SEJAK pertengahan Januari 2021 lalu penduduk Jakarta bisa menikmati pemandangan rumah nan unik. Soalnya, atap rumah tersebut dicat warna warni, merah, jingga, kuning, biru dan ungu. Letaknya di seputar Kel. Jagakarsa Kecamatan Lenteng Agung Jaksel, tepatnya di seputar flyover tapal kuda. Ini merupakan ide briliyan Gubernur Anies Baswedan, sekaligus untuk mengetes mata warga Ibukota, ada kelainan atau buta warna nggak? Tak urung gagasan aneh Pak Gubernur ini menjadi bahan pertanyaan para politisi Kebon Sirih.
Sebetulnya ide Gubernur Anies ini kalah cepat dengan Gubernur Jateng Suwardi (1993-1998) di jaman Orde Baru. Di masa pemerintahannya, pohon-pohon dan pagar rumah penduduk di Semarang diminta dicat kuning semua. Sampai-sampai Ketum PBNU kala itu, Gus Dur, berkelakar ketika pesawat yang hendak dinaiki tujuan Semarang, tertunda keberankayannya dari Cengkareng. “Pesawatnya telat mendarat di Semarang, karena takut dicat kuning pula…..” kata Gus Dur.
Bedanya Gubernur Jateng dan DKI Jakarta adalah; jika Suwardi bertujuan politik, dalam rangka Golkarisasi, sedangkan Anies Baswedan bertujuan estetika. Dengan atap rumah yang dicat warna-warni itu, diharapkan warga kota memperoleh suasana baru. Masalahnya, cat rumah warna-warni itu hanya bisa dinikmati dari udara, ketika orang mengendarai mobil di flyoler Lenteng Agung, atau para pilot pesawat dan helikopter yang melintas di sekitar lokasi tersebut.
Untuk orang biasa yang tak punya mobil, rasanya takkan bisa menikmati pemandangan itu sampai kapanpun. Kecuali bagi mereka yang bisa naik drone. Tapi masalahnya, adakah drone yang punya kekuatan terbang dengan membawa orang? Dan lagi pula, orang bawa mobil pun tak mungkin bisa menikmati pemandangan itu, karena tinggi pagar jembatan pastilah menghalangi tatapan mata-mata orang yang mengagumi cat rumah warna-warni tersebut.
DPRD DKI khususnya PDIP dan PSI, menyoroti keanehan gagasan unfaedah tersebut. Apa nilai tambahnya bagi rakyat dengan atap genting aneka warna itu? Apakah rakyat menjadi sejahtera karena atap rumahnya dicat warna warni. Apakah nilai jual rumah di daerah itu jadi naik drastis gara-gara atap berwarna-warni tersebut?
Jika ada yang diuntungkan, paling-paling pabrik cat, karena ribuan liter dan galon catnya akan diborong oleh Pemprov DKI. Atau juga jadi ajang test gratis membedakan warna bagi penderita gangguan mata. Atau juga penduduk yang punya rumah sampai 5 buah di daerah itu. Bak murid Taman Kanak-Kanak dia bisa menyanyi santai, “Rumahku ada lima, rupa-rupa warnanya, ambruklah rumah hijau hatiku sangat kacau….”
Ada kekhawatiran dari para pengamat perkotaan, jika uang ratusan juta dihabiskan untuk mengecat atap genting, sungguh perbuatan mubadzir yang sangat unfaedah. Ketimbang dana itu dibuang hanya untuk mengecat atap rumah, kenapa tak ditambahkan untuk jumlah penerima BST (Bantuan Sosial Tunai) karena terdampak Covid-19. Sebab selama ini distribusi BST termasuk Sembako yang tidak tepat sasaran; yang naik Fortuner malah dapat, sedangkan yang asli miskin malah mersi alias pamer gusi.
Pemprov DKI memang bisa menjawab kekhawatiran tersebut, karena dana pengecatan itu bukan bersumber dari APBD, melainkan perolehan dana CSR (corporate social responsibility) senilai 8.000 liter cat dari PT Propan Raya. PT itulah yang mengerjakan pengecatan itu untuk 168 rumah di Kelurahan Jagakarsa Kecamatan Lenteng Agung. Warga sih senang-senang saja, meskipun tak ada pengaruhnya sama sekali secara ekonomi.
Jika ada yang merasa puas dan bangga, paling-paling hanya Gubernur Anies Baswedan seorang, atau para pejabat dinas terkait, karena berhasil memuaskan selera bossnya. Dan percayalah, takkan ada pengecatan ulang dari program itu. Sebab jika gubernurnya berganti di kemudian hari, pastilah takkan melanjutkan ide-ide unfaedah tersebut. (Cantrik Metaram).





