
DKI JAKARTA sudah memasuki tahap transisi menuju tatanan normal baru, sementara pemerintah sudah menyiapkan rencana pembukaan aktivitas ekonomi di 102 kota dan kabupaten di zona hijau Covid-19.
Masalahnya, opsi membuka kembali roda-roda ekonomi yang lumpuh atau mati akibat pelaksanaan PSBB guna menghambat mata rantai penyebaran Covid-19 juga berisiko tinggi dari ancaman gelombang kedua serangan virus tersebut.
Bukan mengada-ada. Yang terjadi misalnya di Wuhan, China, asal-muasal Covid-19 yang kemudian menyebar ke seluruh jagat raya, juga di Arab Saudi dan Korea Selatan membuktikan bahwa pelonggaran protokol kesehatan bisa memicu malapetaka baru.
Kantor Berita Xinhua yang dikutip Reuters medio Mei lalu melaporkan, kota Wuhan merencanakan tes asam nukleat massal bagi 11 juta atau seluruh warganya dalam waktu sepuluh hari untuk menaksir angka kasus penyebaran baru Covid-19.
Tidak ingin kecolongan, gerak cepat otoritas setempat dilakukan terhadap kota Wuhan yang semula sudah dinyatakan sebagai titik nol penyebaran Covid-19 akhir April lalu setelah muncul lagi sejumlah kasus baru penyebaran virus tanpa gejala (OTG).
Begitu pula pemerintah Arab Saudi yang memberlakukan lagi kebijakan lockdown di kota Jeddah mulai Sabtu (6/6) guna mengantisipasi penyebaran baru Covid-19.
AFP melaporkan, pegawai kementerian, lembaga pemerintah, dan perusahaan swasta tidak diizinkan bekerja di kantor, sementara rumah makan dan kafe juga ditutup lagi, maksimal kumpulan lima orang, masjid-masjid ditutup dan jam malam diberlakukan dari pukul 15.00 sampai pukul 06.00 keesokan harinya.
| Otoritas Saudi sampai hari ini belum memutuskan jadi atau tidaknya penyelenggaraan haji 1441 H sehingga RI membatalkan pengiriman calon haji tahun ini karena jika dalam beberapa hari ke depan Saudi menyatakan membukanya, tidak cukup waktu untuk persiapan. |
Sementara itu, Korea Selatan dikabarkan menutup kembali lebih dari 200 sekolah hanya selang beberapa hari setelah mulai dibuka pada 27 Mei lalu karena munculnya sejumlah kasus Covid-19 diantara siswanya.
Hanya sehari setelah sekolah sekolah dibuka, menurut BBC, dikonfirmasi ada 79 kasus penularan baru atau yang tertinggi di negeri ginseng itu dalam dua bulan terakhir ini.
Bagaimana di Indonesia? Rendahnya disiplin warga untuk mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker, sering mencuci tangan dan menggunakan desinfektan bisa menjadi ancaman penyebaran Covid-19.
Minimnya prasarana dan sarana terutama di pasar-pasar tradisional, keterbatasan kendaraan umum sehingga penumpangnya berdesakan, ketidak konsistenan dan ketidak tegasan aparat, membuat ancaman gelombang baru Covid-19 tak bisa disepelekan.
Dituntut keseriusan aparat pemerintah dan kesadaran segenap komponen bangsa termasuk rakyat untuk mematuhi protokol kesehatan di masa transisi menuju tatanan normal baru, jika kita tidak ingin terjebak di tengah outbreak serangan Covid-19 jilid-II.




