Bara Api Konflik China vs India

Walaupun pemimpin India dam China dalam pernyatannya terus menyerukan peredaan ketegangan, kedua kekuatan nuklir tersebut terus menumpuk kekuatan perangnya di wilayah sengketa Lembah Galwan di kaki Himalaya.

DI LEVEL retorika, pemimpin China dan India sepakat untuk meredakan ketegangan di wilayah sengketa yang pecah pada medio Juni lalu, namun di lapangan keduanya terus menggelar pasukan dan kekuatan militernya.

Terlibat perang terbuka yang menelan ribuan korban kedua belah pihak pada 1962, satuan penjaga perbatasan China dan India terlibat tawuran di wilayah Garis Pengawasan Aktual (LAC) dekat Danau Pangong Tso 15 Juni lalu.

India mengklaim, China menduduki wilayah seluas 38.000 Km2 di daerah Ladakh, kaki Himalaya yang berada di dalam teritorialnya, sebaliknya China menuding, justeru  India lah yang menduduki wilayah di perbatasan miliknya.

Pasca insiden yang menewaskan 20 anggota tentara India akibat lemparan batu dan sabetan senjata tajam pasukan China, pemimpin kedua negara atas desakan banyak pihak, dari pernyataan – pernyataan mereka, berupaya meredam ketegangan di wilayah itu.

Namun India yang bisa dibilang terlambat menyiapkan kekuatannya jika sewaktu-waktu pecah perang di kawasan sengketa tersebut, mulai membangun prasarana dan sarana militer serta logistik yang diperlukan.

Menhan India Ratnath Singh (18/9) mengaku, negaranya menaikkan anggaran pembangunan jalan, pangkalan udara dan ragam infrastruktur guna mengimbangi apa yang dilakukan China dan demi melindungi kedaulatan wilayahnya.

Seperti disampaikan Direktur Riset Institut Strategi Nasional Unversitas Qian Feng pada harian the Global Times, terkait infrastruktur di wilayah sengketa, India kalah jauh dari China.

Dibandingkan China yang sudah membangun jalur KA dan sejumlah jalan raya menuju perbatasan  sehingga dalam beberapa jam saja bisa menempatkan ribuan tentara dan persenjataannya, India harus mengirimkannya melalui udara.

Kekuatan Berimbang

Sementara Institut Perdamaian dan Riset Internasional Stockholm (SIPRI) mencatat, anggaran militer China 2020 mencapai  261 milyar dollar AS (sekitar Rp3.915 triliun) atau ke-2 terbesar setelah AS (732 milyar dollar atau Rp10.980  triliun), sementara India pada posisi ke-4 sebesar 71 milyar dollar (sekitar Rp1.065 triliun).

Arsenal nuklir China paling tidak  memiliki 50-an rudal balistik antarbenua (ICBM)  seri Dong-Feng  (a.l. DF-5 dan DF-41) berjangkauan 15.000 Km dan kecepatan max. sampai 22 Mach (26.950 Km/jam) serta  sekitar  1.200 rudal jarak menengah.

India dilaporkan memiliki 130 sampai 140 rudal nuklir, a.l. rudal balistik antarbenua (ICBM) Agni-VI yang masing-masing memiliki 10 hulu ledak berjangkauan 12.000 Km dan sedang mengembangkan ICBM Surya yang berdaya jangkau lebih jauh.

AU  China mengoperasikan sekitar  4.200 pesawat berbagai jenis, sebagian copypaste MiG-21,MiG29, Sukhoi SU-27 dan SU-30 (semua eks- Uni Soviet atau Rusia kini) serta lebih 1.000 helikopter serta membuat sendiri pesawat tempur seperti siluman J-21 Chengdu dan pengebom JH-7.

Sedangkan AU India memiliki sekitar 2.200 pesawat, sebagian eks-Rusia dan Uni Soviet (MiG-21, MiG-29, SU-30) dan Mirage-2000 eks-Perancis  serta berbagai pesawat pendukung lainnya termasuk buatan lokal, Tejas serta 725 helikopter.

AD China a.l. mengoperasikan 7.600 tank dan 6.000-an panser, 2.650 kendaraan peluncur roket,  10.000 pucuk artileri, sementara India hanya memiliki 3.500 tank, 5.600 panser dan 266 peluncur roket.

Di Laut, China juga lebih berjaya dengan sekitar 770 kapal berbagai jenis seperti dua kapal induk, 36 destroyer, 52 fregat, 50 korvet, 76 kapal selam dan 285 aneka jenis kapal pendukung, sebaliknya India diperkuat satu kapal induk, 14 destroyer, 13 fregat dan 19 korvet, 16 kapal selam dan 106 kapal patroli pantai.

AB  China didukung sektar 2,3 juta personil, belum termasuk jutaan pasukan cadangan, sementara India 2,1 juta personil dan ditambah pasukan cadangan.

Insiden yang terjadi belakangan ini agaknya tidak bakal memicu perang terbuka karena berisiko bagi keduanya, namun penumpukan kekuatan perlu dilakukan sebagai aksi penggentar (deterrent) bagi lawan.

“Si avis pacem, para bellum”, siapa yang ingin damai, harus siap perang”, bunyi pameo lawas. (AP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement