
JAKARTA – KBKNEWS – PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (11/6/) secara mendadak membatalkan serangan militer keras ke Iran, setelah mengeklaim ada kesepakatan besar dengan Teheran.
Pernyataan tersebut seperti dilansir AFP disampaikan Trump melalui media, Kamis (11/6) . Kabar ini langsung memicu reli di pasar saham dan menyebabkan harga minyak dunia anjlok, seiring munculnya harapan normalisasi ekspor di kawasan Teluk.
“Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini,” tulis Trump.
Politisi Partai Republik itu mengeklaim, poin-poin penting dalam kesepakatan telah disetujui oleh AS dan para sekutu regionalnya, termasuk Israel.
“Waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan,” janjinya.
Meski Trump melontarkan nada optimistis, Iran menunjukkan reaksi yang jauh lebih hati-hati.
Kantor berita Fars melaporkan, sumber yang dekat dengan tim negosiasi Teheran menyatakan bahwa sejauh ini belum ada teks yang disetujui untuk nota kesepahaman pendahuluan dengan AS.
Senada dengan hal tersebut, kantor berita Tasnim mengingatkan publik untuk tidak menelan mentah-mentah pernyataan Trump. Tasnim mencatat bahwa Trump sudah mengumumkan hal serupa 38 kali dalam dua bulan terakhir.
“Sampai Iran mengumumkan potensi kesepahaman, setiap berita dari Trump tentang masalah ini harus dianggap sama dengan pesan-pesan sebelumnya,” tulis media tersebut.
Peringatan keras untuk AS
Tak lama sebelum unggahan Trump muncul, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan keras kepada Washington.
“Strategi yang salah dan keputusan impulsif akan memperburuk keadaan, menghancurkan infrastruktur dan pasar energi, serta menciptakan rawa tak berujung yang akan membuat Anda terjebak selama bertahun-tahun,” tegas Ghalibaf.
Peringatan militer pun datang dari Jenderal Ali Abdollahi, kepala markas besar militer Iran. Ia mengancam akan memberikan respons jauh lebih keras jika AS nekat menyerang.
“Kobaran api perang, selain menciptakan ketidakamanan di kawasan, akan menjadi lebih luas dan berdampak jauh,” ujarnya.
Hingga saat ini, mediator dari Pakistan dan Qatar terus mengupayakan jalur belakang guna mengakhiri konflik perang Iran vs AS-Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026.
Namun, Islamabad mengakui sulit untuk bersikap optimis di tengah eskalasi ketegangan yang terjadi.
Sementara itu, China sebagai pembeli minyak terbesar Iran mendesak Washington-Teheran untuk segera menahan diri.
“Kami mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan operasi militer… (dan) menanggapi upaya mediasi,” ujar Jubir Kemlu China.
AS sudah lancarkan serangan
Sementara itu Menhan AS Pete Hegseth sehari sebelumnya, Rabu (106) menyatakan, pihaknya akan menyerang Iran dengan keras dan kami akan melakukannya.
Ia menyebutkan, pasukan AS menyerang “fasilitas-fasilitas penting” di Iran sebagai akibat dari kegagalan Iran mencapai kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri perang.
Sedangkan Pusat Komando AS (Centcom) ‘ lewat sebuah unggahan di akun X, pihaknya telah memulai serangan terhadap Iran.
CENTCOM menyatakan serangan dimulai pada Rabu (10/6/2026) pukul 17.15 ET atau Kamis (11/6/2026) pukul 5.15 pagi WIB. Disebutkan, serangan dimulai “terhadap sejumlah sasaran di Iran atas perintah Panglima Tertinggi.
“Mereka menyatakan bahwa serangan tersebut “merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut.
“Tak lama setelah pengumuman pihak AS akan menyerang Iran, media milik pemerintah Teheran melaporkan serangkaian ledakan baru di bagian selatan Iran, yang berdekatan dengan Selat Hormuz.
Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran melaporkan terjadinya ledakan di Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan.
Selain itu, ledakan juga dilaporkan terjadi di Kota Mina dan Sirik, serta di Pulau Qeshm.
Merespons serangan tersebut, pemimpin militer tertinggi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup sepenuhnya.
Pihak Teheran menyatakan, setiap kapal yang berusaha melintasi jalur yang sangat penting secara ekonomi tersebut akan diserang.
Situasi masih simpang siur, tidak jelas kesepakatan damai atau perang yang sedang berlangsung (AFP/kompas.com/ns)




