BEGAWAN BAJRABUWONO

Sudah bongkok, Begawan Bajrabuwono makin nunduk-nunduk pada Semar saking takutnya.

PERTAPAN Jati Tembara belakangan tambah ramai, karena cantrik-cantrik yang berguru di situ semakin banyak. Tak hanya cantrik kelas akar rumput saja, bahkan sejumlah elit politik di Ngamarta dan Ngastina ikut pula menjadi muridnya. Misalnya Bima dan Harjuna dari Pendawa, Burisrawa-Kartomarmo-Durmagati dari Ngastina. Mereka ini cantrik-cantrik istimewa, sebab rela bayar SPP lebih gede dari seharusnya. Jika cantrik biasa bayar Rp 200.000., cantrik elit mau saja dimintai Rp 2 juta sebulan. Itung-itung sebagai donatur tetap untuk yayasan.

Siapa pemilik pertapan ini? Tak lain tak bukan adalah Begawan Bajrabuwono. Dari mana asalnya tak jelas. Yang pasti, sebagaimana lazimnya begawan, dia ke mana-mana pakai jubah kebesaran, kepalanya yang gundul bulat mirip buah melon dibungkus surban, tapi bukan putih melainkan batik motif parang rusak. Karenanya jika dilihat sepintas Begawan Bajrabuwono seperti pakai blangkon metaraman.

“Baca belum kamu dimas Harjuna, Begawan Bajrabuwono guru kita viral di medsos, karena bikin chatting mesum dengan janda Dewi Premoni dari kahyangan.” Kata Bima di sebuah pagi.

“Belum kangmas, aku belum buka HP karena pulsa paketannnya habis.” Jawab harjuna jujur bahwa kantong lagi bokek.

Belakangan Begawan Bajrabuwono memang menjadi tokoh kontroversial. Dia guru spiritual tapi suka ngomong politik, mengritik dan mengecam pemerintahan Pandawa dan Ngastina. Jadi dia telah merusak nama sendiri. Seorang begawan kan seharusnya kepada cantrik-cantriknya selalu mengajak kebenaran dan mencegah kebatilan, bahasa populernya: amar makruf nahi munkar. Tapi dia selalu menyerang pemerintah. Alun-alun Tegal Kurusetra sering dijadikan ajang demo sambil mengelilingi tugu Srengga Kencana, symbol kemenangan perjuangan negara Pandawa – Ngastina.

Bagi Begawan Bajrabuwono, Jamus Kalimasada yang disakralkan Pandawa itu tidak perlu. Begitu juga kitab Jitapsara yang dikeramatkan Jonggring Salaka, nonsenslah semuanya. Tanpa Jamus Kalimasada dan kitab Jitapsara, negara Amarta-Ngastina-Wiratha-Pancala dan Dwarawati bisa adil makmur dalam kesatauan bangsa wayang sekotak asalkan mengikuti petunjuknya.

“Pendita model Begawan Bajrabuwana, jika hidup di masa pemerintahan Prabu Sentanu dulu, pasti langsung ilang.” Kata Haryo Setyaki sekali waktu.

“Kalau nggak diculik, paling mujur ya dikucilkan. Kondangan dilarang, mantu nggak boleh gedhen (besar-besaran). Tamu pun ditentukan, tak boleh undang ini dan itu.” Jawab Haryo Suman.

Lho, tumben-tumbenan Haryo Setyaki bisa akur dengan Haryo Suman patih Ngastina? Mungkin karena punya sudut pandang yang sama dalam menyikapi persoalan bangsa wayang, atau mungkin juga karena sama-sama bernama depan “haryo”. Jadi jika ada komunitas nama “haryo”, boleh juga ikut gabung semisal Bambang Haryo politisi Gerindra atau Haryo-no Suyono mantan Kepala BKBN. Kalau Hayono Isman pastilah tidak mau, karena harus nambahi R di huruf ketiga namanya. Beli R-nya di mana, memangnya ada yang jual?

Begitulah, Haryo Suman dan Haryo Setyaki sama-sama mencoba menyoroti kasus  Begawan Bajrabuwono. Sungguh disayangkan, tokoh begawan sekaliber dia kok masih bicara soal selangkangan. Chattingannya sungguh jorok, sehingga publik nyaris tak percaya bahwa kata-kata itu bisa hadir lewat jari-jemari iseng Begawan Brajabuwono. Gara-gara itu pula dia sampai dipanggil SBG (Sanghyang Betara Guru) raja kahyangan untuk klarifkasi. Jejak digitalnya semuanya sudah dikantongi penguasa Jonggring Salaka.

“Itu berita settingan, rekayasa politik untuk mengkriminalisasi begawan. Mana mungkin saya bikin chatting kelas comberan begitu,” tangkis Begawan Brajabuwono di padepokan Jati Tembara.

“Tapi semua jejak digital Anda kan sudah dikantongi SBG dan para dewa di Jonggring Salaka.” Kata para wartawan sambil menyorongkan HP masing-masing ke mulut sang begawan.

