Nelayan Gunung Kidul Paceklik Ikan

ilustrasi

GUNUNG KIDUL – Kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta terkenal dengan gersangnya, jadi sangat sulit berharap penghasilan dari bertani. Penduduk di bagian pesisir menyandarkan penghasilan dari menangkap ikan ke laut.

Namun sejak akhir Februari 2016 nelayan pantai selatan Gunung Kidul mengalami paceklik ikan. Nelayan harus pulang melaut dengan tangan hampa, meski telah menjaring sedari pagi hingga siang hari.

Menurut Petugas Tempat Pelelangan Ikan Pantai Baron, Wasiman, hari ini Rabu (23/3/2016) ada 5 perahu yang pulang dari memancing hanya menghasilkan sekitar 150 ikan, sedangkan sekitar 15 perahu yang nekat melaut dengan jaring, tidak seluruhnya memperoleh ikan.

“Hanya ada dua kapal saja yang pulang membawa ikan itupun jumlahnya sangat sedikit,” ujar Wasiman.

Wakidi salah seorang nelayan mengungkapkan, ia bersama temannya melaut pukul 05.00 WIB dan pulang pukul 10.00 WIB, namun tak seekorpun ikan diperolehnya.

Padahal untuk sekali melaut bersama rekannya, satu kapal bisa menghabiskan biaya Rp250 ribu untuk membeli bahan bakar, bekal dan makan serta  merokok. “Saya harus hutang dengan juragan,” katanya.

Seperti dikutip dari Kedaulatan Rakyat, untuk bertahan hidup nelayan mencoba beralih profesi menjadi buruh bangunan. Bahkan banyak tak jarang diantara yang banting stir menjadi pemandu wisata di sejumlah pantai.

Advertisement