Rumah Sakit Penuh, Wabah Apa Berkah?

Apakah ini dampak dari Gerhana Matahari Total, (GMT), atau yang lainnya, saya juga tidak tahu. Akan tetapi, berbeda dengan biasanya, Rumah Sakit Polri R. Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, khususnya Unit Gawat Darurat (UGD) sangat penuh, Kamis (10/3/2016).

Tidak ada celah yang tersisa di ruangan itu. Semua lorong, bahkan teras gedung itu diisi dengan pasien. Mereka tidak saja dirawat sambil tidur, tapi juga duduk di kursi roda dan kursi biasa. Hal itu dikarenakan tempat tidur di ruangan ini sudah penuh semua.  Bahkan  halaman parkir di depan UGD itu didirikan tenda, di sana dirawat beberapa pasien dengan bed lapangan dan ada juga yang dapat duduk di kursi saja.

Di ruangan UGD Kamar 2 sendiri, biasanya hanya dipasang 5 tempat tidur. Kali ini saking banyaknya pasien, tempat tidur yang 5 dirapatin sehingga celah antar tempat tidur itu, cukup hanya untuk berjalan ke samping. Kemudian di ruangan itu ditambah 1 bed lapangan dan 1 bed brankar.

Bagi pasien anak-anak atau balita, tidak mendapat tempat tidur, mereka digendong ibunya, diinfus di atas gendongan. Kemudian untuk menghentikan tangis sang bayi, ibunya membawa sang buah hati jalan-jalan di sepanjang lorong ruangan UGD itu.

Semakin malam, suasana itu tidak berubah signifikan. Karena setiap saat pasien terus bertambah. Sementara yang dikirim ke ruangan untuk dirawat tidak banyak. Jadi pasien nampaknya menumpuk di UGD, karena memang di ruang rawat inap di semua kelas, sedang  penuh.

Kondisi itu membuat ruangan UGD, yang harusnya hanya berfungsi sebagai ruang observasi,  bertambah fungsi menjadi ruang terapi juga. Bahkan ada pasien yang sudah 5 hari berada di UGD, karena harus antere menunggu ruangan rawat inap. Pasien-pasien yang lewat dari 24 jam diobservasi di UGD belum dapat kamar, diminta persetujuannya untuk menandatangani inform concern, menyatakan bersedia diterapi di UGD selama menunggu kamar rawat inap.

Si Engkong dari Tebet, 90 tahun, sejak turun dari ambulan yang disewa  anaknya untuk membawa bapaknya ke rumah sakit guna mendapat perawatan, tidak turun-turun dari brankar atau tempat tidur ambulan itu meski sudah 3 hari. Karena saat ia diturunkan dari ambulan dan masuk ke UGD tidak dapat tempat tidur.Akhirnya pihak keluarga memohon kepada supir ambulan untuk meminjamkan brankar itu.  Prihatin dengan kondisi itu, akhirnya sang sopir ambulan meminjamkannya. Kemudian ia kembali membawa pulang ambulan tanpa brankar.

Saya sendiri yang datang ke UGD dengan keluhan demam tinggi, batuk dan meriang yang tidak mengenakan selama 3 hari. Saya datang Kamis  pagi, hanya dapat  jatah dirawat di kursi lipat yang nyempil di dekat meja perawat kamar 2. Tidak ada tempat tidur  yang bisa ditempati. Di kursi itu saya diinfus dan melewati hari sampai sore hari, tanpa sempat memejamkan mata dan merebahkan tubuh yang lagi meriang dan pegal-pegal.

Mata bukan main lelahnya, badan bukan main capeknya, tapi apa daya tidur tak dapat dinikmati sambil duduk di kursi lipat. Mau selonjor saja juga menghadapi kondisi terbatas, karena kaki akan menghalangi jalan orang dan perawat yang lalu-lalang menjalankan tugasnya. Bersyukur sore hari, salah satu bed di dekat pintu masuk kamar 2 itu, ditinggal penghuninya yang sudah diterapi 5 hari di situ.

Bapak yang menderita sakit ginjal itu, menurut info petugas dititipkan ke ruang ICU. Itu bukan karena penyakitnya yang sedang gawat, seperti biasa orang-orang yang dirawat di ruang itu. Akan tetapi karena memang ruang kelas 3 tempat seharusnya dia dirawat masih menunggu antrian. Sementara di ICU ada 1 bed kosong, karena baru saja ditinggal pasien. Tidak jelas infonya, pasien yang menghuni sebelumnya selamat apa wafat, yang jelas bed kosong itu menjadi berkah bagi bapak pasien sakit ginjal yang sudah 5 hari di UGD.

Berkah buat bapak yang sakit ginjal, juga menular ke saya. Oleh petugas jaga, saya dipindahkan dari rawatan kursi ke bed itu. Beberapa saat saya pindah dari  kursi yang baru saja saya tinggalkan, tidak lama kursi itu sudah  terisi kembali. Bahkan petugas menambah satu kursi lagi, karena pasien baru datang lagi. Seperti air yang tak pernah berhenti mengalir, begitulah kehadiran pasien di ruang UGD itu.Halaman Berikut: TIDAK MENOLAK PASIEN

Advertisement