ASWATAMA GANDRUNG (3)

Pendita Durna kaget dan malu, karena ketemu Aswatama anak sendiri di LP Medaeng.

SINGGASANA baru itu bukan dalam bentuk kekuasaan raja, tapi sekedar Rutan ukuran 2,5 X 1 meter, sehingga tentu saja SSSSS (Sangat Sempit Selonjor Saja Susah). Di situlah sekarang Patih Udawa berada, padahal mustinya dua minggu lagi naik ring di Wisma Bethari. Lalu malam harinya tentu saja, “serangan umum” non 1 Maret 1949 tak peduli harus melanggar physical distancing. Tapi target itu kini gagal total. Patih Sengkuni jadi bermuram durja, sementara Dewi Antiwati menangis sepanjang hari bebas pulsa.

Pengacara Tumenggung Arta Pradoto sudah minta penangguhan penahanan ke Prabu Kresna, tapi ditolak oleh kepolisian Dwarawati. Prabu Duryudana juga sudah kirim WA ke Prabu Kresna, tapi bernasib sama dengan alasan raja Dwarawati tak mau intervensi hukum. Seperti apa tindakan polisi, itu wewenangnya mutlak.

“Tapi apa Kangmas Prabu tidak repot, nanti sekian bulan bahkan tahun tanpa patih. Contoh kasus, itu gubernur DKI sempat jomblo karena hampir 2 tahun tanpa Wagub.” Kata Prabu Duryudana.

“Ndak masalah, aku bisa mengerjakan semuanya kok. Kan dana Operasional Patih otomatis bisa saya kanthongi sendiri,” jawab Prabu Kresna bisik-bisik.

Sementara itu Bethari Durga tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba meluangkan waktu ke Plasa Jenar tempat tinggal Patih Sengkuni. Tentu saja orang kedua di Ngastina ini terkaget-kaget, tumben-tumbenan penguasa Pasetran Gandamayit ini mampir ke kepatihan Ngastina. Ada apakah gerangan?

“Kehormatan buat saya, karena Eyang Bethari sudi mampir ke sini. Tapi apa nggak kena razia polisi Covid-19, kan wayang juga dilarang kelayapan dan harus tinggal di rumah saja?” sambut Patih Sengkuni.

“Saya kan ahlinya ahli, intinya inti. Jadi asal sudah pakai masker, amanlah ke mana-mana,” jawab Bethari Durga yang rupanya penggemar Youtuber Pak Ndul dari Madiun.

Intinya, demi kehormatan kepatihan Plasa Jenar, seharusnya perkawinan Dewi Antiwati tak perlu dibatalkan. Bisa dilanjutkan meski dengan tokoh alternative sebagai pengganti. Kalau boleh menyarankan, Dewi Antiwati dikawinkan saja sama Aswatama. Kan kasihan dia, umur sudah bulukan tapi pernah mesakan asyiknya “mbelah duren”. Padahal menikah itu kan bagian dari Sunah Rosul.

Saran Bethari Durga sebetulnya boleh juga, tapi siapa calon suaminya kan merupakan hak prerogatip Dewi Antiwati selaku calon mempelai. Maka Dewi Antiwati pun dipanggil demi memenuhi asal demokrasi perjodohan. Patih Sengkuni sangat berharap, putrinya mau menerima Aswatama. Nggak papa  batal besanan dengan raja Dwarawati malah besanan dengan Pendita Durna. Kan lumayan punya besan paranormal, kalau mau nyantet orang bisa gratis.

“Terima kasih Eyang Bethari atas perhatiannya padaku. Tapi cinta itu tak bisa ditukar-tukar, biar sampai jadi perawan tua saya tetap menunggu bebasnya kangmas Udawa.” Jawab Dewi Antiwati tegas dan sehat, ke mana-mana Antiwati tak pernah mabok karena minum Antimo.

“Sayang lho ndhuk, jika calo suamimu nanti divonis 20 tahun penjara. Sama saja kamu jadi wastra lungsed ing sampiran (barang bagus dianggurkan). Kasihan kan, kamu jadi perawan tua nantinya malah dilelang.”

