Pro Kontra Kesepakatan UEA dan Israel

PM Israel Benyamin Netanyahu (kiri) dan Putera Mahkota UAE Pangeran bin Zayed al-Nahyan. UAE dan Israel resmi menjalin hubungan diplomatik sehingga memicu kemarahan kubu negara-negara Arab garis keras (anti Israel) dan Palestina.

KESEPAKATAN antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel untuk mengukuhkan hubungan diplomatik mau tidak mau menuai pro dan kontra antara kubu pendukung kedua negara.

Sebagai kompensasi kesepakatan yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC, Kamis (13/8), Israel mengentikan langkah untuk mendeklarasikan kedaulatannya atas tanah  Palestina di Tepi Barat yang didudukinya.

UAE dan Israel diam-diam sebenarnya sudah menjalin hubungan rahasia sejak tahun 2000-an, karena tentu jika dilakukan terang-terangan, bakal melukai perasaan bangsa Palestina dan kubu negara-negara  Arab garis keras melawan Israel.

Selain UAE, Mesir dan Jordania yang terlibat perang besar melawan Israel (1948 dan Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973) sudah lebih dulu membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Kesepakatan damai antara Mesir dan Israel di Camp David, AS pada 1979 dengan kompensasi pengembalian wilayah Sinai dan antara Jordania dan Israel dengan pengembalian Lembah Araba yang direbut Israel dalam Perang 1967.

Jika Mesir dan Jordania berbatasan langsung dengan Israel, UEA terpisah dalam jarak sekitar 2.580 Km dan belum pernah terlibat konflik langsung,  jadi nuansa dan visi pembangunan ekonomi lebih kental dalam pembukaan hubungan diplomatik kedua negara.

UEA yang juga dikenal sebagai salah satu negara petro dolar, dalam dalam Visi Ekonomi Abu Dhabi 2030 berupaya mengurangi ketergantungannya pada  migas dengan membangun ekonomi berbasis teknologi dan pasar uang dan mengembangkan ekosistem bisnis yang terintegrasi secara global. Disini agaknya UEA menggaet  Israel sebagai mitranya.

Sebaliknya selain kalkulasi ekonomi, Israel yang memiliki banyak musuh, kesepakatan ini tentunya sebagai capaian diplomasi yang signifikan.

PM Israel Benyamin Netanyahu menyampaikan terima kasih pada negara-negara Arab seperti Mesir, Oman dan Bahrain yang  mendukung  kesepakatan itu, juga mitra utamanya, AS.

Buah Kemenangan Diplomasi

Dubes UEA untuk AS, Youssef Al Otaiba menilai, kesepakatan itu merupakan “kemenangan” diplomasi di wilayah Teluk, sedangkan   Putra Mahkota Abu Dhabi, Pangeran Moh.bin Zayed mengatakan kesepakatan telah menghentikan aksi Israel ke depannya untuk mencaplok wilayah-wilayah Palestina.

Sedangkan Anwar Gargash, pejabat senior UEA mengatakan bahwa kesepakatan itu membantu meredakan “bom waktu” dari rencana aneksasi Israel di Tepi Barat yang diduduki yang mengancam solusi dua negara atas konflik Israel-Palestina.

Gargas yang menjabat Menteri Dalam Negeri UEA untuk urusan Luar Negeri mengatakan bahwa kesepakatan itu merupakan langkah berani namun penting untuk dilakukan di wilayah Teluk Arab.

Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi, sekutu dekat rezim UAE yang berkoalisi dalam konflik di Yaman, memuji kesepakatan UAE dan Israel sebagai upaya untuk mencapai kemakmuran dan stabilitas kawasan.

Presiden AS Donald Trump di twitternya (6/8) menilai, kesepakatan itu adalah “terobosan” guna mempromosikan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan menunjukkan bukti diplomasi dan visi yang berani pemimpin kedua negara.

Sebaliknya, Turki  mengecam kesepakatan antara UEA dan Israel tu dengan menyebutkan, sejarah dan rakyat di kawasan ini (Timur Tengah-red) tidak akan melupakan dan memaafkan “perilaku munafik” UEA yang berdamai dengan Israel.

Hal senada disampaikan mantan Wakil Menlu Iran Hossein Amirabdollahian yang juga mengecam kesepakatan itu mengusik  keamanan dan perdamaian di kawasan itu dan menegur UAE yang telah ‘berbalik arah’ dari garis perjuangan bersama Palestina.

Jubir Presiden Palestina Nabil Abu Rudeineh, seperti dikutip Middle East Monitor menyebutkan, kesepakatan itu merupakan penghianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa dan perjuangan rakyat Palestina.

Dunia terus berputar, situasi geopolitik pun berubah-ubah, “tiada kawan atau lawan sejati, yang ada hanya kepentingan abadi”, ungkap pameo lawas. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement