
NYAWA para dokter dan petugas medis yang sedang berjuang di front terdepan upaya penyelamatan pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19 di rumah-rumah sakit rujukan justeru terancam.
Duka cita kita panjatkan, juga apresiasi setinggi-tingginya kepada dokter Hadio Ali, Djoko Judodjoko, Laurencius Panggabean, Adi Mirsa Putra, Ucok Martin, Toni D Silitonga dan Guru Besar Epidemiologi Fak. Kesehatan Masyrakat UI, Prof. Dr.dr. Bambang Sutrisna MHSc yang telah gugur saat menangani para pasien Covid-19.
Para almarhum adalah sosok pejuang sejati yang mendedikasikan profesi mereka bagi kemanusiaan di tengah ancaman eskalasi wabah Covid-19 di negeri ini yang sudah di hadapan mata.
Mereka sungguh berbeda dengan para politisi busuk, (para oknum) mantan petinggi negeri dan kepala daerah yang cuma mencari panggung pencitraan atau pimpinan DPR yang nyinyir, mencela sana-sini terutama pemerintah, tetapi tidak berbuat apa-apa.
Seperti yang dituturkan dokter senior RSUP Persahabatan, Jakarta, Erlina Burhan, baik dokter muda mau pun senior di RS tersebut bekerja ekstra sangat keras menyelamatkan para pasien Covid-19, bahkan ada yang sudah sejak awal Februari lalu tidak pulang ke rumahnya.
“Saya diberi tahu oleh orang tua dokter tersebut, anaknya tidak pulang-pulang karena katanya sibuk menangani pasien dan juga khawatir, jika pulang ke rumah akan menularkan virus yang kemungkinan juga sudah menjangkitinya, “ tutur Erlina.
Sebaliknya, ia juga mengungkapkan kesedihannya, karena celotehan di medsos yang menuding, para dokter dan petugas medis seolah-olah bekerja sekadarnya dan sering menolak pasien.
Menurut dia, RS harus menerapkan prinsip triase yakni prioritas penanganan pasien (merah: urgen atau prioritas utama, kuning: bisa ditunda, hijau: penyakitnya ringan dan hitam: pasien sudah meninggal atau tidak bisa diselamatkan).
“Jadi bukannya kami mengabaikan pasien, tetapi harus memilih prioritas penanganan, sesuai dengan SDM dan fasilitas tersedia, “ tuturnya.
Dr Erlina juga mengingatkan agar Alat Pelindung Diri (APD) segera dibagikan pada RS-RS rujukan penanganan pasien Covid-19 di seluruh Indonesia karena banyak diantara mereka yang kekurangan stok atau malah tidak memilikinya.
Penuhi Kebutuhan APD
Pemerintah RI baru saja mendatangkan 105.000 APD dan satu juta set alat tes cepat (rapid test) yang akan segera dibagikan ke 132 RS rujukan penanganan Covid-19 di berbagai provinsi. Mudah-mudahan saja, pembagian tersebut segera sampai ke RS yang membutuhkannya.
Bisa dibayangkan jika terjadi lonjakan pasien Covid-19, karena untuk satu pasien dalam sehari saja diperlukan delapan set APD (untuk dokter dan para petugas medis), apalagi sebagian APD seperti baju dan kaos tangan cuma sekali pakai (disposable).
Paling tidak diperlukan Rp2-juta untuk membeli APD, lengkap mulai dari penutup kepala dan telinga, kacamata, pelindung wajah dan organ pernafasan, apron (penutup tubuh menyeluruh) serta pelindung kaki.
Rapid Test yang mulai digencarkan menyasar ribuan warga, khususnya Orang Dalam Pemantauan (ODP), diperkirakan akan membuat jumlah orang yang terdeteksi terpapar Covid-19 bakal melonjak.
Ketua Tim Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi ITB, Nuning Nuraini bahkan memperkirakan, akumulasi korban Covid-19 di Indonesia sampai pekan ketiga Mei bisa mencapai 60.000 orang, di masa puncak epidemi pada pekan ke-2 atau ke-3 April dimana kurva hariannya bisa menyentuh angka 2.000.
Sampai Rabu sore (25/3) tercatat 790 orang pasien yang sedang diobservasi, 58 orang diantaranya meninggal dan yang menggembirakan, 31 orang dinyatakan sembuh.
Selain insentif honor, keselamatan para dokter, petugas medis dan siapa pun yang berkerja menangani pasien Covid-19 di RS terutama ketersediaan APD perlu lebih diperhatikan.
Pemerintah memberikan insentif Rp 15 juta per bulan bagi dokter spesialis, Rp10 juta dokter gigi/umum, Rp7,5 juta perawat dan bidan serta Rp5 juta untuk petugas medis lainnya, sedangkan setiap dokter atau petugas medis yang meninggal, masing-masing mendapat santunan Rp300 juta.
Selamatkan para dokter, petugas medis dan mereka yang bertugas di RS karena jika mereka bertumbangan, siapa yang akan mengurusi para pasien Covid-19?




