
PENGORBANAN tenaga kesehatan yang gugur sebagai martir terciderai oleh isu adanya praktek nakal RS yang memaksakan status Covid-19 pada pasien yang meninggal demi mendapatkan kompensasi biaya pelayanannya dari pemerintah.
Sampai 3 Oktober, tercatat 130 dokter, (67 dokter umum, empat diantaranya guru besar dan 61 dokter sepesialis, empat diantaranya guru besar) serta dua orang residen berasal dari 18 provinsi dan 61 kabupaten atau kota.
Selain itu, ada pula sembilan dokter gigi yang meninggal (enam dokter gigi umum dan tiga spesialis) serta 92 perawat yang meninggal terpapar Covid-19.
Tentu saja kematian para nakes di tengah penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang sedang menuju kurva puncaknya bisa mengancam upaya penanganan pandemi global penyakit tersebut.
Selain kelelahan akibat membludaknya pasien Covid-19 yang ditangani, kematian para nakes juga terjadi karena minimnya Alat Pelindung Diri (APD) atau terpapar di luar RS akibat ketidak patuhan pihak lain terhadap protokol kesehatan.
Sampai Minggu (4/10) tercatat jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 303.498 orang atau terjadi peningkatan 3.992 orang dibandingkan hari sebelumnya, sementaraa yang meninggal bertambah 91 orang menjadi 11.151 orang.
Pertambahan kasus harian tersebut didapat dari hasil tes reaksi rantai polimerase (PCR) terhadap 21.641 orang, sehingga “positivity rate” mencapai 14,5 persen, jauh di atas lima persen yang ditetapkan sebagai ambang batas oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Ulah sebagian pasien atau keluarga pasien juga kadang-kadang mempersulit para nakes menjalankan tugas, misalnya dengan mengambil paksa jenasah keluarga mereka dari RS karena tidak ingin ditangani sesuai protokol kesehatan.
Pengelola Rumah Sakit Tak Jujur
Sementara isu yang mengusik ketenangan muncul akibat pernyataan Kepala Staf Kantor Kepresidenan Moeldoko yang menyebutkan, ada pihak rumah sakit tidak jujur yang memanipulasi pasien Covid-19 yang meninggal.
“Jangan sembarangan memvonis pasien meninggal akibat Covid-19. Ini harus diluruskan, “ ujar Moeldoko di Semarang, Kamis lalu (1/10) seraya menambahkan, pemerintah akan memverifikasi setiap kematian akibat wabah penyakit itu.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Panowo yang saat itu bersama Moeldoko sontak juga ikut diserang netizen, karena ia mengamininya dengan menyatakan bahwa hal seperti itu juga pernah terjadi di wilayahnya.
“Ada pasien yang divonis Covid-19, setelah meninggal ia terbukti negatif. Kan kasihan. Hal-hal semacam ini perlu diperbaiki, “ tutur Ganjar.
Sebaliknya Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dalam pernyatannya menilai, informasi tanpa berdasar fakta atau bukti dapat membangun persepsi keliru dan menggiring opini seolah-olah pihak RS berperilaku tak sesuai ketentuan atau berbuat curang (fraud).
“Statement bahwa RS mengcovidkan pasien dapat menciptakan misinformasi serta membuat stigma yang menurunkan kepercayaan publik sehingga merugikan pelayanan RS dalam penanganan Covid-19, “ kata Ketua PERSI, Kuntjoro Adi Purjanto dalam pernyataan tertulisnya.
Namun ia juga tidak menolak, pengelola RS yang memanipulasi data pasien yang meninggal dikenakan sanksi, jika secara sah terbukti melakukannya.
Sementara Ketua Ikatan Dokter Sepesialis Paru Indonesia Cabang Jakarta dr. Erlina Burhan menyebutkan, dokter tak akan menulis diagnosis Covid-19 jika tidak ada buktinya. “Apa untungnya dan apa?, “ ujarnya balik bertanya.
Menurut dr. Erlina, selama ini banyak anggota masyarakat yang tidak memahami gejala Covid-19 yang berbeda-beda, tergantung organ tubuh yang diserangnya, pembuluh darah, pankreas, otak atau lainnya.
“Ada keluarga pasien yang marah-marah, ngotot menyebutkan keluarganya terkena stroke, bukan Covid-19, padahal, korban selain stroke juga terpapar Covid-19, “ tuturnya.
Sedangkan dokter spesialis jantung, Berliana Idris dalam cuitannya menilai, tudingan terhadap RS mengcovidkan pasien demi mendapat anggaran, sangat berbahaya, apalagi dilontarkan oleh pejabat negara.
Investigasi terhadap pengelola RS yang nakal perlu, tetapi menggebyah uyah atau menjeneralisasikan mereka yang sudah menunjukkan dedikasi dan ketulusannya berjuang menangani Covid-19 selain keliru, juga bisa meruntuhkan moral para nakes.
, buat apa covidkan pasien. Selama ini masy tak tahu gejala covid yg berbedasesuai organ yg diserang. Bisa serang pembuluh darah, ota dan pancreas.
Kadang gejala stroke keluarga marah, padahala infeksi covid juga, ketua Persatuan Dr Paruindonesia Jakarta.
sembilan dokter gigi (enam dokter gigi umum dan tiga sepesialis) dan 92 perawat meninggal akibat Covid-19.