Mampus lu, kata publik di jagad perwayangan. Mereka berharap Begawan Brajabuwono segera dikandangi, karena pelanggaran ITE. Publik sudah empet melihat kelakuan kelompok Begawan Bajrabuwono, termasuk para cantriknya. Dalam setiap kesempatan mereka selalu berkampanye bahwa Jamus Kalimasada harus dihapus dari bumi Ngamarta-Ngastina.

Resi Seta, Resi Bisma, Begawan Abiyasa  bahkan Pendita Durna, juga tidak suka dengan gaya bicara Begawan Bajrabuwono. Sama-sama kaum berjubah dan punya padepokan, tapi beda aliran. Mereka menghormati Kalimasada – Jitapsara, sedangkan begawan dari Jati Tembara tersebut justru menafikannya. Tapi herannya kelompok begawan Bajrabuwono ini banyak juga pengikutnya.

“Sebaiknya kita bikin petisi ke Jonggring Salaka, minta Bajrabuwono ditindak tegas. Jangan hanya ditegur, begitu datang ke kahyangan langsung diceburkan ke Kawah Candradimuka, biar  jadi intip,” saran Begawan Abiyasa.

“Tapi SBG tak berani seperti itu, sebab pasal penghinaan Jagad Nata sudah dicabut MK, jadi paling-paling hanya dinasihati doang.” Tambah Resi Seta, putra mahkota Wirata yang enggan jadi raja menggantikan Prabu Matswapati.

Tapi harapan kaukus begawan itu, juga publik pada umumnya tak kesampaian. Jangankan Begawan Brajabuwono diceburkan ke Jonggring Salaka, kabar terakhir dia kabur meninggalkan padepokan Jati Tembara, tanpa terdeteksi oleh radar kahyangan. Jadi ke mana blionya, sama sekali gelap. Tapi anehnya, dari wilayah entah berentah tersebut sang begawan terus menyerang pemerintahan Pandawa dan Ngastina. Videonya setiap hari masuk Youtube untuk menjelek-jelekkan Prabu Puntadewa dan Prabu Duryudana.

Menyerang secara gencar Ngastina, masih bisa dimaklumi lantaran banyak pejabat korup di negeri warisan Pandu itu. Tapi membully Ngamarta ini apa bahannya, wong Prabu Puntadewa kelewat jujur. Jangankan korupsi, bininya pun jika ada yang minta, ya mangga saja kok, paling-paling Puntadewa bilang, “Aku ra papa.”

Di Bale Marcakunda kahyangan Jonggring Salaka SBG kini sedang pusing, bagaimana menjinakkan Begawan Bajrabuwono itu. Mau dicomot paksa bagaimana caranya, wong tak terdeteksi radar kahyangan. Untung Patih Betara Narada segera memberi saran jitu, bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah. Dia memang dewa yang pernah jadi pegawai Kantor Pegadaian.

“Panggil saja Lurah Semar, pasti semuanya beres. Meski dia hanya pembantu di keluarga Pandawa, tapi menang ilmu.” Kata Narada tak dilanjutkan, takut ada yang baper.

“Bener juga, biar ulun yang jadi raja kahyangan, tapi sebetulnya dia yang lebih punya kapasitas.” Jawab SBG menyadari kekurangannya.

Melalui WA, Lurah Semar segera dipanggil ke Jonggring Salaka. Biaya protokol kesehatan ditanggung SBG, sehingga Semar bisa tiba lebih cepat tiba di Bale Marcakunda. Mendengar keluhan Guru-Narada tersebut, Kyai Lurah Semar segera memeriksa radar kahyangan. Ternyata kurang berfungsi gara-gara voltase lisrik tidak full. Alasannya demi penghematan energi, takutnya rekening membengkak 10 kali lipat sebagaimana keluhan konsumen PLN ngercapada.

“Betara Kala ke mana Guru?” tanya Semar begitu memeriksa radar yang sudah normal.

“Sudah setahun lebih menghilang, Dewi Premoni jadi janda. Kasihan, dia kesepian.” Jawab SBG.

Lurah Semar hanya manggut-manggut, tapi habis itu langsung mak klepat pergi ke negeri Medayin, tempat persembunyiannya Betara Kala beberapa minggu ini. Di sana Betara Kala ternyata dijamin kehidupannya oleh raja Sarehas, pantesan tenang meski sudah overstay. Dan Begawan Brajabuwono tak lain adalah penjelmaan Betara Kala. Benar saja kan, begitu melihat Kyai Semar langsung mengkeret kayak kerupuk disiram sayur.

“Ayo pulang, kasihan istrimu kedinginan. Kau hanya mementingkan diri jadi teroris politik di ngercapada.” Ujar Semar menunjuk-nunjuk muka Begawan Brajabuwono yang sudah berubah jadi Betara Kala.

“Iya, iya Kyai Semar, saya minta maaf.” Jawab Betara Kala, menurut saja ketika ditenteng Semar dan dilempar ke Jonggring Salaka. (Ki Guna Watonsarita)

Advertisement