Hanna Rubiah Musfi, puteriku tersayang,
Sudah empat hari kamu istirahat, menginap dan bermain di ruang NICU RS. Siti Rahmah, Nak. Ayah dan ibu tidak pernah berpikir kamu sakit karena Hanna adalah perempuan yang kuat, sehat dan pintar.
Kamu lahir lebih cepat dari waktunya, Ayah yakin kamu ingin segera melihat dunia, berkarya dan menaklukannya.
Buktinya, baru lahir pagi Rabu (30/3/2016) jam 6.50 WIB di RS. Siti Hawa di Parak Gadang, kamu menangis di sana, berselang tiga jam setelahnya kamu menangis di ruang NICU RS. Siti Rahmah di Jln. Baypass. Baru berumur tiga jam, kamu sudah melihat belasan kilometer dunia.
Kini Hanna berada di sebuah tempat, anak Ayah sedang belajar mengenal alat-alat medis canggih. Observasi partisipan, merasakan hangatnya tabung inkubator, mendengarkan alunan-alunan alat itu bekerja. Baik-baik sama alat medisnya ya, Nak.
Wah, kamu lebih hebat dari Ayah, seumuran begini ayah baru tahu nama alat itu, Nak.
Baru berumur empat hari kamu sudah belajar bagaimana dalam hidup ini kita butuh orang lain, ada perawat dan dokter yang memantaumu selama hampir 24 jam. Kamu melihat dan merasakan bagaimana mereka bekerja sungguh-sungguh, dengan hati, ramah dan teliti.
(Tiba-tiba mengapa terbayang oleh Ayah, kamu dewasanya menjadi seorang dokter anak. Hehehe…)
Ayah titip pesan sama perawat, jika popok teman sebelahmu habis, berikan popokmu untuk dia, karena Ayah selalu lebihkan kebutuhanmu. Jika ASI ibu teman sebelahmu tak bisa keluar, bagikan ASI milikmu ke dia, karena ibumu ASI-nya sudah banyak keluar. Kelak jika dewasa jadilah dia saudara perempuanmu.
Ayah dan Ibu akan belajar menjadi orang tua hebat untukmu, Hanna. Ibu selalu semangat memerah ASI untukmu. Beruntung Ibumu punya sahabat-sahabat yang peduli dengan ASI di Aimi Sumbar.
Ayah juga selalu semangat ke rumah sakit mengantarkannya. Dari dulu ayah sudah bertekad menjadi seorang #AyahASI.
Kami selalu mendoakan, menyemangati dan mendukung perjuanganmu, sayang. Ayah dan Ibu selalu kangen denganmu.
Terima kasih Hanna sayang yang telah mengajarkan Ayah dan Ibu untuk selalu sabar dan ikhlas.
Hanna sayang, belajar alat medisnya jangan lama-lama ya, Nak. Biar Hanna bisa cepat pulang ke rumah. Kita kumpul semua.
Ayah dan Ibu sudah siapin banyak hal buat Hanna. Tempat tidur bagus, baju dan celana lucu, bantal, selimut cantik, kaos kaki&sarung tangan dan banyak lagi, Nak.
O iya sayang, Ibu juga udah mau siapin jilbab dan gamis lucu buat Hanna.
Ayah dan Ibu selalu bahagia. Satu hal yang membuat ayah berbunga-bunga adalah ketika waktu jam bezuk akan dibuka perawat. Wah, ayah selalu berpikir mau cerita motivasi apa satu jam untuk Hanna. Selalu Ayah bacakan surat-surat pendek, Hanna khusuk mendengarnya. (Seperti sekarang lima menit lagi jam bezuknya dibuka).
Ayah, Ibu dan Hanna, kita selalu bersyukur pada Allah. Kita diberikan banyak pelajaran hidup. Allah sangat sayang kepada keluarga kita.
Terima kasih istriku sayang Sisi Ikhnas yang sangat luar biasa perjuangannya.
Hanna anugerah terindah dari Allah setelah penantian kami tujuh tahun.
(Musfi Yendra, Sabtu, 2/4/2016, 11.00 WIB, depan ruang NICU RS. Siti Rahmah, Padang)




