ANAK orang besar tak menjamin jadi orang besar pula. Begitu pula nasib Aswatama putra Pendita Durna dari pertapan Sokalima. Meski bapaknya top sebagai nujum Ngastina atau penasihat spiritual Prabu Duryudana, tapi nasibnya tak begitu jelas. Rumah masih nebeng orangtua, bini belum punya menjelang usia kepala 5. Bisa kerja jadi staf khusus Istana Gajahoya juga karena disesel-seselke oleh Prabu Jokopit nama pendek Prabu Jokopitana.
Bukannya Pendita Durna tak pernah memikirkan nasib sang anak, tapi Aswatama sendiri tak laku di pasaran. Tak ada cewek di seputar Ngastina yang mau diambil menantu oleh Pendita Durna. Tampang Aswatama sih lumayan, tapi karena Pendita Durna sendiri menduda, takut nantinya malah jadi “sasaran” sang mertua. Soalnya jejak rekam Pendita Durna demikian buruk, berulangkali hendak mengawini putri-putri cantik tapi gagal mulu. Dari Dewi Rukmini, Setyaboma, sampai Srikandi, semuanya batal. Bahkan seekor kuda pun pernah “ditimpa”-nya. Karenanya Pendita Durna dapat stigma, kakek-kakek nggragas.
“Jika kamu kawin sama Aswatama, nanti perguruan Sokalima Beragama akan diwariskan padanya. Kamu ikut enak, tinggal mamah karo mlumah nduk.” Kata orangtua yang anaknya pernah ditakokke Aswatama.
“Ogah. Saya takut, pas Aswatama tugas di Stafsus Istana, aku di rumah sendirian, bisa digrumut Pendita Durna yang terkenal celamitan. Jaman sekarang banyak kasus seperti itu,” jawab putrinya.
Sekali waktu Aswatama tertarik pada seorang anggota Paskibraka Ngastina, namanya Dewi Safanah Ailin Syarifa, putri Begawan Jafar Ashidik. Wayangnya cantik, hidung mancung, mata ndamar kanginan (bercahaya), pokoknya mirip Najwa Shihab lah. Sekali ketemu gadis Paskibraka itu, Aswatama langsung theng………ukuran celananya mendadak berubah dari M ke XL.
Mulailah dia mendekati Dewi Safanah Ailin Syarifa tersebut. Dan sepertinya gadis itu memberi lampu hijau, maka Aswatama pun semangkin bersemangat daripada dia punya tekad. Mengingat bapaknya juga seorang begawan, siapa tahu juga kenalan ayahnya, Begawan Durna. Berarti pendekatan lebih mudah, karena sesama begawan kan dilarang saling menyakiti.
“Siapa nama bapaknya, Begawan Jafar Ashidik? Woo, kenal baik itu! Wong dulu pernah umrah sama-sama. Di pesawat “Blekok Airlines” kita duduk berjejer malah….” Kata Pendita Durna.
“Karena itulah rama, saya mohon bapak sendiri yang melamar langsung. Sama-sama teman begawan kan enak.” Jawab Aswatama penuh harap.
Begawan Jafar Ashidik dari pertapan Aldakasonya, memang lumayan ngetop. Dia suka masuk TV dijadikan narasumber dalam acara talkshow, bahkan sering pula masuk TV One berdebat sama Rocky Gerung. Satu-satunya begawan yang doyan medsos mungkin ya Jafar Ashidik ini, hampir setiap hari ngetwet, mengkritisi kebijakan pemerintahan negeri Ngastina.
Ke pertapan inilah Pendita Durna akan berangkat, demi memperjuangkan kebahagiaan putra tunggalnya Aswatama. Dia yakin bahwa lamarannya akan diterima secara baik, atas dasar pertemanan antar begawan sama-sama anggota Forum Begawan Sejagad (Forbejad). Bagawan Fafar Ashidik Sekjen dan Begawan Durna Waketum. Ini organisasi baru bentukan Begawan Durna, yang telah terdepak dadi Asosiasi Pendita Nasional (APN).
“Kita kan Cs dimas Begawan Jafar Ashidik, semoga besanan kita dapat restu dan berkah para dewa di Jonggring Salaka.” Kata Begawan Durna setelah menyampaikan uneg-unegnya pada begawan Sekjennya Forbejad tersebut.
“Tapi kita jamannya kebo nyusu gudel (baca: orangtua mengikuti kemauan anak), sehingga saya harus konsultasi pada putriku Dewi Safanah Ailin Syarifa dulu. Semoga berkenan. Nanti kakang begawan bisa ngomong langsung.”
Dewi Safanah Ailin Syarifa pun dipanggil menghadap. Ceweknya memang berbodi seksi, sekel nan cemekel. Sayang hanya kelihatan mata dan jidatnya belaka karena terhalang masker Corona. Tapi dari situ terlihat putri Begawan Fafar Ashidik ini memang cantik. Pendita Durna dalam hati merasa bangga, Aswatama pintar memilih calon istri. Tapi masalahnya, maunya Aswatama kan belum tentu maunya Dewi Safanah Ailin Syarifa.
“Nduk Dewi Safanah Ailin Syarifa, namamu kok panjang banget sih, bau Timur Tengah lagi. Begini ya nDuk, anakku si Aswatama ingin menjadikanmu sebagai teman hidup. Kira-kira kamu bisa menerimannya nggak Nduk?” ujar Pendita Durna.
“Aswatama yang mana, Eyang Begawan? Yang Stafsus Istana, atau yang Mentri Pariwisata Indonesia?” jawab putrid Begawan Jafar Ashidik berlagak pilon.
“Ngawur saja kamu, ngganti nama orang kok nggak bancakan! Yang Mentri Pariwisata itu Wishnutama……”
Dewi Safanah Ailin Syarifa menunduk lumayan lama, kemudian menatap muka Begawan Durna. Lalu katanya, siap menjadi istri Aswatama asalkan saksi pengantin lelaki Prabu Jokopit dan domas pengiring pengantin para bidadari kahyangan berjumlah 40 orang. Jika itu terpenuhi kapan saja siap menjadi istri Aswatama tanpa reserve.
Pendita Durna tertawa ngakak. Syarat itu begitu mudah untuk dipenuhi. Soal Prabu Jokopit, tak masalah. Beliaunya pasti dengan senang hati menjadi saksi. Jika ada sedikit masalah, adalah prosedur mendatangkan 40 bidadari dari kahyangan itu. Dalam musim Covid-19 ini, para bidadari dilarang turun ke bumi yang menjadi zona merah wabah Corona. Tapi bisalah, Durna optimis bisa minta dispensasi ke kahyangan.
“Jadi hanya itu nduk persyaratannya, nDuk? Nggak perlu lampirkan daftar LHKPN juga?”
“Enggaklah, Eyang. Itu saja sudah cukup.” Jawab Dewi Safanah Ailin Syarifa sambil menghaturkan sembah.
Begawan Durna berpamitan pada Begawan Jafar Ashidik. Tiba di pertapan Sokalima Aswatama langsung dipanggil, diberitahu tentang kabar baik tersebut. Tak lama lagi anaknya akan punya istri, dan setelah itu Begawan Durna baru akan memikirkan dirinya sendiri, yang sudah puluhan tahun hidup menduda. Tiap malam kedinginan, kalau mangsuk angin tak ada yang ngeroki. (Ki Guna Watoncarita).



