Covid-19 Tak Pilah-pilih Korban

150 kalangan bangsawan Arab Saudi termasuk Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdul Aziz al Saud yang juga gubernur Riyadh terinfeksi Covid-19. Virus ini menyerang siapa saja, tanpa memandang agama, kepercayaan dan ideologi, sudah menyebar di 204 negara.

VIRUS Covid-19 yang pemunculannya mulai terdeteksi di Wuhan, Prov. Hubei, China sejak medio Desember lalu, sudah memapar 1.508.542 orang dan menewaskan 14.662 orang di 204 negara (sampai 9/4).

Yang mengejutkan, (mengutip Kompas.online/Reuters 10/4)  ada 150 bangsawan Kerajaan Arab Saudi termasuk Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz al Saud yang juga gubernur Riyadh, dikonfirmasi terpapar virus corona galur baru itu.

Perawatan terhadap Pangeran Faisal dikonfirmasi oleh dua dokter yang memiliki koneksi dengan kalangan RS elit serta mengenal dekat dengan keluarga kerajaan.

Raja Salman (84) dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan sudah mengasingkan diri untuk menghindari wabah ke  sebuah istana di kawasan Laut Merah.

Covid-19 tidak memilah-milih korbannya, tiba-tiba menyeruak di lintas benua, tidak peduli negara maju atau miskin, tanpa membeda-bedakan agama, ideologi dan kepercayaan.

Bahkan AS, negara adi daya dengan level ekonomi, kesejahteraan dan layanan kesehatan amat prima bagi warganya, tidak luput dari serangan Covid-19, bahkan termasuk negara dengan jumlah korban tertinggi.

Korban tewas  terbanyak (9/4) tercatat di Itali (17.669), disusul Spanyol (14.792), lalu AS (14.662), Perancis (10.869), Inggeris (7. 097), Iran (3.993), China (3.333), Jerman (2.349), Belgia (2.240) dan Turki (812).

Jumlah korban Covid-19 di Indonesia masih relatif rendah yakni 280 orang meninggal dari 2.761 pasien yang positif terpapar (9/4), namun dari sisi persentasi, korban meninggal sangat tinggi (10 persen).

Yang mencemaskan, rendahnya jumlah penduduk yang sudah diambil specimennya (baru 36 dari per satu juta penduduk), sehingga berpotensi memicu ledakan (outbreak) Covid-19, diprediksi akhir April atau Mei dengan korban bisa sampai puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang.

Andalkan Program PSBB

Upaya menahan laju lonjakan jumlah korban Covid-19 sangat tegantung keberhasilan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna membatasi gerakan orang melalui sistem social distancing,  percepatan rapid test dan pemberian Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi keluarga miskin.

Masalahnya, PSBB yang mulai diterapkan di DKI Jakarta (10/4) termasuk pembatasan transportasi umum, jenis usaha dan kegiatan publik dan  anjuran untuk tidak mudik dan larangan berkumpul juga menghadapi  sejumlah kendala dan persoalan.

Hanya fasilitas layanan kesehatan seperti Puskesmas, RS dan apotik yang tetap buka, sementara supermarket, pasar dan toko untuk kebutuhan sehari-hari dengan pembatasan dan  sebagian pegawai kerja di rumah, sedangkan sekolah diliburkan.

Warga dilarang berkumpul lebih lima orang, menggelar pesta atau hajat keluarga, begitu pula peribadatan massal di rumah-rumah peribadatan dan, kegiatan atau turnamen olahraga, seni budaya dan lainnya.

Selain itu transportasi umum dibatasi waktu operasinya, begitu pula dengan jumlah penumpang, sedangkan gerakan manusia dari wilayah sekitarnya juga akan diawasi.

Tidak mudah memaksa warga untuk berdiam di rumah, lagi pula warga miskin yang berjejalan di rumah-rumah kumuh dan sempit, apa tidak malah rentan paparan Covid-19.

Tak ada pilihan bagi warga yang penghasilan hariannya tergerus bahkan hilang akibat kelesuan ekonomi di tengah wabah Covid-19 untuk tidak berduyun-duyun pulang kampung karena tidak mampu menyangga beban ekonomi di perantauan.

Pemerintah menyiapkan Rp110 triliun program JPS dari total dana APBN sebesar Rp405,1 triliun a.l berupa bantuan bagi jutaan Keluarga Harapan, Kartu Sembako dan Bantuan Langsung Tunai Langsung (BLT).

Namun kesulitan penyalurannya bisa dibayangkan a.l. mengingat data calon penerima bantuan yang masih bersifat umum, belum sampai detil “by name and address”, juga akibat longgarnya rentang komando di jajaran petugas pelaksana.

Dituntut kesungguhan pemerintah pusat dan daerah beserta seluruh jajarannya, pengusaha dan warga mampu agar proaktif memberi uluran tangan, juga masyarakat luas,  untuk berdisplin dan menaati perintah dan menjauhi larangan dari pihak berwenang.

Bangsa Indonesia sebagai umat beragama, pasti meyakini sepenuhnya  kekuasaan Allah untuk menentukan apa yang dikehendakiNya, namun pandemi Covid-19 juga bisa dijelaskan penyebarannya secara klinis dan epidemiologi, serta penanganannya secara medis.

