
RADEN Gandamana adalah ksatria pemberani dan jujur dari negeri Pancala, sayangnya dia termasuk sumbu pendek, mudah tersinggung. Dia pernah menghajar habis Bambang Kumbayana (Durna muda) hingga cacat permanen (hidung bengkok) gara-gara tidak sopan pada Prabu Drupada. Tapi meski gampang marah dan tangan cengkiling (suka tempeleng orang), masyarakat Solo sama sekali tidak takut. Justru di sini Gandamana malah dijadikan makanan. Dicampur sama singkong dan rempah-rempah lalu digoreng jadilah gondomono yang di Yogyakarta dan Purworejo disebut lentho.
Gandamana memang punya penyakit bludreg, darah tinggi atau ludira inggil kata dhalang Ki Manteb Sudarsono. Soalnya dari muda dia suka ngopi, makan kacang atom, tongseng kambing, thengkleng, emping mlinjo, durian montong. Untuk menetralisir dia sudah makan bawang mentah, mentimun bahkan es advokad, tapi tak ada kemajuan. Padahal dia calon pewaris tahta ayahnya, Prabu Gandabayu.
“Kamu kan calon pewaris tahta, kalau bludregan begitu, nanti kebijakanmu dalam memerintah justru hanya berdasarkan emosi saja.” Tegur sang ayah mengingatkan.
“Saya sudah mencoba pakai jamu tradisionil, tapi tak ada kemajuan. Habisnya thengkleng Solo dan durian montong itu lezat rama.” Jawab Gandamana ngeyel.
Sampailah kemudian dalam mimpi dia ketemu Betara Penyarikan, Sekjen Betara Guru di kahyangan Jonggring Salaka. Wayangnya pakai jubah, celana cingkrang dan jenggotan, berperawakan sedang. Gandamana pikir dia seorang kadrun belaka, seorang penganjur khilafah tapi juga bela Pancasila.
“Oom siapa ya, kok malam-malam mencari saya?” tegur Gandamana.
“Masak antum lupa, ana kan Sekjen Jonggring Salaka.”
“ Oh, pukulun Betara Penyarikan? Habisnya pakai masker sih, jadi pangling,” jawab Gandamana dengan wajah tersipu-sipu.
Lalu Betara Penyarikan menjelaskan tentang maksud kedatangannya. Selain kabar keslametan juga menyampaikan kabar dari SBG (Sanghyang Betara Guru) soal peluang Gandamana menjadi raja Pancala. Kata SBG, karena penyakit bludreg Gandamana, tak mungkin jadi raja.Oleh karena itu, penyakit tersebut akan hilang dengan sendirinya manakala Gandamana ikhlas tidak berambisi jadi raja. Biarlah sosok lain yang mewarisi kekuasaan Prabu Gandabayu.
“Kenapa pukulun Betara Penyarikan yang menyampaikan, kok bukan SBG langsung?” Gandamana minta penjelasan.
“Saya Sekjen kahyangan, ini memang tugas saya, kapasitas ulun,” ujar Betara Penyarikan sambil menepuk dada penuh kebanggaan.
“Oo, gitu ya? Soalnya di Indonesia ada presiden justru masih ngurusi soal partai, pukulun. Dan tambah ironis, keputusan partai itu mengenai putusan bahwa putranya yang akan menjadi calon walikota dalam Pilkada.” Ujar Gandamana lagi.
“Itu lain! Antum harus tahu Sekjen kahyangan seperti ulun, beda dengan Sekjen partai di ngercapada. Maka antum pilih mana? Tak menjadi raja tapi sehat, menjadi raja tapi tinggi resiko kematiannya karena jantungan?”
Raden Gandamana manggut-manggut. Ada opsi di depan matanya, sekaligus menyangkut masa depannya. Kalau menjadi raja, ada kecenderungan penguasa akan tidak jujur pada rakyatnya, bahkan bisa korup. Jika menjadi kawula biasa tapi sehat, itu akan membantu keuangan negara. Gandamana tidak perlu merepotkan BPJS-Kes yang dewasa ini keuangannya sedang berdarah-darah.
“Kalau begitu Oom Sekjen, saya rela tak menjadi raja. Biarlah saya menjadi rakyat biasa saja sambil usaha martabak telur dan pisang keju.” Jawab Gandamana sambil menyembah takzim.
“Bagus, bagus! Berarti antum siap sukses karena diri sendiri, bukan warisan atau nama besar orangtua.” Ujar Betara Penyarikan sambil acungkan jempol.
Sepeninggal Betara Penyarikan kembali ke kahyangan naik Sputnik, Gandamana terjaga dari tidurnya. Dia lalu telpon ke Mbah Mijan penasihat spiritualnya, mempertegas tentang makna mimpi tersebut. Paranormal milenial itu menyambut mimpi daripada Sekjen Kahyangan Betara Penyarikan. Katanya, itu mimpi yang asli nan tulus, tanpa diwarnai intrik politik. Karenanya dijamin kesahihannya, jadi layak dieksekusi. Kata Mbah Mijan, Sekjen Jonggringsalaka ini memang lain dari yang lain.
Tak hanya itu, Raden Gandamana juga konsultasi pada sang ayah, tentang tawaran opsi dari Jonggring Salaka tersebut. Awalnya kaget juga Prabu Gandabayu mendengar tekad sang putra mahkota. Jika Gandamana tak mau jadi raja Pancala, apa mungkin Gandawati adik Gandamana yang jadi raja? Mana mungkin perempuan jadi raja? Pancala bukan Inggris maupun Belanda, atau kesultanan Yogyakarta, di mana anak perempuan akan dijadikan raja.
“Ya sudah kalau tekadmu memang demikian. Tapi, apa lalu saya harus cari raja lain yang bukan trah Pancala, yang penting kata M. Qodari atau Burhanudin Muhtadi, punya elektabilitas tinggi.” Ganti Prabu Gandabayu minta pertimbangan pangeran mangkubumi wurung (batal).
“Kok repot-repot amat rama. Kangmas Drupada suami Gandawati kan bisa saja jadi raja pengganti saya,” kata Raden Gandamana lagi.
Demikianlah, Prabu Gandabayu hari berikutnya segera menggelar konpres dihadiri para wartawan media cetak dan online. Didampingi Gandamana diumumkanlah niat putra mahkota untuk tidak menjadi raja, dengan alasan demi kesehatannya. Sebab kata dewa, asal Gandamana tak berambisi jadi raja Pancala akan segera sembuh penyakit bludregnya. Dan setelah itu, meski tiap hari makan tongseng dan tengkleng Solo termasuk makan duren montong, penyakit bludreg tak akan mampir lagi.
“Kalau Gandamana tak mau jadi raja, lalu suksesi pemerintahan di Pancala bagaimana. Adakah tokoh lain yang punya kapabelitas untuk itu?” tanya pers.
“Ada. Dia adalah Sucitra anak menantuku sendiri. Sebab menurut SMRC dan Indikator, elektabilitas mantuku cukup tinggi. Jadi biarlah bukan trah Pancala jadi raja.” Jawab Prabu Gandabayu.
Langsung Gandamana-Sucitra dielu-elukan rakyat. Sucitra memang memiliki jejak rekam yang bagus, LHKPN-nya mulus tanpa data mencurigakan. Sebab banyak pejabat mengisi asal usul hartanya dengan kata klasik: hibah! Dan paling dramatis, begitu Gandamana mendeklarasikan dirinya tak mau jadi raja Pancala, langsung sembuh dari penyakitnya. Tekanan darahnya normal 120/80 mmHg, tak pernah lagi pusing-pusing dan jantung berdebar-debar. (Ki Guna Watoncarita)


