Ketika Urusan Perut dan Biaya Hidup tak Bisa Berdamai dengan Corona

Mustaki dari BDLM Dompet Dhuafa menyerahkan paket sembako untuk keluarga Junaidi, pedagang kacang rebus di Depok. Foto: DD

SUKMAJAYA – Biasanya kalau malam hari di akhir pekan dan malam menjelang hari libur banyak orang berkerumun di sekitar Taman Merdeka, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Mereka menghabiskan malam di lapangan itu sambil diterangi cahaya bulan dan gemerlap bintang-bintang.

Akan tetapi sejak mewabahnya Virus Covid-19 atau Virus Corona, pemandangan itu tidak ada lagi. Maklum, masyarakat sudah membatasi diri untuk beraktifitas di luar, utamanya malam hari. Sesuai pula dengan himbaun pemerintah untuk memutus penularan Corona dengan Social Distancing dan Physical Distancing, atau jaga jarak aman seperti kata-kata yang banyak menjadi hiasan bak belakang dump truk.

Sejak himbauan menjaga jarak itu jualah, kacang rebus yang dijual Junaidi (35) tidak lagi menjadi primadona. Meskipun demikian Junaidi tetap keluar malam, berkeliling menjajakan kacang rebusnya demi kebutuhan hidup keluarga. Junaidi sendiri sering mangkal di Taman Merdeka tersebut.

Malam Rabu (25/3), tak banyak orang berkerumun. Pun begitu juga dengan anak muda yang biasa menjadi pelanggan kacang rebus Junaidi. Ia maklum, dengan kondisi akhir-akhir ini. Ia juga mengetahui himbauan dari Pemda setempat yang dibantu Polisi dan Satpol PP agar para warga tak berkerumun lagi di malam hari.

Namun, berdiam diri di rumah bukanlah sebuah pilihan bagi Junaidi. Aktifitasnya sebagai penjual kacang rebus selama ini memang dilakukan di kala sore hingga malam hari. Kalau ia tak jualan, dapur pun tak ngebul. Kebutuhan rumah tangga dan sewa kontrakkan pun sulit dipenuhi.

Beberapa Minggu ini ia mulai merasakan dampak dari wabah Corona itu. Ia pun  mengurangi stok kacang yang ia jual. Jam operasionalnya pun dikurangi, yang biasanyaia dagang  hingga pukul 1 dinihari, kini ia kurangi hanya sampai pukul 11 malam saja.

Sebagai manusia biasa, tak bisa dipungkiri ada rasa khawatir yang menggelayuti hati dan pikiran mengingat gentingnya keadaan. Ia juga takut tertular dan menularkan virus, namun hal itu ia kesampingkan demi menghidupi keluarga kecil yang ia cintai.

“Yah dibilang takut ya saya takut juga, tapi namanya urusan perut sama kontrakan gak pernah libur,” ujar Jun di kediamannya di bilangan Merdeka Barat, Bakti Jaya ini kepada Mustaki, dari Divisi Budaya Dakwah dan Layanan Masyarakat (BDLM) Dompet Dhuafa yang berkunjung ke kediamannya.

Mustaki menyampaikan, sebagai lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa menyadari bahwa saat ini merupakan masa sulit bagi siapa pun, tak terkecuali dengan Junaidi.

“Faktor ekonomi menjadi kesulitan bagi masyarakat kecil seperti Junaidi, terlebih beliau dan istri merupakan pasangan disabilitas yang mengandalkan usaha kecilnya untuk membiayai tiga anaknya dan membayar kontrakan setiap bulan,” jelas Mustaki kepada KBKNews.id melalui percakapan daring, Sabtu (28/3/2020).

Dilanjutkan Mustaki, demi memberdayakan rakyat kecil, Dompet Dhuafa membantu paket sembako untuk Junaidi. Semoga sembako yang diberikan berguna meringankan beban hidup dan ekonomi keluarga, mengingat omset usahanya yang sedang merosot akhir-akhir ini. Paket sembako diterima langsung oleh Junaidi, pada Kamis (26/3), di kediamannya.

“Terima kasih kepada Dompet Dhuafa khususnya para donatur yang telah membantu meringankan beban kami,” ucap Junaidi seperti ditirukan Mustaki.

Tak lupa Junaidi berharap, kondisi ini segera berakhir mengingat pedagang kecil lain seperti Junaidi banyak menggantungkan nasibnya dari usaha harian yang dilakoni di luar rumah.

Advertisement