SUHU politik di negeri Dwarawati mendadak panas belakangan ini. Seorang pendita neneka (pendatang) bernama Begawan Sasrasewindu, bikin pertapan di perbatasan negeri Dwarawati, wilayah Bantalarekta. Padahal itu masih wilayah negeri Dwarawati juga. Itu artinya dia menyerobot lahan orang tanpa membebaskan dulu dan tanpa urus IMB pula.
Aneh bin ajaib, meski baru beberapa bulan berdiri, cantrik pengikutnya sudah banyak. Yang membuat kalangan wayang terheran-heran, Begawan Sasrasewindu ini jika memberi pelajaran pada muridnya bukan membahas soal ilmu agama dan kebatinan, tapi justru mengkritisi para pemimpin di Dwarawati dan Mandura. Dia bilang bahwa status kepemimpinan kedua negara itu tidak legitimid.
“Baik Mandura dan Dwarawati, itu sebetulnya hak leluhur kami Kangsadewa, karena dia anak Prabu Basudewa. Dan Baladewa serta Kresna penguasa kedua negara itu, terlibat konspirasi pembunuhan leluhurku Prabu Kangsadewa.” Ujar Begawan Sasrasewindu.
“Kok bapa begawan tahu sedetil itu, datanya dari mana?” seorang cantrik bertanya.
Ketika Begawan Sasrasewindu menyebut Wikileaks, segenap cantrik seasrama bertepuk riuh. Padahal data itu tak seluruhnya (100 persen) benar, masih banyak pula data semir. Mendingan sumir Kiwi, bisa bikin sepatu mengkilat. Tapi karena yang ngomong begawan panutan mereka, ya pura-pura percaya saja, ketimbang di DO.
Prabu Kresna sih diam saja atas ocehan Begawan Sasrasewindu yang lebih banyak ngawurnya itu. Baru sewindu saja sudah begitu, apa lagi sampai 4 windu apa nggak semakin kacau. Tapi sebagai penguasa di Dwarawati, Prabu Kresna tetap mewaspadai sepak terjang begawan emigrant itu. Prinsipnya, kalau sudah keterlaluan baru mau “digigit” dengan caranya sendiri.
“Gusti Prabu Kresna, kenapa Begawan Sasrasewindu ngomong begitu kok nggak diperintahkan tangkap. Makin gede kepala dia…” Patih Udawa protes dalam sebuah kesempatan.
“Biarkan saja, nanti dikiranya Dwarawati kriminalisasi begawan.” Jawab Prabu Kresna santai.
Sesuai dengan karakternya selama ini, beda sekali tanggapan Prabu Baladewa dari Mandura. Dia langsung naik pitam dan memaki-maki dengan kata-kata kasar seperti matamu picek dan dobol jaran. Jelas sekali Begawan Sasrasewindu kurang baca buku sejarah. Tanyakan saja kepada sejarawan Anhar Gonggong atau Asvi Warman Adam, pasti mereka tahu bahwa dari dulu pewaris kerajaan Mandura ya Prabu Baladewa. Adapun Prabu Kresna memperoleh negeri Dwarawati berkat perjuangannya menumpas pembrontak Prabu Dwarawakawestri dari Dwarawati.
“Siapa Begawan Sasrasewindu itu? Dia cuma hasil selingkuhan Dewi Maerah istri ayahku yang lain, dengan seorang BIL (Buta Idaman Lain) Prabu Gorawangsa dari Sengkapura. Kok sekarang nuntut warisan, enak aja…..” kata Prabu Baladewa sengit.
“Kok Dewi Maerah mau meladeni raja berwujud raksasa?” kejar wartawan.
“Gorawangsa nyamar jadi ayahku, ya dilayani. Kurang ajar nggak itu?”
Menengok sejarah ke belakang, ketika Prabu Basudewa sedang berburu (istilahnya: grogol), di istana Mandura Dewi Maerah kedatangan Prabu Gorawangsa yang menyamar Prabu Basudewa. Dikira suami balik minta “dilayani”, terjadilah hubungan intim di luar nikah. Begitu hamil, Prabu Basudewa marah besar karena dari hasil test USG (Ultrasonografi) menunjukkan bayi itu berwujud setengah raksasa itu anak Gorawangsa.
Dewi Maerah kemudian dibuang ke hutan, dipelihara oleh Prabu Gorawangsa. Dan lahirlah Kangsadewa, sementara Dewi Maerah meninggal dalam persalinan. Setelah dewasa Kangsa diberi tahu bahwa ayah aslinya adalah Prabu Basudewa dari Mandura. Ke sanalah Kangsa untuk menuntut hak waris, ternyata terhalang oleh keturunan asli Prabu Basudewa, yakni Kakrasana dan Narayana. Saat Kangsa hendak membinasakan kedua kesatria muda tersebut, Kangsa tewas oleh pusaka Nenggala milik Kakrasana.
“Kok Bilung tahu persis kronologisnya, dengar dari siapa? Tanya pers pada Bilung mantan pembantu di kerajaan Mandura.
“Gimana sih? Saat Gorawangsa nyamar dan masuk kamar, saya berada di kolong ranjangnya…..”
“Payah lu ah, pembantu kok suka ngintipin majikan.”
Demikianlah, Begawan Sasrasewindu terus bersafari di wilayah Dwarawati dan Mandura, menyebar opini bahwa kedua negeri itu merupakan hak warisnya. Cepat atau lambat negeri warisan itu harus kembali kepadanya. Celakanya, banyak rakyat yang percaya bualan itu. Ketika para pendukungnya mulai sebar spanduk dan baliho klaim atas negeri Dwarawati-Mandura, yang teriak-teriak hanya Mandura.
Sedangkan Sencaki selaku sapukawat Dwarawati malah dieeem saja, tak ada suaranya. Padahal mustinya, sebagai Mentri Pertahanan Dwarawati, dia turun tangan, paling tidak berkomentar. Faktanya, Sencaki diam seribu bahasa, seakan-akan membiarkan saja negerinya terancam dan diacak-acak wayang lain. Bahkan di mana keberadaannya sekarang, juga tak jelas. Apakah keasyikan makan gaji buta?
“Kalau saya jadi Pakde Kresna, sudah saya pecat tuh Sencaki.” Komentar Ontosena dari Ngamarta.
“Mungkin Pakde Dwarawati masih pasang strategi lain untuk menggebuk dan menggigit Begawan Sasrasewindu.” Jawab Raden Antarejo, sama-sama anak Werkudara.
Sencaki atau Haryo Setyaki nama aslinya sesuai akte kelahiran, adalah putra Prabu Setyajid dari negeri Lesanpura. Tapi meski calon raja pengganti sang ayah, dia lebih memilih mengabdi ke kakak iparnya, Prabu Kresna. Dia tinggal di kompleks BTN Garboruci di bagian belakang, karena memilih yang angsurannya lebih murah.
Ketika terjadi kehebohan di Dwarawati dan Mandura, sebetulnya dia tengah sibuk dengan acaranya sendiri. Dia sebenarnya tengan bertapa di Gunung Kemukus, dalam rangka manages atau minta petunjuk dewa. Kenapa kariernya mentok hanya jadi sapukawat negeri Dwarawati saja? Kenapa bapaknya, Prabu Setyajid yang sudah anggur kolesom cap orangtua, tak juga menyerahkan tahta Lesanpura? (Ki Guna Watoncarita)



