Covid-19 Hempaskan Harga Minyak

Harga minyak mentah anjlok akibat imbas Covid-19, bahkan jenis WTI untuk transaksi berjangka Mei yang ditutup 21 April, minus 37 dollar AS/barel karena penjual tidak memiliki tempat penampungan lagi.

PANDEMI Covid-19 tidak saja menewaskan 41.000 orang lebih dan menginfeksi lebih 2,5 juta orang di 210 negara, juga membuat harga minyak mentah anjlok sampai ke titik nadir.

Bahkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan transaksi di bursa berjangka New York Mercantile Exchange (NYMEX) pada sesi penutupan transaksi, Selasa (21/4) untuk Mei, melorot ke titik minus ( – 37 dollar AS) per barel.

Hal itu terjadi akibat melimpahnya pasokan (over supply) minyak di tengah kelesuan ekonomi global seiring amukan virus corona galur baru (Covid-19) berawal dari kota Wuhan, Prov. Hubei, China medio Desember lalu.

Penjelasannya, produsen minyak mentah dan pembeli (perusahaan pengolahan) bertemu di bursa minyak mentah berjangka untuk menentukan harga kontrak setiap bulannya  yang digunakan untuk memastikan marjin laba keduanya atau untuk lindung nilai (hedging).

Misalnya, produsen menjual minyaknya pada kontrak bulan Juni  21,40 dollar/barel yang dibeli oleh perusahaan pengolahan. Seiring berjalannya waktu hingga sehari sebelum kontrak tersebut expired harga minyak berada di level US$ 15/barel.

Setelah masa expired, transaksi tersebut akan diproses untuk penyerahan barang. Produsen tetap menjual dengan harga 21,40 dollar/barel (bukan 15 dollar/barel), begitu juga pembeli tetap membayar 21,40 dollar/barel.

Jadi, produsen minyak mentah sudah mengamankan keuntungannya sejak awal di level harga 21,40 dollar/barel atau menjual dengan harga lebih mahal dibandingkan saat masa expired sebesar 15 dollar/barel.

Sebaliknya, perusahaan pengolahan minyak mentah akan mendapat laba ketika harga minyak mentah di masa expired misalnya malah naik menjadi 30 dollar/barel karena harga minyak yang dibeli lebih murah ketimbang jika membeli sehari sebelum masa expired.

Harga minus terjadi saat produsen minyak mentah sudah tidak memiliki tempat penyimpanan hasil produksinya, sementara permintaan minyak mentah sudah tidak ada, bahkan jika diberikan secara gratis pun tidak ada yang menampung.

Produsen terpaksa menjual dengan harga minus seolah-olah “bunuh diri”, tetapi sebenarnya tindakan tersebut bisa memangkas biaya lebih besar, ketimbang harus menyimpan minyak mentahnya.

Laju anjloknya harga emas hitam itu tidak bisa dicegah walau negara-negara OPEC dan mitra-mitranya  sepakat memangkas produksi 9,7 juta barel per hari (bpd) atau 10 persen dari output global, 9 Maret lalu untuk dieksekusi Mei nanti.

Harga spot (di tempat) minyak mentah jenis Brent dilaporkan juga terkoreksi banyak, dari 65 dollar AS/barrel pada awal Februari lalu ke 25 dollar AS.

Anjloknya harga minyak akibat lumpuhnya berbagai sektor usaha dan roda-roda perekonomian global di tengah ancaman outbreak pandemi Covid-19 tidak bisa diprediksi ujungnya.

Kemungkinan penyesuaian harga BBM dalam negeri guna meringankan beban konsumen, menurut pengamat perminyakan, Qurtubi, harus diperhitungkan secara cermat termasuk terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Ancaman pendemi outbreak Covid-19 di depan mata, resesi ekonomi, juga menghadang  sehingga para penentu kebijakan dan segenap komponen bangsa harus siap mengencangkan ikat pinggang.

 

 

Advertisement