
PERUSAHAAN energi asal Italia, Eni, mengumumkan penemuan besar gas alam jumbo di lepas pantai Kalimantan Timur.
Dalam pernyataan yang dilansir AFP, Senin (20/4), disebutkan lokasi temuan gas alam yang disebut sebagai “harta karun” tersebut berada sekitar 70 kilometer dari pesisir Kalimantan Timur.
Temuan cadangan gas alam dalam jumlah besar itu, menurut pihak perusahaan, berpotensi mengubah peta produksi energi perusahaan Eni di Tanah Air.
Pemerintah Indonesia menilai cadangan ini dapat melipatgandakan produksi Eni dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah tekanan harga energi global akibat perang di Iran, penemuan ini juga dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Estimasi awal menunjukkan cadangan mencapai sekitar 5,0 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat, yakni hidrokarbon cair.
Perusahaan menyatakan,temuan ini “membuka volume signifikan baru untuk pasar domestik dan internasional”.
Pemerintah menyebut penemuan ini dapat mendongkak produksi gas alam Eni secara signifikan.
Produksi gas diperkirakan mencapai 2.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 2028, dan meningkat menjadi 3.000 MMSCFD dua tahun setelahnya. Saat ini, produksi masih berada di kisaran 600–700 MMSCFD.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, “Ini adalah penemuan raksasa.
“Selain gas, pada 2028 kita juga akan memproduksi sekitar 90.000 barel kondensat dan pada 2029–2030 itu bisa meningkat lagi menjadi 150.000 bare,” ujarnya.
Peningkatan produksi kondensat dinilai berpotensi menekan impor minyak Indonesia.
Pemerintah menyebut hal ini sebagai langkah penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional.
Bahlil menambahkan bahwa temuan ini “membuktikan Indonesia masih memiliki peluang signifikan untuk mengoptimalkan potensi minyak dan gas sebagai pilar ketahanan energi nasional dan upaya mencapai swasembada energi”.
Tekanan harga energi global
Seperti banyak negara lain, Indonesia menghadapi tekanan akibat lonjakan harga energi global sejak pecahnya perang di Timur Tengah.
Meski merupakan produsen minyak, Indonesia masih menjadi importir bersih dan sangat bergantung pada subsidi energi.
Pemerintah bahkan telah menerapkan langkah penghematan, termasuk pembatasan bahan bakar serta kebijakan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara setiap Jumat.
Dalam upaya menjaga pasokan energi, Presiden Prabowo Subianto melakukan sejumlah langkah diplomasi.
Dalam kunjungannya ke Moskwa, Indonesia menyepakati kerja sama pengadaan minyak jangka panjang dengan Rusia, meski detailnya masih difinalisasi.
Jubir Kemlu RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengatakan, “tidak ada angka spesifik yang kami miliki, tetapi ini berjangka panjang bagi ketahanan energi.”
Selain itu, dalam pertemuan dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron, kedua negara sepakat bekerja sama dalam “transisi energi dan pengembangan energi baru dan terbarukan”. (kompas.com/ns)



