Mendesak, Pembangunan Karakter Bangsa

Pendidikan karakter bangsa diperlukan agar di tengah bencana, warga disiplin mematuhi seruan pemerintah dan muncul kesetiakawanan dan solidaritas bagi warga yang terkena musibah.

PEMERINTAH RI jungkir balik berupaya memerangi wabah Covid-19 yang angka korbannya terus bergerak naik dan jika gagal dicegah dicemaskan bakal terjadi outbreak dengan perkiraan korban sampai ratusan ribuorang.

Angka korban Covid-19 di tanah air relatif rendah, tercatat 520  meninggal dari 4.796 pasien yang dirawat di RS-RS di 34 provinsi, namun   persentasenya cukup tinggi (hampir 11 persen atau 520:4.796) dibanding  rata-rata di negara lain pada kisaran dua sampai lima persen (16/4).

Pandemi global Covid-19  telah menewaskan 134.286 orang sampai tanggal yang sama, mejangkiti 2,089  juta orang di 210 negara.  AS menempati angka korban tewas tertinggi (31.044) disusul Itali (22.233), Spanyol (19.369), Iran (4.777) dan China (3.386).

Di Indonesia, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau karantina terbatas terutama dengan social distancing guna menghambat penyebaran virus maut itu.

Berbarengan dengan PSBB dilakukan realokasi APBN sebesar Rp405,1 triliun termasuk Rp110 triliun program JPS berupa Bantuan Langsung Tunai, Keluarga Harapan dan Kartu Prakerja bagi warga miskin atau pekerja harian yang perekonomiannya paling terimbas Covid-19.

Warga diminta tinggal di rumah dengan membatasi transportasi umum,  muatan mobil pribadi dan sepeda motor, waktu buka pusat-pusat perbelanjaan dan penutupan tempat-tempat hiburan serta pemesanan makanan atau minuman diserukan secara “take away”.

Namun seruan tersebut ternyata sulit diberlakukan selain karena

kondisi yang tidak mendukung, misalnya warga tetap harus keluar rumah untuk mencari makan, juga karena abai dan rendahnya disiplin.

Di kota-kota besar seperti ibukota, masih banyak terlihat pengendara sepeda motor berkerumun di jalan-jalan raya, berjejalan naik KA komuter, ngumpul di warung-warung atau tidak mengenakan masker.

Selain terdesak kebutuhan sehingga melanggar seruan untuk berdiam diri di rumah, sebagian warga dengan enteng berkilah, mereka tidak tau  seruan tersebut, namun ada juga yang memang sengaja membandel.

Abaikan Seruan untuk Tidak Mudik

Ratusan ribu perantau dari ibukota dilaporkan sudah tiba di kampung halaman mereka, terutama di provinsi lain di P. Jawa, mengabaikan seruan untuk tidak mudik, sehingga dikhawatirkan  penyebaran Covid-19 tak terkendali.

Disiplin sebagai karakter bangsa memang tidak bisa disulap begitu saja, perlu pembelajaran dan penyadaran bertahun-tahun, di bangku seolah, di lingkup keluarga dan hunian, juga keteladanan para elite dan  politisi.

Tidak salah, jika guru-guru di luar negeri seperti yang diposting di medsos mengatakan, mereka lebih risau menyaksikan murid-murid tidak mau antri ketimbang tidak menguasai matematika.

Alasannya, cukup pelajaran intensif tiga bulan saja bagi murid-murid  untuk menguasai matematika, sebaliknya diperlukan belasan tahun untuk membuat mereka berdisiplin antri.

Makna penting di balik antri a.l. belajar manajemen waktu untuk datang lebih awal jika ingin duluan, berdisiplin dan sabar menjalani proses, menghargai hak orang hingga malu menyerobot, kreatif berbuat sesuatu saat antri dan bersosialisasi dengan pengantri lain.

Jepang, negeri  dengan karakter bangsa yang kuat berkat plestarian budaya luhur, semangat bushido dengan disiplin, martabat dan nilai-nilai kejujuran amat tinggi berkat tempaan pendidikan dan pelestarian nilai-nilai luhur bangsa itu.

Penduduk dengan tertib mengantri makanan di tengah salju dingin, tidak ada yang saling menyelak saat terjadi gempa berkekuatan SR dibarengi tsunami di Fukushima Maret 2011 yang menewaskan 19.631 orang dan 2.560 hilang serta menyebabkan sekitar 122.000 bangunan rusak. Tidak ada pula penjaharahan di rumah-rumah yang ditanggal warga untuk mengungsi.

Sementara itu, sebaliknya, pendidikan di negeri ini nyaris tak menyentuh persoalan karakter bangsa termasuk etika moral, budaya antri, kesetiakawanan, kejujuran dan tata krama. Jika ada pun mungkin sekedar hapalan.

Guru-guru di depan kelas hanya terikat mengajar mata pelajaran yang dibebankan padanya seperti matematika, biologi, bahasa atau fisika, dan nyaris tidak menjalin hubungan hati-ke hati dengan muridnya.

Hasilnya, sebagian murid leluasa menyalurkan gejolak kejiwaan mereka dengan hal-hal buruk, melakukan pembulian pada rekan sekelas, tawuran, mengunggah video porno atau mengosumsi narkoba.

Selain minimnya pendidikan karakter bangsa, perilaku politisi yang menebar hoaks dan ujaran kebencian, bahkan mengapitalisasi agama demi k memenangkan pilkada, pilpres atau pileg, belum lagi mental korup oknum pejabat juga sering menginspirasi anak-anak.

Fitnah keji di medsos saat Presiden Jokowi kehilangan bunda tercinta, Ibu Sujiatmi Notomihardjo 25 Maret lalu atau penolakan pemakaman korban Covid-19 di beberapa daerah hanyalah dua contoh di balik “fenomena gunung es” minusnya nilai-nilai kebangsaan.

Pandemi Covid-19  menjadi pembelajaran bagi bangsa ini untuk membangun karakter warganya, mulai dari hal-hal kecil, cuci tangan, tertib antri, menghargai orang lain, jujur dan fair play, baik dalam  kompetisi olahraga mau pun kampanye politik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement