
LEBANON sebelumnya relatif tenang dari aksi-aksi pemboman di “balik sekam” tersembunyi perebutan hegemoni geopolitik di kawasan Timur Tengah sampai terjadi dua ledakan dahsyat yang mengguncang Beirut, Selasa sore (4/8).
Paling tidak sejauh ini tercatat 135 orang tewas, 5.000 luka-luka ditambah ratusan lagi yang masih belum diketemukan di reruntuhan bangunan akibat meledaknya depot penyimpanan ammonium nitrate (NH4NO3) yang berlokasi di sekitar kawasan pelabuhan Beirut.
Begitu dahsyatnya ledakan gudang penyimpanan benda berbahaya itu, sehingga dilaporkan dentumannya bergema sampai 240 Km dari lokasi, hingga ke negara tetangganya, Siprus,
Ledakan berasal dari 2.750 ton ammonium nitrate menciptakan gelombang seismik setara gempa berkekuatan 3,3 magnitudo atau sekitar seperlima ledakan bom atom yang meluluh lantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada 6 Agustus 1945.
Selain korban jiwa, sekitar 300.000 warga kehilangan tempat tinggal akibat ratanya sejumlah bangunan apartemen, ratusan gedung lainya luluh-lantak di lokasi ledakan di kota berpenduduk 2,2 juta jiwa itu.
Pertanyaannya, apakah ledakan dilakukan akibat unsur kesengajaan atau sabotase, dari pihak mana pelakunya atau hanya musibah akibat kelalaian pengelola depot penyimpanan bahan pembuat pupuk atau bahan peledak untuk pertambangan itu.
Panglima Keamanan Lebanon Abbas Ibrahim mengimbau semua pihak untuk stop berspekulasi bahwa ledakan akibat ulah teroris, sebaliknya mantan agen CIA di Timteng, Robert Baer menduga, dari bola api berwarna oranye yang muncul dari ledakan , ada bahan peledak militer selain NH4NO3 yang ikut terbakar.
Lebanon yang dijuluki “Swiss di Timur”, sejak dimerdekakan Perancis pada 1943 seolah-olah tidak lepas dari gejolak dan konflik di tengah perebutan hegemoni antara pihak-pihak yang bertikai di kawasan itu.
Menjadi lokasi basis operasi bahkan di bawah kontrol PLO antara 1970 sampai 1972, sekitar separuh wilayah Lebanon pernah diduduki Israel selama beberapa bulan pada 1982 dan di bawah pengawasan Suriah (1983 – 2005).
Selain terimbas konflik antara Israel melawan Palestina dan negara-negara Arab, Lebanon juga bak pelanduk di tengah perebutan pengaruh gajah-gajah atau kekuatan regional (Iran, Arab Saudi, Suriah).
Terlibat dalam perang saudara selama 15 tahun (1975 – 1990), Lebanon diduduki Israel pada 1982 dan menjadi ajang konflik antara Israel dan kelompok Hisbullah dukungan Iran dan Suriah pada 1996 dan 2006.
Lebanon juga terimbas perang saudara di Suriah, pasca wafatnya Presiden Haffez al Assad pada tahun 2000 sampai kini. Hisbullah yang bermarkas di negeri itu berada di belakang rezim pemerintah Suriah dalam konflik melawan pemberontak.
Selain elite politik dan pimpinan nasional yang terkotak-kotak dan berada di bawah bayang-bayang kekuatan eksternal di level regional, perekonomian Lebanon juga terpuruk akibat pandemi Covid-19 .
Uluran tangan warga dunia dibutuhkan oleh pemerintah dan rakyat Lebanon yang mengalami musibah kali ini. (AP/AFP/Reuters/ns)




