PATIH Udawa memang punya perhitungan juga. Jika Haryo Setyaki jadi raja Dwarawati, dijamin posisi dirinya di Kepatihan takkan dikutak-katik. Sebab selama ini dia tak ada masalah dengan Haryo Setyaki. Sebaliknya jika kerajaan Dwarawati jatuh ke tangan SWB, dia akan dipensiunkan karena sudah tokoh kadaluwarsa. Maklum usia Udawa sudah 60 tahun lebih. Kalau guru sudah pensiun dan tak menerima lagi tunjangan sertipikasi.
Terus terang, Patih Udawa selama ini sebel dengan kelakuan tengil SWB. Dia sering memanfaatkan jabatan sang ayah menggolkan berbagai proyek, tepatnya: teman-teman SWB sering memanfaatkannya untuk berbagai urusan. Asal ada memo dari SWB, siapapun langsung tunduk. Tak ada memang yang berani meniru Ahok ketika melawan DPRD, kasih disposisi bunyinya: pemahaman nenek lu!
“Tapi saya pasif saja lho ya. Kalau rakyat Dwarawati menghendaki saya, ya apa boleh buat. Tapi saya tak mau dituduh kudeta….”, jawab Haryo Setyaki pada akhirnya.
“Beres, Boss. Nanti saya semuanya yang mengatur. Pokoknya jangan sampai SWB yang bertahta.” Kata Patih Udawa.
Sudah lebih dari sebulan Prabu Kresna menjalani masa karantina, tapi malah semakin ngedrop. Mau dibilang mati, nyatanya masih ada denyut jantung, di monitor ICU tampak masih bergelombang, bukannya memanjang lurus. Berarti masih ada kehidupan. Istri-istri Dwarawati dari Jembawati, Rukmini dan Setyaboma bergantian menunggui, termasuk juga putra-putrinya, Setija, Setyaka, SWB, Siti Sendari.
Sementara itu di luar istana Dwarawati muncul berbagai spekulasi, bila Prabu Kresna benar-benar mangkat, BSW otomatis akan menggantikan kedudukan sang ayah. Tapi sekelompok wayang meragukan kemampuan adik Setija ini, sehingga ada yang mengusulkan Setija saja yang naik tahta. Negeri Trajutrisna dihapuskan saja, dijadikan perkebunan kelapa sawit atau karet.
“Maaf, saya mau fokus mengurus Trajutrisna saja. Urus negeri kecil saja pusing, apa lagi ngurus negara besar. Biarlah SWB saja, karena memang itu haknya.”
“Betul itu hak SWB. Tapi di samping hak, ada kewajiban yang harus dipenuhi./ Mampu nggak SWB mensejahterakan rakyatnya.” Tanya host dalam sebuah dialog politik.
Setija alias Prabu Bomanarakasura hanya angkat bahu. Mau omong panjang lebar takut dipelintir oleh pers, kan nggak enak jadinya sama adik sendiri. Maka untuk menghindari kejaran pers, Setija milih kabur lewat pintu belakang. Dia hafal dengan pers gaya sekarang. Semua berita yang kurang jelas selalu pakai awalan “diduga”, karena takut beritanya jadi masalah hukum. Bahkan lokasi TKP saja kini banyak disamarkan, paling-paling disebut kecamatannya doang!
Meski Setija telah mencoba menghindari pertanyaan sensitip tersebut, wacana tokoh alternatip selain SWB yang dimotori oleh Patih Udawa pada akhirnya muncul ke permukaan juga. Entah siapa yang bermulut ember, SWB telah mendengar Udawa kasak-kusuk ketemu Haryo Setyaki dalam rangka mendongkel dirinya. Maka Haryo Setyaki pun dipanggil, setidaknya untuk klarifikasi.
“Apa benar paman Haryo Setyaki hendak mendongkel saya?” tegur SWB to the point saja.
“Mendongkel? Memangnya kamu batu gede, kok harus didongkel segala?” jawab Haryo Setyaki belagak pilon.
“Bukan begitu.Maksudnya paman Setyaki hendak merebut kekuasaan saya?”
“Memangnya kamu sudah berkuasa?” Haryo Setyaki masih bergaya pengacara.
Pada akhirnya Haryo Setyaki mengiyakan juga bahwa memang ada wacana untuk mengkritisi suksesi kerajaan Dwarawati. Tapi di negara berdemokrasi, rakyat kan bolah-boleh saja mengkritik pimpinan nasional. Apa lagi Prabu Kresna pernah bilang seperti judul film Indonesia: kritiklah aku keras-keras, kau takkan kutangkap. Kenapa baru mulai dikritik kok sudah mencak-mencak duluan. Haryo Setyaki di sini memang belum mau menyebut pemilik gagasan tersebut.
“Memang ada orang datang ke rumah, melempar wacana itu. Saya hanya mendengarkan saja.” Kata Haryo Setyaki kemudian.
“Jangan bohong, Paman Setyaki. Orang itu paman Patih Udawa, dan paman Setyaki yang mau dijadikan tokoh alternatip, iya kan?” tuduh SWB.
“Memangnya kamu sudah menjadi tokoh utama? Jangan GR. Tokoh itu hasil sebuah prestasi, bukan sekedar garis keturunan.”
Dieyeli terus, akhirnya SWB tambah pusing dan Haryo Setyaki diminta meninggalkan ruangan. Tapi dari situ dia menjadi tahu bahwa tak semua orang sekubu selalu satu pemahaman. Ingin sebetulnya SWB mendepak Setyaki dan Udawa, tapi tanpa keduanya, dirinya tak punya kekuatan dan kemampuan apa-apa. Lagi-lagi Haryo Setyaki memang terbukti sebagai sapukawat Dwarawati.
Sepeninggal Haryo Setyaki SWB kembali membezuk Prau Kresna di ruang isolasi mandiri di wilayah Balekambang sebelah barat Terminal Nggilingan, Solo. Tapi kondisi belum berubah, kelihatan tak bernapas tapi layar monitor ICU masih menunjukkan gelombang turun naik macam alat pemantau gempa. Padahal aslinya, itu sekedar badan wadag (tubuh kasar), roh atau sukma Prabu Kresna sedang jalan-jalan ke kahyangan Jonggring Salaka, untuk bertemu dengan Sanghyang Betara Guru (SBG).
“Pukulun Betara SBG, mohon pencerahan. Sebab selama tidur panjang di Balekambang, aku mendengar bahwa rakyat mulai membicarakan suksesi kepemimpinan di Dwarawati. Padahal itu jelas dan otomatis nantinya akan jatuh pada Samba alias ABG anakku dari Jembawati.” Ujar Prabu Kresna sambil menghatur sembah.
“Tak mungkin terjadi itu. Sebab SWB putramu akan meninggal lebih dulu dalam lakon “Gojali Suta”. Itu ketentuan dewa, tak bisa dikutak-kutik macam UU Pemilu di Indonesia.” Jawab SBG santai.
Prabu Betara Kresna kaget, anak kesayangan calon pewaris tahta bakal tewas dalam lakon “Gojali Suta”. Siapa pula itu? Nama itu benar-benar baru dengar. Kalau ulama tempo dulu Imam Gazali pengarang buku Ihya Ulumuddin, atau Effendi Gozali penggagas Pemilu Serentak, tahu sekali. Tapi ini “Gojali Suta” benar-benar asing di telinganya. (Ki Guna Watoncarita)



