Tak Kunjung Terima Bantuan karena Lockdown Thailand, Wanita Bunuh Diri Minum Racun

Orang-orang yang terkena penyakit anti-coronavirus (COVID-19), langkah-langkah pemerintah untuk tetap menjaga jarak sementara mereka menunggu makanan gratis di sebuah taman di Bangkok, Thailand, Selasa (21/4/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Athit Perawongmetha/hp/djo

BANGKOK – Seorang perempuan meminum racun tikus pekan ini di luar Kementerian Keuangan Thailand memprotes pemberian bantuan yang lambat selama karantina wilayah atau “lockdown” virus Corona.

Pemerintah Thailand menjanjikan Selasa (28/4/2020) akan mengucurkan bantuan segera. Namun bagi jutaan warga Thailand lainnya, penantian masih belum usai.

Thailand mengumumkan bulan lalu bahwa pemerintah akan memberikan 15.000 baht atau Rp7.170.00 kepada mereka yang pekerjaannya terkena dampak wabah virus corona dan tindakan pencegahan.

Program itu akan juga menjangkau dampak dari perintah penutupan mal dan kegiatan bisnis lain sebulan lalu.

Total bantuan, senilai $ 7,4 miliar, dinilai tidak cukup cepat disalurkan pada banyak warga Thailand, yang kesulitan kehidupan sehari-harinya diperburuk dengan berkurangnya pendapatan dengan tiba-tiba ketika kegiatan ekonomi domestik terhenti.

Perempuan yang meminum racun pada Senin (27/4/2020) memprotes proses panjang pendaftaran menerima bantuan yang dia ajukan sebulan yang lalu. Ia menuduh pemerintah mengabaikan permohonannya.

Dia sedang dalam pemulihan di rumah sakit dan akan menerima pembayaran pada Rabu (29/4), kata seorang juru bicara kementerian keuangan pada Selasa (28/4/2020). Tapi Seninnya ia sudah bunuh diri.

Simbol Keputusasaan 

Attachak Sattayanurak, seorang dosen di Universitas Chiang Mai yang penelitian akademisnya tentang kaum miskin kota telah membawanya bertemu dengan banyak warga Thailand yang mendaftar program bantuan itu.

Ia mengatakan bahwa kasus perempuan yang mengonsumsi racun itu merupakan simbol dari masalah yang jauh lebih besar.

“Upaya bunuh diri publik mencerminkan keputusasaan absolut dari satu orang biasa yang mencoba mengirim pesan bahwa pemerintah tidak melindungi rakyat kecil,” katanya.

Seperti dikutip dari Antara, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa bahwa ia sangat menyadari perjuangan yang dihadapi warga, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

Advertisement