Marah Yang Tak Terhormat

Benar-benar tak menghormati calon wakil rakyat, masak spanduk caleg DPR dicampur sama iklan bandeng presto!

MARAH itu hak semua anak bangsa, dari presiden sampai rakyat jelata bisa melakukannya. Bagaimana jika yang marah wakil rakyat di Senayan? Ini yang luar biasa, orang Jawa bilang: nesu-nesu sing ora mutu. Padahal politisi Senayan itu sering disebut “anggota dewan yang terhormat”. Tapi ironisnya mereka sendiri tak semuanya bisa menghormati orang lain.

Sebagai mitra kerja DPR, menteri atau Dirut BUMN  setiap saat  harus siap dipanggil RDP (Rapat Dengar Pendapat) bersama DPR. Mereka ini  harus kuat mental, terutama jika berhadapan dengan wakil rakyat galak, yang kurang bisa mengontrol emosinya. Misalnya pada akhir Maret 2018, anggota DPR Arteria Dahlan dari PDIP sempat memaki Kementrian Agama sebagai bangsat. Tentu saja Menag Lukman Hakim Syaifuddin terkaget-kaget. Kalau boleh pinjam istilah Asmuni Srimulat, “Ini anggota DPR cap apa?”

Tak kalah lucu lagi adalah, viral marahnya orang DPR Senayan tapi sudah mantan! Membanggakan diri bahwa pernah jadi anggota DPR 15 tahun (3 periode), Epyardi Asda awal Mei lalu mengomeli polisi, karena mereka berani membubarkan dia saat membagikan Sembako di Sumbar. Di tengah PSBB Corona, memang diharuskan jaga jarak, tapi mantan wakil rakyat itu malah mengumpulkan banyak orang dan tak peduli protokol kesehatan.

Kini kembali terjadi beberapa hari lalu. Dalam RDP Komisi VII  bersama holding BUMN tambang, M. Nasir dari Fraksi Demokrat juga tega mengomeli Dirut PT Inalum Orias Petrus Mudak secara semena-mena. Mentang-mentang jadi “wakil rakyat yang terhormat”, dia mengomeli Orias seperti pada anaknya sendiri, “Kurang ajar Anda!”

Anggota DPR yang ternyata kakak M. Nazarudin napi LP Sukamiskin itu, tak puas atas penjelasan cara PT Inalum dalam hal mencari utang. Dalam pemahaman M.Nasir, bagaimana mungkin pinjam uang triliunan di pasar modal kok jaminanya hanya saling percaya saja. Penjelasan Orias yang tenang tanpa emosi, justru bikin panas M. Nasir.

“Anda kalau rapat, harus lengkap bahannya. Enak betul Anda di sini. Siapa yang naruh Anda di sini? Percuma naruh orang kayak gini. Ngerti? Kurang ajar Anda,” ujar M. Nasir. Awalnya dia menyebut Orias sebagai Bapak, lalu turun jadi Anda, turun lagi  jadi kau, dan paling akhir kamu. Masih bagusan orang PKS, kalau menyebut orang kedua (kamu) sebagai antum.

Sayangnya, ketika M. Nasir mulai berucap kasar, pimpinan rapat tak serta merta menegurnya, sehingga makin berhamburan kosakata macam orang tak sekolah. Tapi di luar Senayan publik menertawakan ulah M. Nasir. Kenapa sarjana hukum justru ditaruh di komisi VII yang berhubungan erat dengan ekonomi? Akhirnya malah menciptakan kemarahan yang tak bermutu.

Bagi M. Nasir pinjam uang di bank ya harus ada jaminan asset. Ini mengacu pada pengalaman para anggota DPR dan DPRD itu sendiri. Jika anggota dewan pinjam uang ke bank pakai jaminan SK pengangkatannya, maka perusahaan cari utangan ke bank juga perlu borg surat berharga yang lain. Padahal bagi perusahaan raksasa seperti PT Inalum, cari pinjaman tak harus di bank, di pasar modal juga banyak. Dan itu tak perlu pakai jaminan asset, cukup saling percaya bahwa utang itu bisa dibayar.

Tapi sudahlah, nasi sudah jadi bubur ayam campur sate ampela. Selepas RDP dengan PT Inalum M. Nasir sebaiknya belajar ilmu ekonomi lebih dalam lagi. Dan lebih penting lagi, harus belajar etika dan bagaimana mengendalikan emosi. DPR senang disebut “anggota dewan yang terhormat”, tapi ada anggotanya yang tak bisa menghormati orang. Masak Dirut PT Inalum diomeli kasar seperti terhadap anaknya sendiri. Kalau ketemu Dirut yang sama-sama galak dan temperamental, bisa jadi tuh!

Dan kalau boleh bertanya, sebetulnya lebih terhormat mana antara Dirut BUMN dengan anggota DPR itu? Untuk jadi Dirut BUMN harus punya jejak rekam memimpin perusahaan ini itu dan kemudian ditentukan lewat RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Sedangkan untuk jadi anggota dewan, harus rajin merayu rakyat lewat spanduk dan baliho dengan kata-kata klasik: pilihlah aku, sosok terpercaya dan amanah. Bahkan banyak juga yang diam-diam harus keluar uang banyak karena rakyat yang sudah tahu NPWP, alias Nomer Pira Wani Pira. (Cantrik Metaram)

Advertisement