Amil zakat bukanlah malaikat. Bukan pula Nabi atau orang soleh yang suci. Walau begitu, ada sifat seorang daí dalam diri seorang Amil, yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sifat ini sesungguhnya bagian langsung seorang amil yang juga mukmin sejati. Selain sebagai duát, yang menyebarkan ajaran zakat dan kebaikan infak dan sedekah, amil juga harus amanah dan pumya kekayaan jiwa bak seorang ulama. Setidaknya seorang manusia yang menjadi daí bagi lingkungan terdekatnya.
Dari sisi ilmu, bisa jadi amil belumlah cukup dianggap seorang daí. Pun dari amal dan aktivitas dakwah yang dilakukan, mungkin pula tak memadai. Namun, seorang amil tetap harus berkaca diri pada sosok-sosok ikhlas yang ada pada diri para ulama, daí dan orang-orang soleh. Ini semua karena tak lain, seorang amil adalah sosok biasa yang ingin jadi orang baik dan mampu memberikan kebaikan pada manusia lainnya. Sosok amil, tetap harus melatih dirinya untuk punya kekayaan jiwa.
Tulisan sederhana kali ini, bermaksud mendeskripsikan perasaan amil ditengah dinamika yang terjadi. Dinamika kehidupan sosial, ekonomi, serta interaksi dirinya dengan gerakan zakat yang amat dinamis. Dinamika ini juga meliputi situasi lahir, batin dan segenap perasaan seorang amil ketika berada dalam kehidupan-nya dalam melayani mustahik dan membantu muzaki menunaikan zakatnya.
Dakwah Para Amil
Seorang amil juga sekaligus daí. Ada kewajiban dalam dirinya untuk berbuat baik dan bersama-sama orang baik lainnya membantu banyak orang untuk bisa berislam dan menjadi mukmin yang baik. Inilah esensi dakwah dalam Islam. Dan terkait hal ini, menurut Quraish Shihab : “dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi maupun masyarakat”.
Dari pengertian dakwah tadi, yang intinya agar kita memberikan arah perubahan kebaikan bagi masyarakat, kita juga mendorong masyarakat agar bisa bergerak arahnya, dari pengaruh kebodohan menuju arah kemajuan dan kecerdasan. Dari situasi kemiskinan yang penuh penderitaan ke arah kemakmuran. Dari keterbelakangan ke arah kemajuan dan kegemilangan yang penuh kehormatan dan spirit kemanusiaan.
Amil yang juga daí bukan hanya mengelola zakat dengan baik dan benar, namun juga harus mampu menyampaikam pesan atau menyebarluaskan ajaran zakat kepada masyarakat luas. Zakat sendiri bukan soal ibadah semata. Ada nuansa ekonomi dan solidaritas sosial yang kuat di dalamnya. Dalam zakat juga ada spirit keadilan sosial dan kemanusiaan global tanpa batas. Dengan posisi amil yang juga daí, maka seorang amil zakat dalam melakukan aktivitas kehidupannya sesungguhnya bernilai dakwah di sisi Allah SWT.
Karena begitu seoorang amil beraktivitas dalam mengelola zakat, ia saat yang sama sebenarnya sedang berdakwah secara tak langsung. Mungkin tidak ada ceramah, ajakan atau tausiyah, namun seluruh ekspresi diri seorang amil ketika bekerja hakikatnya tak terpisahkan dari misinya sebagai seorang muslim taat yang sedang menjalankan perintah “ballighu ‘anni walau ayat”. Ayat di sini maknanya bisa sangat luas, tak sekedar tekstual semata. Dengan ayat-ayat praktis dalam beraktivitas dalam mengelola zakat, seorang amil bisa jadi justru saat bersamaan sejatinya ia sedang menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang ada dalam Islam. Pesan-pesan ini bisa mulai dari yang sederhana sampai yang maknanya serius dan penuh kebaikan untuk keluarga dan orang-orang terdekat sang amil. Atau bisa pula untuk mustahik dan muzaki yang ada di lingkungan sebuah Lembaga zakat.
Menjadi daí memang idealnya memiliki pemahaman yang dalam akan ilmu dan pemaknaan agama. Namun di situasi global saat ini, Islam justru membutuhkan siapapun yang punya kemampuan dan kemauan tinggi untuk mendakwahkan Islam bagi dunia. Dunia yang sudah sedemikian terkoneksi secara langsung, membutuhkan penyadaran kuat dari segala penjuru agar semua orang sadar, bahwa hidup kita sesungguhnya amat terbatas. Dalam durasi kehidupan yang tak lama, seseorang harus mampu memaksimalkan peran-nya untuk bekal di akhirat setelah ia mati.
Nah, amil yang berkarakter daí diharapkan punya akses kuat pada muzaki dan mustahik. Dengan posisi ini, seorang amil yang punya visi seorang dai, memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan serta didukung keluasan dan kedalaman ilmu dalam pemberdayaan masyarakat tak akan kesulitan mewujudkan aktivitas yang selaras dengan dakwah. Hal ini ditambah, amil juga relatif memiliki citra baik yang positif. Amil di mata masyarakat masih dipandang memiliki keluhuran akhlak, kredibilitas, kapabilitas serta akseptabilitas. Dalam situasi tadi, seorang amil yang juga berkarakter da’i akan mendapatkan keberhasilan yang gemilang dalam menjalankan tugas dakwah layaknya para daí sejati. Selanjutnya, lewat aktivitas amil juga, bisa saja dipersiapkan atau dirancang kegiatan yang lebih terpadu untuk mendorong pemberdayaan umat. Dari sana, semoga lahir aktivitas pemberdayaan ekonomi, sosial budaya, serta pendidikan dan dakwah Islam.
Kekayaan Jiwa adalah Anugerah
Dalam sebuah kesempatan, Almarhum Buya Hamka berkata : “Berbahagialah kita menjadi orang Islam yang dapat merasakan “kekayaan jiwa”. Bagi seorang amil ungkapan ini sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Kekayaan jiwa tak terbentuk tiba-tiba. Ia butuh pemaknaan dan proses panjang untuk mencapainya. Ini bukan soal nasib semata, lantas menyerah dan berhenti berusaha. Kekayaan jiwa adalah persoalan penerimaan diri atas takdir dan ketetapan-Nya bersamaan dengan kesyukuran atas semua yang telah di ikhtiarkan maksimal.
Kekayaan jiwa tak mudah dibentuk dalam dada seorang manusia. Hal ini karena kekayaan jiwa, bukan soal angka dan harga. Banyak sesungguhnya orang yang hartanya cukup, namun ia kering jiwanya. Hidupnya penuh kecemasan dan taky akin akan masa depan diri dan keluarganya. Betapa banyak pula di antara kita yang merasa tidak cukup dengan rezeki yang diperoleh. Jumlahnya bisa jadi banyak, namun jiwanya selalu merasa tak puas, apalagi cukup. Sebaliknya, sebagian orang justru mampu merasakan kecukupan dalam kehidupannya. Ini sejatinya bukan soal matematika. Bukan soal tambah, bagi dan kurang. Kekayaan jiwa lebih soal pada ternentuknya rasa tercukupi atas kebutuhan yang ada, walaupun rezeki yang diperoleh bisa jadi tak banyak. Inilah pertanda kekayaan jiwa yang diantara pertandanya adalah munculnya keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Sosok amil yang daí, haruslah juga memiliki kekayaan jiwa. Guncangan apapun dalam kehidupannya, tak seharusnya membuat ia rapuh dan tergelincir pada keputusasaan. Ia harus menunjukan pada sekitarnya bahwa ia memang perlu dunia, namun secukupnya dan tak rakus terhadapnya. Ia membutuhkan biaya untuk hidup, namun selalu merasa cukup dengan sesuatu yang Allah berikan dan merasa rela atas bagiannya. Inilah sosok amil sejati. Kaya jiwa-nya dan spirit hidupnya bak seorang daí. Dengan situasi tadi, seorang amil akan selalu mampu menjaga diri dari berbagai tekanan dan rintangan apapun, baik dalam soal kehidupan-nya maupun dalam soal tekanan eksternal yang menghambat aktivitasnya sebagai seorang amil sejati. Amil yang ustadz dan jiwanya kaya.
Mari terus kita jaga diri kita, semoga senantiasa merasa cukup dengan apa yang mampu diperoleh secara halal. Walau tak mudah, pastikan kekayaan jiwa kita tetap lebih utama dari apapun yang ada.
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al A’raf (7) : 96)
#Ditulis menjelang rembang petang di sisi selatan Kota Semarang, 5 Oktober 2020.
17:47





