Jangan Lengah!, Covid-19 Mengintai

Jangan lengah, apalagi euforia di era transisi atau pelonggaran PSBB, dalam upaya menggerakkan roda-rodak ekonomi karena angka korban Covid-19 masih tinggi.

BELUM tiba saatnya bagi Indonesia nyantai, acuh, apalagi lengah dengan mengendorkan segala protokol kesehatan untuk menghindari paparan Covid-19, karena nyatanya jumlah korban masih tinggi.

Minggu (7/6), Indonesia masih menempati urutan korban kematian tertinggi di ASEAN dengan jumlah korban 1.851 orang dibandingkan Singapura 25 orang,  sedangkan dari jumlah kasus yakni  31.186 kasus pada urutan ke-2 setelah Singapura dengan 37.910 kasus.

Bahkan pada hari yang sama, di wilayah DKI Jakarta terjadi terjadi penambahan 163 kasus korban terpapar Covid-19 menjadi 8.033 kasus dibandingkan hari sebelumnya atau penambahan kasus harian tertinggi sejak 1 Mei lalu.

DKI Jakarta dengan 8.033 kasus dan 583 meninggal menempati urutan tertingg di Indonesia disusul Jawa Timur  dengan 1.409 kasus dan 483 meninggal, Jawa Barat 878 kasus dan 158 meninggal serta Sulawesi Selatan dengan 673 kasus dan 94 meninggal.

Yang menggembirakan, menurut Jubir pemerintah dalam penanganan Covid-19 Akhmad Yurianto, ada 10 provinsi yang kenaikan kasus positif Covid-19 kurang dari lima kasus yakni Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kep. Riau, Sulawesi Tenggara, , Sulawesi Barat, Lampung, Maluku Utara dan Papua Barat.

Sedangkan Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Riau dan Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai provinsi tanpa kasus baru pada hari yang sama.

Tapi jangan “GR” dulu, karena menurut pakar epidemiologi Laporcovid-19.org. Iqbal Elyazar (Kompas, 6/8)  nir penambahan kasus Covid-19 di kedelapan provinsi tersebut bisa jadi karena minimnya warga yang dites atau diambil specimennya.

Sejauh ini, rata-rata 11.924 specimen  diambil per hari, baik melalui rapid test molekuler mau pun dengan Polimerized Chain Reaction (PCR) atau seluruhnya sekitar 405.992 orang  atau tidak sampai 0,2 persen dari sekitar 270 juta  penduduk Indonesia.

Bandingkan misalnya dengan Korsel yang sudah melakukan tes terhadap 20 juta warganya, begitu pula China yang dalam 10 hari mengambil 11 juta specimen atau seluruh warga kota Wuhan untuk mengantisipasi gelombang kedua serangan Covid-19.

Kerumunan para komuter tanpa mengindahkan jaga jarak pada hari pertama pembukaan kembali perkantoran di DKI Jakarta, Senin (8/6) tampak di stasiun KA Bogor dan stasiun-stasiun KA komuter lainnya, begitu pula kemacetan kendaraan di sekitar kawasan Puncak, pada hari sebelumnya.

Semoga skenario terburuk terjadinya outbreakatau lonjakan  Covid-19 di masa transisi menuju tatanan normal baru saat ini karena terjadi banyak pelanggaran protokol kesehatan tidak menjadi kenyataan.

Mari patuhi protokol kesehatan, karena keselamatan kita dan juga orang lain juga tergantung kepatuhan setiap individu.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement