya kejang begitu,” ujar siska.
Selama tidak menangis itu, Siska tidak melihat ada gejala tertentu kecuali mata Kanaya yang kelihatan kotor. Sehingga ia inisatif membersihkannya dengan air hangat. Makanya, ia terkejut saat bayinya tiba-tiba menangis kencang sampai seperti kejang. Siska meluapkan kesedihannya melalui media sosial. Kesedihannya bertambah karena ketiadaan petugas kesehatan yang diberikan untuk penyintas gempa di kampungnya.
Berangkat dari status Siska di media sosial inilah, informasi mengenai adanya bayi yang memerlukan pertolongan dadurat medis didengar oleh Tim EMT DMC Dompet Dhuafa. Tim yang membuka layanan 24 jam di Puskesmas Terpadu (Pustu) Kampung Jayanegara, Kabandungan, langsung bergegas menuju kediaman Siska didampingi petugas pustu.
dr Anto mengatakan kondisi yang dialami Kanaya bisa jadi karena faktor paparan debu atau faktor pemicu lainnya.
“Sebab kondisinya yang lahir prematur, bayi demikian biasanya memerlukan perawatan yang intens. Jadi di awal datang langsung dilakukan penanganan sembari menyarankan rujukan ke tempat perawatan lebih lengkap sebagai antisipasi,” katanya.
Beruntung saat sedang bernegosiasi dan meyakinkan keluarga bahwa Kanaya akan baik-baik saja, kondisi bayi terswbut perlahan mulai normal. Wajahnya tidak lagi memerah dan suhunya kembali normal. Kanaya dicek beberapa kali dengan termometer. Setelah yakin, perujukannya diurungkan diganti dengan pengecekan intens terus dari pihak EMT DMC Dompet Dhuafa.
“Saya berterima kasih sekali tim Dompet Dhuafa yang bersedia datang memeriksa bayi saya. Bahkan menyiapkan panggilan dan obat untuk berjaga-jaga. Semoga tim bisa selalu memberikan bantuan selalu untuk korban bencana,” harap Siska, dikutip dari dmc.dompetdhuafa.org.





