MIlisi Houthi Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi Minggu lalu (13/9), memicu lonjakan harga mainyak dunia. Harga minyak Brent, Senin mencapai 107 dolar AS per barel atau naik dua persen.

Harga Minyak Tembus USD107 per Barel Pasca Serangan Houthi

HARGA minyak dunia melonjak lebih dari dua persen ke USD107 per barel pada perdagangan Senin (14/9) usai Arab Saudi diserang kelompok milisi Houthi, Yaman.

Kenaikan harga minyak, menurut laporan CNNI (149)  juga dipicu oleh serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, yang memperbesar kekhawatiran soal gangguan pasokan global.

Harga minyak mentah Brent naik USD2,90 atau sekitar 2,77 persen menjadi USD107,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak USD2,27 atau 2,27 persen ke USD102,32 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah kelompok Houthi kembali melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi. Media pemerintah Saudi pada Minggu (13/9) merilis rekaman kerusakan sejumlah rumah dan masjid yang disebut akibat serangan Houthi di Provinsi Jazan.

Houthi juga mengklaim menyerang sebuah pangkalan militer Arab Saudi di provinsi tetangga.

Di Selat Hormuz, sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil hingga memicu kebakaran dan memaksa seluruh awak dievakuasi. Informasi tersebut disampaikan badan keamanan maritim Inggris, UKMTO.

Iran juga menyatakan satu orang tewas dan empat awak kapal terluka setelah sebuah kapal dagang miliknya terkena serangan di lepas pantainya.

Pipa Minyak East-West ditutup
Kekhawatiran pasar sebelumnya telah meningkat setelah pipa minyak East-West Arab Saudi ditutup pada Jumat (11/9) akibat serangan drone yang berasal dari Irak sehingga hal tersebut dinilai mengancam hingga 4 persen pasokan minyak global.

Pipa East-West selama ini menjadi jalur penting bagi Arab Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, risiko gangguan pasokan tersebut juga meningkat di Selat Bab el-Mandeb setelah Houthi menguasai Pulau Perim pada Jumat lalu.

Jalur tersebut menjadi salah satu rute transit minyak penting yang mengangkut sekitar 4-5 persen pasokan global dalam beberapa bulan terakhir.

Harga minyak telah melonjak sekitar delapan persen sepanjang pekan lalu dan kembali menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Analis pasar IG Tony Sycamore memprediksi,  harga minyak masih berpotensi menguat apabila pembicaraan terkait Selat Hormuz tidak menghasilkan kesepakatan atau pipa East-West belum kembali beroperasi.

Namun, Menlu Oman Badr Albusaidi menyatakan pertemuan negara-negara Teluk dengan Iran yang sedianya digelar Senin untuk membahas Selat Hormuz ditunda.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu upaya diplomatik di tengah konflik yang telah berlangsung selama enam bulan antara kozlisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dan sekutunya. (CNNI/ns)

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here