PROBOLINGGO – Keterbatasan di pelosok Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tepatnya di Desa Kalianan, tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk belajar, bahkan untuk menjadi penghafal Al-Quran.
Diketahui Desa tersebut sering kali mengalami padam listrik yang diikuti dengan hilangnya sinyal telepon genggam.
Waril, salah satu sosok anak berusia sepuluh tahun yang merupakan anak ketiga dari sepasang suami istri Musa (68) dan Khusnul (43), kerap menghabiskan sehari-harinya sebagaimana anak pada umumnya: sekolah, bermain, mengaji dan membantu pekerjaan orang tuanya bertani.
“Aku mau jadi penghafal Al-Qur’an. Biar bisa banggain Bapak dan Ibu seperti Kakak-kakak saya,” ujar Waril.
“Alhamdulillah dengan keterbatasan yang ada. Anak-anak tetap semangat belajar. Anak yang pertama sangat pintar bahasa Inggrisnya. Sedangkan yang kedua bahasa Arabnya yang bagus,” imbuh Musa, sang ibu menambahkan.
Musa juga melanjutkan, ada kebanggaan sendiri ketika anak-anak mereka berprestasi. Dengan berprestasi, seringkali mereka mengajak Musa dan Khusnul untuk mengunjungi wilayah lain, seperti Bogor dan Bandung.
Menurutnya, fasilitas sekolah minim dan mengharuskan waktu belajar untuk bergilir. Hari Senin dan Selasa biasanya digunakan untuk kelas I dan II. Sedangkan kelas III dan IV di hari Rabu dan Kamis. Namun dengan kondisi pandemi seperti ini, sering kali tempat belajar menjadi di rumah dengan dampingan orang tua, wali ataupun pengajar setempat bahkan guru ngaji.
Baik sedang pandemi atau tidak, kegiatan belajar memang fokus di rumah. Pasalnya seperti yang sudah dijelaskan di atas, ketika desa mengalami padam listrik, maka sinyal pun ikut padam. Sehingga kegiatan belajar jarak jauh via daring menjadi sulit.
“Tapi bagaimanapun juga, harapan orang tua pasti ingin anak-anaknya jauh lebih pintar dan berprestasi ketimbang orang tuanya. Agar mereka mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang tuanya,” terang Khusnul, dikutip dari siaran pers dompet dhuafa.





