JAKARTA – Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan bersinergi mewaspadai ancaman virus flu babi (G4 EA H1N1) yang dikhawatirkan berpotensi menjadi pandemi baru.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto dalam sambutan pada seminar daring menyampaikan bahwa kegiatan seminar ini untuk meningkatkan pemahaman serta kewaspadaan jajaran pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat dalam antisipasi kemungkinan masuk atau munculnya virus flu babi baru di Indonesia.
“Namun, virus Influenza A (H1N1) yang menimbulkan pandemi tahun 2009 berbeda dengan virus flu babi baru H1N1 (G4 EA H1N1) yang ditemukan oleh ilmuwan Tiongkok,” kata Yurianto yang juga Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dilansir dari Antara.
Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita yang menyebutkan bahwa virus flu babi baru (G4 EA H1N1) ini belum pernah ditemukan di Indonesia.
Informasi ini didasarkan pada hasil surveilans dan analisa genetik yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Veteriner Kementerian Pertanian, yaitu Balai Veteriner Medan dan Balai Besar Veteriner Wates.
“Hasil surveilans kami menunjukkan bahwa virus flu babi yang pernah ditemukan di Indonesia, terbukti berbeda dengan virus flu babi baru (G4 EA H1N1),” kata Ketut.
Sebagai alat untuk deteksi dini, Kementan dengan dukungan FAO dan Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah mengembangkan influenza virus monitoring (IVM) online untuk memonitor mutasi virus influenza sejak 2014.
Langkah lain yang dilakukan adalah surveilans berbasis risiko untuk flu babi serta karakterisasi virusnya.
Untuk meningkatkan kewaspadaan, Kementan juga telah menerbitkan Surat Edaran tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Galur Baru Virus Flu Babi H1N1 (G4 EA H1N1).
Surat edaran ini mengajak seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kerja sama, mewaspadai, dan menyiapkan rencana kontingensi kemungkinan masuk dan munculnya G4 EA H1N1 di Indonesia.