Warga dunia, tanpa membedakan ideologi, agama dan kepercayaandan prasangka, mari bahu-membahu mengatasi pandemi Covid-19, paling tidak, menunjukkan empati pada para korban.

Para politisi hendaknya tidak hanya nyinyir, mengritik dan mencela kesana-kemari.Ini waktunya memberikan kontribusi anda, dan juga para pejabat dan kepala daerah, tunjukkan keterpihakan nyata pada rakyat, jangan cuma membangun pencitraan!

 

 

 

 

 

 

 

 

Melansir dari dari Wolrdometers, Kamis (9/4/2020) pagi, angka kasus pasien yang positif Covid-19 sebanyak 1.508.224 orang. Adapun angka kematian sebanyak 88.280 orang dan mereka yang sembuh 329.542 orang. Berikut ini 10 negara dengan kasus terbesar: Amerika Serikat: 426.300 kasus, 14.622 orang meninggal dunia, dan 22.233 orang sembuh Spanyol: 148.220 kasus, 14.792 orang meninggal dunia, dan 48.021 orang sembuh Italia: 139.422 kasus, 17.669 orang meninggal dunia, dan 26.491 orang sembuh Jerman: 113.296 kasus, 2.349 orang meninggal dunia, dan 46.300 orang sembuh Perancis: 112.950 kasus, 10.869 orang meninggal dunia, dan 21.254 orang sembuh China: 81.802 kasus, 3.333 orang meninggal dunia, dan 77.279 orang sembuh Iran: 64.586 kasus, 3.993 orang meninggal dunia, dan 29.812 orang sembuh Inggris: 60.733 kasus, 7.097 orang meninggal dunia, dan 135 orang sembuh Turki: 38.226 kasus, 812 orang meninggal dunia, dan 1.846 orang sembuh Belgia: 23.403 kasus, 2.240 orang meninggal dunia, dan 4.681 orang sembuh. Baca juga: Benarkah Virus Corona Penyebab Covid-19 Berasal dari Pasar Wuhan? Berikut ini update seputar virus orona di berbagai belahan dunia: Amerika Serikat Amerika Serikat mengumumkan akan menyita ekspor peralatan medis

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Update Virus Corona di Dunia 9 April: 1,5 Juta Orang Terinfeksi, 329.542 Sembuh”, https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/09/070103865/update-virus-corona-di-dunia-9-april-15-juta-orang-terinfeksi-329542-sembuh.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

 

 

tau Covid-19 menginfeksi orang dengan berbagai kasta. Salah satunya keluarga kerajaan Arab Saudi. Keluarga kerajaan Saudi diperkirakan memiliki sekitar 15.000 anggota. Dilansir New York Times (8/4/2020), sebanyak 150 bangsawan kerajaan Saudi dilaporkan tertular virus corona atau Covid-19, menurut seseorang yang dekat dengan keluarga kerajaan. Baca juga: PSBB Diterapkan, 44 Perjalanan KA Dibatalkan, 14 Masih Beroperasi, Simak Perinciannya Di antara yang terkonfirmasi positif adalah emir (gubernur) ibu kota Riyadh sekaligus Pangeran Saudi, Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud. Pangeran Faisal sekarang dalam perawatan intensif. Infeksi dan perawatan gubernur Riyadh dikonfirmasi oleh dua dokter yang memiliki ikatan dengan rumah sakit elit serta dua lainnya yang dekat dengan keluarga kerajaan. Dokter yang merawat anggota kerajaan sedang mempersiapkan 500 tempat tidur baru untuk masuknya pasien. Baca juga: Update Situasi Terkini Wabah Virus Corona di 9 Negara Timur Tengah Mengasingkan diri Raja Saudi, Salman bin Abdelaziz sedang membaca dokumen di Istana, Riyadh, Arab Saudi. 8 Maret 2020. Lihat Foto Raja Saudi, Salman bin Abdelaziz sedang membaca dokumen di Istana, Riyadh, Arab Saudi. 8 Maret 2020.(REUTERS/SAUDI ROYAL COURT) Sementara itu Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah mengasingkan diri untuk menghindari wabah. Raja Salman (84) mengasingkan diri di sebuah istana pulau dekat kota Jeddah di Laut Merah. Halaman Selanjutnya

enurut dokter dan orang-orang dekat keluarga, keluarga kerajaan termasuk ribuan pangeran sering melakukan perjalanan rutin ke Eropa. Beberapa diyakini telah membawa virus sekembalinya dari perjalanan. Seberapa jauh virus menyebar di kerajaan, tidak bisa ditentukan. Arab Saudi hanya mampu melakukan pengujian terbatas. Baca juga: Penyebaran Virus Corona dan Ancaman Lonjakan Kasus Covid-19 di Arab Saudi… Mengunci area Kasus pertama yang diakui kerajaan adalah seorang Saudi yang telah pulang ke rumah setelah mengunjungi Iran. Setelah beberapa kasus serupa terdeteksi, pemerintah Saudi merespons dengan mengunci area di provinsi timur kerajaan. Sebelum kasus pertama dilaporkan, pemerintah telah membatasi perjalanan ke Arab Saudi serta menutup tempat suci di Mekah dan Madinah. Semua kota besar di Arab Saudi juga telah dikunci atau lockdown. Pihak berwenang sekarang telah menghentikan semua perjalanan udara dan darat, baik antar provinsi maupun ke luar.

 

 

 

 

 

Advertisement