BUNG Karno sedari muda sudah memikirkan bangsanya, bagaimana bisa lepas dari penjajah. Karena penjajahan menafikan kebebasan, sengaja rakyat dibikin terkungkung dalam kepicikan, agar terus menjadi bangsa tempe. Bung Karno mulai “berontak” hanya karena pribumi tidak boleh tampil keren sebagaimana orang Belanda. Bayangkan, ketika menikah dengan Utari Pak Penghulu melarang Sukarno muda pantalonan seperti Belanda. Mulailah Bung Karno “ngamuk” sampai Pak Penghulu menyerah.
Bung Karno memiliki kesadaran kebangsaan sejak muda. Maka baik dalam tulisan maupun pidatonya selalu menyemangati anak muda. Bung Karno pernah mengatakan, ”Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Lain hari mengatakan pula, “Capailah bintang-bintang di langit.” Paling fenomenal ketika Bung Karno mengatakan, “Berikan aku sepuluh pemuda, akan aku goncang dunia!”
Mungkin terobsesi kata-kata Bung Karno, Giring eks band Niji pun mendadak mau menggantungkan cita-citanya setinggi langit, ingin menggoncang dunia dengan memberanikan diri sebagai Capres 2024. Bagaimana nggak goncang itu dunia, hanya modal pengalaman jadi penyanyi mau mengatur 267 juta rakyat Indonesia.
Negara demokrasi memang tak melarang siapapun Nyapres. Tak peduli orang biasa pidak pedarakan (orang kecil) sekalipun, boleh bermimpi tinggal di Istana Negara. Bukankah ada dongeng “Jaka Kendil” yang mengisahkan orang kecil buruk rupa, karena punya kesaktian pada akhirnya bisa mengawini putri raja bahkan pada akhirnya diangkat menjadi raja menggantikan tahta mertua.
Tapi pepatah lama mengingatkan, bayang-bayang jangan sampai melebihi panjang badan. Mewujudkan cita-cita dan semangat Bung Karno tidak mudah. Ketika Bung Karno bilang capailah bintang-bintang di langit, Fadli Zon-Fahri Hamnzah hanya mampu mencapai bintang Mahaputra Nararya. Lainnya, paling banyak pakai balsem Bintang Tujuh penolak masuk angin.
Nah Giring Niji atau Giring Ganesha yang sekarang jadi Plt Ketum PSI, mendadak kepengin Nyapres di 2024. Alasannya, di samping dapat dukungan keluarga, tahun 2024 nanti 50 persen pemilih adalah para generasi muda. Giring ingin menggiring mereka jadi pemilihnya.
Penyanyi atau bekas penyanyi, bolah-boleh saja mau Nyapres, karena dalam negara demokrasi setiap warga negara punya hak politik untuk Nyapres. Tapi kan mau nyapres itu kan tidak hanya modal semangat dan dukungan keluarga, tapi juga asset kemampuan dan benar-benar mampu secara keuangan.
Meski Indonesia negara demokrasi, memilih pemimpin bukan sekedar popularitas. Bibit bobot bebed juga menjadi acuan, mirip memilih calon mantu. Meski prestasi minim, jika anak presiden atau mantan, pasti banyak pemilihnya. Sebab mereka menduga bahwa “buah tak jauh dari pohon”-nya. Padahal tak semuany benar.
Selama ini yang namanya artis, ikut berlaga dalam Pilkada hanya didapuk sebagai orang kedua (wakil), karena fungsinya sekedar pendulang suara. Tapi ketika maju sendiri, sebagai Cagub seperti Dede Yusuf, Dedy Mizwar, Rano Karno, tidak laku. Karena poltik dan birokrasi bukan bidangnya.
Maka mantan pejabat macam Rano Karno dan Dedy Mizwar kembali ke habitat lamanya di dunia sinetron, penggemarnya menyambut gembira. Dan meski sudah vacuum beberapa lama, ketika bikin sinetron keduanya tetap bernas. Karena itu memang dunianya yang digeluti sejak lama.
Kita masih ingat Rhoma Irama yang ingin Nyapres di 2014. Begitu “ditest” oleh Najwa Sihab tentang wawasan kebangsaannya, jawabnya pating pecotot. Bagaimana dengan Giring Niji, siapkah kiranya menjalani “uji nyali” di depan Najwa Sihab?
Pepatah lama mengatakan, bayang-bayang hendaknya sepanjang badan. Giring Niji yang modal penyanyi dan eks lagi, kalau ada pendukungnya mulailah dari tingkat Walikota atau Bupati, jangan langsung melompat tingkat presiden. Nanti bisa langsung terjerambab, jika tak mau disebut seperti pungguk merindukan bulan. (Cantrik Metaram)





