Elite Harus Menjaga Adab dan Etika

Putera mantan Ketum PAN Amien Rais, Mumtaz Rais (kiri) diadukan ke polisi oleh Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango setelah adu mulut karena pengunaaan ponsel di atas pesawat Garuda.

INSIDEN adu mulut antara putera mantan Ketua MPR, Amien Rais, Ahmad Mumtaz Rais dan Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango serta  awak kabin pesawat Garuda menjadi bahan gunjingan publik akhir pekan ini.

Walau cuma persoalan sepele, karena dilakukan oleh putera Amien Rais,  mantan ketua umum PAN dan tokoh reformasi, sedangkan Mumtaz adalah mantan anggota DPR yang selayaknya berperilaku arif dan juga menjadi panutan, kasus ini mengundang reaksi publik.

Berdasarkan kesaksian Nawawi yang duduk sederetan kursi dengan Mumtaz di kelas bisnis pesawat Garuda nomor penerbangan 643 rute Gorontalo- Makasar-Jakarta, Rabu (12/8), Muntaz cekcok dengan kru kabin yang melarangnya menggunakan ponsel.

Nawawi dalam keterangan terulisnya menyebutkan, Muntaz melakukan pembicaraan melalui  ponsel   saat pesawat boarding dari Gorontalo dan juga saat transit untuk mengisi bahan bakar di Makassar.

Muntaz tidak menggubris peringatan yang disampaikan melalui announcement dan juga secara baik-baik langsung beberapa kali oleh  kru pesawat karena yang dilakukannya disamping menganggu kenyamanan penumpang lain, juga membahayakan keselamatan penerbangan.

Nawawi yang mencoba mengingatkan Muntaz agar menuruti aturan penerbangan, malah disemprot dengan kata-kata kasar seperti “Kamu siapa”, “Jangan sok jadi pahlawan kesiangan” sehingga memutuskan mengadukannya ke pos polisi setibanya di Bandara Soekarno-Hatta.

Saat diwawancarai TV, Mumtaz mengaku telah meminta maaf pada Nawawi dan kru pesawat atas ulahnya itu dan menyebutkan insiden itu merupakan hikmah baginya, karena bisa dipertemukan oleh Allah dengan Nawawi walau dalam situasi dan cara yang “lain”.

Pelanggaran adab atau etika, juga dilakukan oleh orang-orang yang melakukan pelanggaran peraturan atau hukum tidak jarang terjadi di negeri ini, bahkan oleh (oknum) elite, pejabat, politisi atau aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi panutan.

Ada oknum militer yang bentrok karena ditegur oleh polisi karena pelanggaran lalu-lintas, adu fisik hanya karena saling senggol kendaraan atau politisi yang tidak terima ditegur karena melanggar protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Tentu setiap kejadian tidak bisa digeneralisasi begitu saja, namun jika para elite yang seharusnya menjadi panutan tidak menjaga adab dan etika, apalagi saat ditegur karena melanggar peraturan, tentu akan melukai hati rakyat dan bisa menciptakan preseden buruk jika dibiarkan.

Pendidikan adab dan etika agaknya perlu digalakkan lagi mulai dari rumah dan bangku sekolah, karena setiap penyimpangan, apalagi dilakukan para elite, selain menyakiti rakyat, juga merendahkan martabat bangsa di kancah pergaulan antarbangsa.

 

 

 

 

 

 

Advertisement