TUGU WASESA

Prabu Tuguwasesa dengan gagah berani memaksa Prabu Duryudana lengser dari kerajaan Ngastina alias dikudeta.

INTELEJEN negri Ngastina lemah sekali, sehingga riak-riak kecil yang terjadi ini tak mudah terdeteksi. Ketika banyak spanduk dan baliho yang berkalimat “Dukung pemimpin baru Prabu Tugu Wasesa”, Bakin-nya Ngastina menganggap sepele. Selama mereka bayar pajak ya biarkan saja. Makin banyak spanduk dipasang, makin banyak setoran pajak yang masuk ke Pemda. Bagi Patih Ngastina si Sengkuni, itu spanduk sama sekali bukan ancaman.

Tahu-tahu negara peninggalan Prabu Pandu itu dikup oleh Prabu Tugu Wasesa dari negeri Gilingwesi. Prabu Duryudana dan istrinya, Banowati, keplayu (kabur) meninggalkan istana. Sedangkan Patih Sengkuni, Adipati Karno, termasuk Pendita Durna ditahan di gedong waja. Makannya hanya nasi campur gabah, minum limun cap kran PDAM.

“Dhi Cuni, kita ditahan di sini sampai kapan? Status kita saksi atau langsung tersangka?” Pendita Durna bertanya teman satu sel Patih Sengkuni.

“Minimal 20 hari Wakne Gondel, tapi biasanya diperpanjang sesuai kebutuhan. Meski status kita saksi, nanti jika salah ngomong bisa jadi tersangka lho. Hati-hati,!” jawab Patih Sengkuni sambil menakut-nakuti Pendita Durna.

Seumur-umur Durna tak pernah berurusan dengan polisi. Jika ada urusan paling dengan Polantas karena pelanggaran lalulintas. Tapi begitu tahu penumpangnya pendita Sokalima, sopirnya hanya dikasih tahu bahwa pada jam-jam tertentu jalan ini hanya untuk satu arah. Dengan alasan orang baru, Polantas memaafkan kelakuan sopir sang begawan.

Akan halnya Dewi Surtikanti, masih bisa menyelamatkan diri dari sergapan pasukan Gilingwesi dan meloloskan diri ke Mandura, kakak iparnya, Prabu Baladewa. Prabu Baladewa pun segera kontak lewat WA ke adiknya, Prabu Kresna yang jadi raja di Dwarawati. Intinya minta bantuan bagaimana mencari Prabu Duryudana dan Banowati, yang juga kabur menyelamatkan diri.

“Dhimas Kresna, kita harus bantu menyelamatkan negeri Ngastina dari penguasaan Prabu Tugu Wasesa. Ketika Pendawa belum berhasil mengambil kembali haknya atas negeri Ngastina, kok tiba-tiba diserobot negeri lain. Ini kan ironis.” Ujar Prabu Baladewa.

“Tenang kangmas Mandura, kan ada  dimas Setyaki, biar dia yang segera menyelesaikannya..” jawab Prabu Kresna, yang juga langsung kontak ke Prabu Puntadewa di Ngamarta.

Di tengah kesibukan mengatasi Covid-19, Dwarawati-Ngamarta kini tambah kesibukan baru untuk merebut kembali negeri Ngastina dari penguasaan Prabu Tugu Wasesa. Kolaborasi kekuatan itu menurunkan Haryo Setyaki dari Dwarawati dan Gatutkaca – Abimanyu dan Harjuna dari Ngamarta. Lalu keduanya berbagi tugas. Harjuna masuk divisi penyelamatan raja (Duryudana-Banowati) dan Setyaki – Gatutkaca bagian menyelamatkan negara.

Bagi Harjuna tugas ini memang lebih menyenangkan, sebab melacak Prabu Duryudana dan istrinya, sama saja dia harus mencari Banowati yang merupakan cinta pertama Harjuna di masa muda dulu. Dan jejak digital lama memang menunjukkan, Banowati juga sangat cinta pada Harjuna ini. Maka isyunya, meski resminya  dia menjadi istri  Duryudana, tapi malam pertama yang menikmati justru Harjuna. Adapun Jokopitono muda sekedar menjadi “generasi penerus”.

“Bagaimana dimas Harjuna, siap menjalankan misi negara?” ujar Prabu Kresna sambil senyum penuh arti, seakan menjajagi perasaan Harjuna.

“Si, si, siap kangmas Dwarawati…..” jawab Harjuna tersipu-sipu.

Dengan semangat Harjuna berangkat mengemban misi negara itu, dan beberapa jam kemudian Duryudana-Banowati ditemukan di bawah pohon beringin. Kondisinnya sangat memprihatinkan karena luka-luka sepertinya habis kena begal. Begitu juga Dewi Banowati, tinggal nyawa saja yang masih ada. Mereka telah dilucuti perampok yang mengaku prajurit Gilingwesi. Jam tangan, HP,  milik Duryudana dan gelang-kalung yang dikenakan Banowati diambil paksa sampai mbrindhil (habis-habisan).

Keduanya lalu dibawa ke Mandura, tapi Harjuna merasa tak enak mengantarkan sendiri. Nanti gossip apa lagi yang bakal menyerang dirinya. Maka dia segera  kontak Gatutkaca-Setyaki untuk mengantarkannya ke Mandura. Tentu saja Prabu Duryudana mengucapkan terima kasih banyak pada Harjuna mantan pesaingnya dulu. Sedangkan Banowati menjadi salting, karena takut menyinggung perasaan dan memancing kecemburuan suami.

“Tuh kan, kamu asal lihat Harjuna melotooot saja matamu.” Sindir Duryudana pada istrinya.

“Sudah-sudah, malu didengar sopirnya tuh!” Jawab Banowati pendek.

Tapi dalam perjalanan di atas taksi Grab, tahu-tahu dikejar oleh Patih Hananto Sena dari Gilingwesi. Terjadilah pertempuran dahsyat, satu patih dikerubut oleh Gatutkaca dan Setyaki. Tak ayal lagi keteteran bahkan ketika berhasil dibelejeti ternyata itu Raden Antasena adik sendiri.

“Lho, kok kamu Dik Antasena. Lalu siapa pula Prabu Tuguwasesa itu?” ujar Gatutkaca.

“Auah gelap….!” Jawab Antaseno.

Gatutkaca manggut-manggut. Melihat postur tubuh Prabu Tuguwasesa yang tinggi besar, yakinlah bahwa dia pastilah ayah sendiri, Werkudara. Dia segera melapor ke Prabu Kresna lewat WA. Tapi raja Dwarawati itu hanya menjawab dengan emotikon tertawa. Bahkan kemudian Prabu Kresna mengajak Harjuna dan Antasena untuk menaklukkan bersama-sama Prabu Tugu Wasesa yang sedang ngantor di Istana Gajahoya. Sedangkan Setyaki dan Gatutkaca mengawal raja Ngastina mantan ke Mandura.

Tiba di istana Gajahoya, Prabu Tugu Wasesa gentian yang salting, karena melihat Patih Hananto Sena sudah berubah wujud asli sebagai Antasena. Lebih-lebih kakanda Dwarawati justru cengengesan melihat penampilan dirinya yang pakai makutha tapi tidak pas karena kekecilan.

“Hmmmmm, kenapa kalian menertawakan raja Gilingwesi, he?” kata Prabu Tugu Wasesa sambil mendesis.

“Sudah, sudah, lepas kostumu. Dimas Seno tidak pantas menyandang kostum raja Gilingwesi, seperti brongsongan gori (bungkusan buah nangka), tahu!” ujar Prabu Kresna tertawa ngakak, tapi tidak sampai berguling-guling.

Prabu Tugu Wasesa lalu membanting makuthanya dan melepas kostum rajanya, sehingga kembali ke wujud aslinya sebagai Raden Werkurdara kesatria Jodipati. Kenapa berulah sampai demikian,  usut punya usut Werkudara hanya ingin mengeceks segala asset Istana Gajahoya, masih utuh dan asli atau tidak. Takutnya banyak yang dipalsu atau dijuali gara-gara APBN Ngastina merosot tajam akibat serbuan Covid-19.

Antasena dan Harjuna kemudian melepas petinggi Ngastina dari Rutan, seperti Adipati Karno, Patih Sengkuni dan Pendita Durna. Mereka memperoleh pembebasan murni tanpa bersyarat. Meski baru seminggu dalam sel, tubuh mereka sudah kurus kering karena menu yang berubah 180 drajat.

“Dhik Cuni, kita nggak jadi ajukan gugatan pra peradilan ya?” Pendita Durna bertyanya.

“Ya enggaklah, percuma saja. Kita ditahan juga nggak sampai 20 hari.

Demikianlah para petinggi Ngastina kembali pada posisi masing-masing. Adapun Adipati Karno setelah dibebaskan ikut bergabung ke Mandura, karena istrinya dilaporkan ada di sana. Baru seminggu pisah kangennya sudah pol, nanti jadi seperti pengantin baru kembali. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement