Mengulik Fenomena Dayung Patah, Antara Mitos dan Kelalaian

JAKARTA – Tim DMC Dompet Dhuafa membagi pengalaman ketika terjun menolong korban tenggelam terutama anak-anak, yang seringkali disebut sebagai fenomena Dayung Patah.

Adhe inddrasaputra, tim respon DMC, mengatakan dalam talkshow online “Fenomena Dayung Patah Antara Mitos dan Kelalaian” dalam youtube ZTV.id,  pertama ketika mendapat informasi ada korban tenggelam, tim DMC langsung koordinasi di grup  relawan, kemudian menyiapkan daftar nama dan alat yang digunakan, dan otomatis jarak satu dua jam siap berangkat.

“Forum komunikasi potesi pencarian basarnas dan organisasi yang beregrak di bidang itu, setiap kejadian, lebih dari lima lembaga atau organisasi yang ikut, dan dari TKP langsung menyebar ke semua titik yang dicurigai. Internal bawa alat dua atau tiga perahu dan dua perahu mesin dan personil delapan belas sampai 20, jika lebih dari 24 jam maka tim akan dirolling,” jelasnya.

Menurutnya, selama pengalaman di kasus dayung patah intinya kerja sama tim, semua NGO atau komunitas semua dibawah koordinasi kantor SAR, sebelum melakukan respon, selalu mengadakan koordinasi  dan mencari sumber info valid dari keluarga, saksi mata dan tempat kejadian.

Menariknya, tim DMC juga tak menampik dengan adanya mitos berbau klenik, dimana di suatu wilayah kerap ada yang mempercayai jika tenggelamnya seseorang atau suatu kelompok diakibatkan hal-hal yang diluar logika.

“Sepengalaman saya di TKP kalau murni kecelakaan 1×24 jam bisa ketemu, jika klenik minimal 2 sampai 3×24 jam baru ketemu,” paparnya.

Jika sudah ddipercaya bukan murni kecelakaan, maka akan ada ritual tambahan dari masyarakat sekitar, dan untuk menghormati tradisi tim di lapangan pun mengikutinya.

“Kita hormati, agar tidak ada saling gesekan dengan warga lokal, itu sudah kearifan lokal warga setempat, prosedur kita tetap menjaga,” ujarnya lagi.

Namun, terlepas dari mitos yang ada, dia mengakui jika  paling banyak kejadian kecelakaan terjadi karena kelalaian.

Misalnya kejadian di Sungai banjir kanal barat atau Anak Sungai Ciliwung bulan ini, dimana seorang pemulung tinggal di rumah kardus di pinggiran sungai, dan saat tidur anaknya menggeliding jatuh ke Sungai, dan tergolong murni kelalaian.

Advertisement