Patih Sengkuni nyengir kuda. Ya ndak lah, masa putri kepatihan kok kawin model lelang, memangnya mobil sitaan dari koruptor. Andaikan yang ngomong bukan Bethari Durga, pasti sudah kena sampluk (pukul) tuh Bethari Durga. Masak dewa kok ngomong clometan. Maka dalam hati patih Sengkuni hanya bisa memaki: diamput!

Di tempat lain Aswatama yang jadi topik pembicaraan di Plasa Jenar justru baru kembali ke Padepokan Sokalima. Ternyata pertapan semakin sepi. Di samping cantrik-cantrik diliburkan karena lockdown lokal, Pendita Durna sendiri tak di tempat. Aswatama sama sekali tak  sadar bahwa saat sowan ke Pasetran Gandamayit, sebetulnya berpapasan dengan ayah kandungnya. Maklum, semunya sibuk dengan kebutuhan masing-masing. Bapak jadi lupa anak, ana jadi lupa bapak, nanti paling ketemunya di Bukalapak.

“Bapak nggak ada di padepokan, jangan-jangan masih sibuk galang dukungan untuk mendapatkan Dewi Drupadi,” gumam Aswatama yang rupanya didengar pula oleh pembantu partimer Jaya Glempo.

“Rama begawan pergi keluar negeri, Oom. Katanya ada keperluan penting. OomAswatama kalau mau makan beli saja di Warteg,” potong sang pembantu.

“Tuh kan! Kalau bisa, pengin rasanya gue pecat dia sebagai bapak.” Gerutu Aswatama.

Tapi nggak apalah, tanpa dukungan semangat dan semat (uang) dari orangtua, Aswatama optimis bisa menggapai cita-citanya. Dia telah melancarkan dua scenario untuk keberhasilan target Dewi Antiwati. Gagal skenario pertama, tentunya sukses pakai skenario kedua. Makanya dia tenang saja melihat ulah orangtuanya, Pendita Durna.

Kembali Aswatama racut busana (mengenakan baju) mirip Patih Udawa dan langsung menuju ke Plasa Jenar untuk nggombali Dewi Antiwati. Dia yakin dengan penampilan Patih Udawa KW-2 pastilah akan diterima dengan senang hati. Siapa tahu malah diajak ke kamar, bisa kasih DP sebelum perkawinan. Asyikkkk…….

“Tangkap, tangkap, itu Udawa kabur dari tahanan,” kata seorang anggota polisi begitu melihat Patih Udawa di luaran.

“Enak saja nuduh orang, saya eh……” jawab Udawa KW-2. Ucapannya tak dilanjutkan, sebab hampir saja kelepasan ngomong siapa identitas diri yang sebenarnya.

Tapi polisi tak peduli, Udawa KW-2 pun ditangkap. Setibanya di Polres digeledah dan ditelanjangi. Ternyata dia Aswatama. Namun demikian tak juga dilepaskan, tapi malah masuk ruang isolasi. Usut punya usut, Aswatama pembobol akun milik Patih Udawa, sehingga berani menulis provokasi untuk ujaran kebencian. Maka kesalahan Aswatama jadi ganda, sudah jadi provokator, juga membobol akun milik orang lain. Itu pelanggaran berat ITE.

Patih Udawa yang kadung ditahan dibebaskan, dipulihkan nama baiknya. Sedangkan Aswatama alias Udawa KW-2 di tahan di LP Medaeng, Suralaya. Tambah unik dan aneh, di sini dia ketemu dengan Pendita Durna sang ayah. Bagaimana ceritanya? Tempo hari amprok di Pasetran Gandamayit, sekarang di LP.

“Lho, bapak kok ada di sini? Bagaimana rencana perkawinan dengan Dewi Drupadi, Pak?” Aswatama bertanya penuh sindiran menukik.

“Menikah, menikah, pala lu peang! Bapak ini baru mau berangkat ke Pancala, eh lewat wilayah Dwarawati ada cegatan Covid-19. Bapak ditangkap dengan alasan usia seperti bapak sudah rawan Corona, nggak boleh kelayapan…..” jawab Pendita Durna agak malu-malu.

Dalam hati Aswatama nyukurin, wayang sudah tua dan bau tanah kok bukan mikiran surganya Allah SWT, tapi masih mikirin surga dunia. Tuh akibatnya, dipermalukan publik dan anak sendiri. (Tamat-Ki Guna Watoncarita)

           

           

 

           

           

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement