BETARA KALA DREMBA (1)

Betari Durga diusir dari kahyangan. Dijanjikan di Pasetran Gandamayit bakal dapat bantuan DAU dan Dana Desa.

BETARA Guru atau biasa disebut SBG (Sanghyang Betara Guru) ternyata penguasa kahyangan yang hiperseks. Nafsunya mudah bangkit asalkan melihat barang mulus bebas dempul. Bagaimana tidak? Hanya melihat Dewi Anjani bertapa nyanthuka (niru katak) sampai bugil di danau Madirda, langsung orgasme. Kama atau superman-nya kemudian jatuh ke daun sinom, dan ketika dimakan Dewi Anjani lahirlah Anoman. Ini kisah skandal SBG entah yang ke berapa, tak pernah jelas.

Bahkan pada istri sendiri, Dewi Uma –aslinya Umayi– yang notabene setiap hari ketemu dan seranjang, juga mudah terbangkitkan gairahnya, meski sedang jalan-jalan cari angin berdua. Dikisahkan, sekali waktu SBG-Uma meninjau pelaksanaan PSBB di Jonggring Salaka. Jalanan di kahyangan begitu sepi, karena para dewa patuh pada anjuran BNPB untuk DI RUMAH SAJA. Tiba-tiba nafsu SBG bangkit dan minta hubungan intim saat itu juga.

“Sabar dong pah, jangan di sini malu di lihat orang. Cari hotel dulu, kenapa?” tegur Dewi Uma.

“Mana ada hotel buka, semuanya tutup! Udah di sini aje….”

Akhirnya suami istri ini main tarik-tarikan macam Benyamin S-Ida Royani dalam lagu berjudul Di sini aje (lihat Youtube). SBG mengajak di bawah pohon saja, tapi Dewi Uma menolak. Saking nafsunya tapi tak kesampaian, akhirnya korut kamanira (baca: orgasme mendadak). Karena kala itu keduanya sedang terbang di atas Samudra Hindia, dalam posisi 60 Lintang Utara – 110 Lintang Selatan dan antara 950 Bujur Timur – 1410 Bujur Timur, superman itu jatuh ke tengah laut.

“Dasar papa jorok….” Omel Dewi Uma.

“Mama juga salah sih….. menolak ajakan suami bisa dikutuk malaikat sampai pagi.” SBG membela diri sekalian nakut-nakuti.

Ternyata Dewi Uma ini memang bidadari luar biasa saktinya. Hanya ngomel begitu saja, SBG langsung kualat dengan wujud mendadak giginya bertaring seperti hewan pamakan daging (mama Lia, teman mama Dony). Celaka tiga belas, pejabat tinggi Jonggring Salaka kok bertaring seperti raksasa, apa kata dunia?

SBG juga bukan dewa sembarangan. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Dewi uma disotake (dikutuk) mendadak jadi raksasa. Bukan saja bertaring, kecantikannya mendadak hilang jadi WTB (Wayang Tanpa Bentuk) alias gembrot nyaris seperti Limbuk. Bukan itu saja, Dewi Uma diberi nama baru Betari Durga dan diusir dari kahyangan dan dipaksa tinggal di Pasetran Gandamayit, bekas perkebunan kelapa sawit di ngercapada.

“Bagaimana saya harus membangun istana, di ngercapada semua kan harus bayar pukulun,” penjelmaan Dewi Uma itu tak berani lagi menyebut SBG sebagai papa.

“Nanti setiap tahun ulun (aku) kirimi DAU (Dana Alokasi Umum) Rp 1 triliun ditambah Dana Desa Rp 750 juta perbulan. Ente nanti juga bisa cari dana CSR (modal swasta) asal kreatip macam Ahok BTP.” Nasihat SBG.

Demikianlah, Dewi Uma telah terusir di kahyangan. Dengan nama baru Betari Durga dia mulai merintis kehidupan baru di Pasetran Gandamayit. Dia punya ajudan dua wayang, yakni Jaramaya dan Jarameya. Mereka adalah eks napi Jonggring Salaka yang sudah memperoleh pembebasan bersyarat. Selnya di Nusakambangan dulu kini ditempati Habib Smut yang selalu nyinyir pada SBG.

Konflik horisontal suami istri yang berakhir dengan perceraian tapi tanpa lewat PA (PengadilanAgama) ini, telah menjadikan mereka lupa akan pangkal masalahnya dulu. Padahal, supermantozoid yang menetes ke laut itu pada akhirnya menetas menjadi bayi raksasa yang menu sehari-harinya bukan pisang atau susu Lactona dan SGM, tapi ikan-ikan termasuk benih lobster, jenis udang mahal. Buktinya, di Indonesia sampai-sampai menimbulkan pro kontra antara Mentri Kelautan Prabowo dan Susi Pujiastuti yang mantan.

“Saya menyampaikan nota protes, pukulun. Di dasar samodra kini muncul makhluk bayi raksasa ngakunya bernama Kala, putra SBG. Dia rakus banget, ikan apa saja dimakannya. Padahal ikan di lautan sudah banyak berkurang karena dicolongi nelayan Taiwan dan Vietnam. Saya Sanghyang Baruna minta keadilan.” Ujar dewa yang baru saja menghadap ke Bale Marcakunda.

“Kala yang mana? Di perwayangan banyak Kala, ada kala Marica, Kala Pracona, Kala Sekipu, dan Kala Dusana. Kala yang mana nih, jangan asal tuduh.” Jawab SBG malah gentian marah.

Kaget juga Sanghyang Baruna, ternyata di perwayangan yang bernama depan Kala ombyokan. Dia kembali pelototi HP-nya, cek data lewat Google. Ternyata yang banyak muncul justru Kalla yang mantan Wapres, banyak sekali kegiatannya dia. Ya di PMI, ya di DMI. Bahkan sama SMI ada beritanya beliaunya pernah bersalam adu sikut.

“Jadi Kala yang mana nih? Yang L-nya satu, atau L-nya dua. Kalau L-nya dua ulun nggak berani.”

“Yang L-nya sa…sa…..satu pukulun.” Jawab Sanghyang Baruna tergagap-gagap.

SBG lalu melirik sekretaris kahyangan Betara Penyarikan, yang suka dijuluki Carik Nyebelin, karena bila ngetik SK kahyangan salah melulu. Kalau tidak salah nama ya salah nomer. Dia sudah sering diolok-olok kalangan LSM, tapi santuy saja. Habisnya mau bagaimana lagi,  dilaporkan ke polisi juga percuma, nggak bakalan diproses. Soalnya pasal penghinaan pejabat kahyangan sudah dicabut oleh MK.

Betara Penyarikan segera turun ke ngercapada. Namanya juga dewa, tanpa pakai SIKM (Surat Izin Keluar Masuk) pun boleh saja, yang penting pakai masker dan jaga jarak. Betara Carik Nyebelin langsung turun ke tengah samodra, temui Kala yang ngaku-ngaku putra SBG.

“Hai, kamu ya yang bernama Kala ya? Sembarangan, berani-beraninya kamu ngaku anak SBG.” Sergah Betara Penyarikan sok wibawa.

“Bener Oom, ini akte kelahirannya gue bawa.” Jawab Kala sambil menyodorkan sebuah dokumen yang telah dilaminating rapi.

“Enak saja nyebut Oom, kapan ulun kawin sama tantemu?”

Ternyata benar, dalam dokumen yang distempel Kantor Catatan Sipil menyatakan bahwa Kala yang lahir di tengah samodra itu putra SBG raja di kahyangan Jonggring Salaka. Cuma Carik Nyebelin masih ragu, jangan-jangan ini akte kelahiran palsu, soalnya akte model beginian bisa dicarikan di perempatan Pramuka. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement