Mengenal Bang Aruf, Pendaki Gunung yang Terjun Jadi Pegiat Literasi

Bang Aruf,pendiri TBM Edelweiss/ Foto: Fajar

JAKARTA –  Muhammad Ma’ruf, Pegiat Literasi dan salah satu pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) Edelweiss berbagi cerita selama 10 tahun memperjuangkan taman bacaan untuk menghadirkan sesuatu yang bermakna bagi anak-anak.

Pria yang kerap disapa Bang Rauf itu, menyulap teras dan pekarangan rumah pribadi dengan menghadirkan aneka macam buku dan kegiatan belajar-mengajar yang menarik, tepatnya di Jl. Bakti Pramuka RT 11/RW 01 Kel. Kamal, Kec. Kali Deres, Jakarta Barat.

Awalnya pekarangan pribadinya hanya menjadi tempat kumpul kawan komunitas pendaki gunung yang ia geluti. Namun setelah melihat kondisi anak-anak yang lebih sering aktif di dunia internet dan khawatir dampak buruk yang diakibatkan. Dia bersama kakak lelakinya berinisiasi membuka taman baca yang lengkap dengan kegiatan edukasi sejak 16 Januari 2019.

“Waktu awal, taman baca ini masih berupa perpustakaan saja. Kita keliling mencari aneka buku untuk disediakan. Walaupun sulit sekali mencarinya. Meski ada, itu pun masih berupa komik-komik. Dan belum ada kegiatan lain. Namun selang beberapa waktu kita hadirkan kegiatan belajar. Supaya minat mereka untuk membaca itu timbul,” tambahnya.

“Setelah mulai ada kegiatan baru namanya berubah menjadi TBM Edelweiss. Berasal dari nama bunga yang biasanya tumbuh di wilayah pegunungan. Ia memiliki makna keabadian. Sehingga itu juga jadi harapan kami ketika mendirikan taman baca ini, semoga tetap abadi sampai kapan pun,” lanjut Bang Rauf.

Adapun kegiatan yang dihadirkan dalam TBM Edelweiss juga menghadirkan program pembelajaran seperti Membaca Buku, Pendidikan Adab dan Karakter, Bahasa Arab dan Inggris, Matematika, Seni serta aneka Permainan Tradisional. Tidak lupa juga kegiatan peduli lingkungan. Jika seorang pengunjung bergeser sedikit dari taman baca tersebut, maka terlihat ada petakan kebun hidroponik hasil kegiatan belajar bersama dengan anak-anak.

“Perawatannya sendiri cukup sulit. Akibat wilayah di sini cukup berdekatan dengan laut. Maka air yang dihasilkan mengandung garam yang tinggi. Jadinya untuk air bersih kita memperoleh dengan membeli dari tukang air keliling atau air minum,” ungkapnya.

Tantangan terbesar masih terletak dalam menumbuhkan minat membaca anak-anak. Minat membaca tidak bisa dipaksakan. Ia harus tumbuh begitu saja. Untuk itu ia memberikan sesi belajar dalam waktu tiga bagian: sesi untuk jenjang PAUD dari jam 09.00 – 11.00 pagi. Sesi kedua untuk jenjang TK di rentang waktu jam 15.30 – 17.30. Dan terakhir untuk jenjang SD jam 19.30 – 20.30. Dengan total keseluruhan murid mencapai 50 anak.

“Melihat mereka datang untuk melihat-lihat buku saja sudah menjadi kebahagiaan bagi saya dan kawan-kawan. Apalagi kalau mereka sampai membaca satu buku dengan begitu khusyuknya. Di saat itu seolah pengajaraan yang dilakukan kami berhasil,” pungkas Rauf, dikutip dari dompetdhuafa.org.

Advertisement