
CHINA dengan kekuatan militer raksasa yang dimilikinya tidak henti-henti menggelar latihan perang-perangan di sepanjang pantai di Selat Taiwan yang diklaim sebagai wilayah kedaulatannya.
Kejadian terakhir seperti dikutip Reuters, pesawat tempur Sukhoi SU-30 AU China dan pesawat angkut Y-8 dua hari berturut-turut sejak Kamis (10/9) memasuki zona identifikasi udara di barat laut Taiwan.
Taiwan sendiri telah berulang kali mengeluhkan ulah China tersebut yang dianggap melanggar tatacara penggunaan kekuatan militer untuk mengancam kedaulatannya dalam beberapa bulan terakhir ini di tengah pandemi global Covid-19.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah mengingatkan China terkait kemungkinan eskalasi risiko konflik yang tak disengaja di Laut China Selatan yang disengketakan dan di sekitar Taiwan, sehingga berharap agar komunikasi terus dijalin demi menghindari kesalah pahaman.
Sedangkan Kementerian Pertahanan Taiwan dalam pernyataannya juga mendesak China untuk berhenti “merusak (suasana) kedamaian regional” yang dapat meningkatkan ketegangan lebih lanjut di Selat Taiwan yang sensitif.
Pekan lalu pesawat tempur mutakhir Sukhoi SU-35 buatan Uni Soviet milik China dilaporkan jatuh saat latihan di atas di wilayah Guilin, Prov. Guanxi, China sehingga memicu spekulasi bahwa pesawat naas itu ditembak Taiwan walau pun hal itu segera dibantah.
Ancaman demi ancaman melalui pelanggaran udara dan manuver militer secara intensif dilakukan China yang bertekad merebut kembali Taiwan, sebaliknya Taiwan juga terus mengasah kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Kekuatan militer China yang brada di ranking ke-3 dunia setelah AS dan Rusia, dibandingkan Taiwan di ranking ke-22 tentu saja bagai langit dan bumi.
Belanja militer China pada 2020 sebesar 224 milyar dollar AS (setara Rp3. 228 triliun atau setara 1,5 kali APBN militer RI), memiliki tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk dua kapal induk, 76 kapal selam, AD memiliki 13.500 tank.
Ambisi China
Ambisi China menguasai dunia, tampak nyata, mulai dari membeli persenjataan ex-Uni Soviet, meniru atau memperoleh lisensi, lalu membuat sendiri, bahkan kini menjadi pengekspor alutsista utama.
Selain membangun kekuatan nuklirnya, China ikut bersaing dalam pembuatan alutsista konvensional, misalnya pesawat tempur generasi ke-5 “elang hitam” Chengdu J-20 berkemampuan siluman dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.
Sebaliknya, Taiwan dengan angran militer 12 milyar dollar AS (sekitar Rp176,8 triliun) walau jauh lebih kecil, dengan personil 300 ribu orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena terlatih dan memiliki alutsista canggih.
AU Taiwan didukung lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur F-16 C/D yang kemampuannya akan ditingkatkan menjadi F-16 Viper, Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 produk lokal yang keandalannya setara F-16.
Sadar tidak sebanding jika berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan raksasa China, pasukan Taiwan menerapkan taktik asimetris untuk bertahan selama mungkin.
Hal itu tampak dalam latihan perang yang digelar di Provinsi Changhua, Selasa lalu (28/5) dimana jalan raya dengan cepat berubah fungsi menjadi pangkalan udara dan landas pacu pesawat-pesawat tempur.
Hal itu bisa dipahami, karena jika Taiwan diserang China, tentu AS sebagai pelindung utama, juga sekutu-sekutunya lainnya, tentu tidak bakal tinggal diam.
Perang antara kedua negara serumpun itu, tentu bakal menyeret banyak pihak lainnya sehingga bakal menimbulkan kerugian manusia dan benda tak terhingga, padahal dunia perlu bersatu melawan musuh bersama, virus Corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. (AP/AFP/Reuters/ns)




