PENDAWA BANCAKAN (1)

Wara Drupadi kaget, karena Bethara Sangkara menginfokan bahwa dia bakal dapat jodoh 5 orang sekaligus.
BERKAT pertolongan garangan putih, Pendawa Lima beserta Dewi Kunti berhasil lolos dari pesta maut di gedung pertemuan Bale Sigala-gala di negeri Ngastina. Untung saja Bima hanya minum sedikit, sehingga tak sampai mabuk. Ketika api membesar dan melalap seluruh gedung, Bima segera menggendong Kangka, Permadi, Pinten-Tangsen dan ibunda Dewi Kunthi, mengikuti ke mana arah garangan putih pergi, dan ternyata selamat.
Ketika membaca berita koran esok paginya, Pendawa Lima baru tahu bahwa kebakaran itu disengaja. Bukan karena lokasi Bale Sigala-gala mau dijadikan mal, tapi karena punya target hendak membinasakan Pendawa Lima. Maka ketika menemukan 6 jenazah di antara puing dan arang gedung, keluarga Kurawa senangnya bukan main. Dikiranya itu mayat Penda Lima beserta ibu Kunthi, padahal mereka gelandangan yang nimbrung ingin ikut pesta.

“Bagaimana ibu Kunthi, apakah kita balik lagi? Kita hajar Haryo Suman selaku aktor intelektualnya, biar nyaho dia….” kata Bima.

“Nggak usahlah Sena, dendam takkan menyelesaikan masalah. Jika Pendawa Lima ternyata masih ada, pasti mereka bikin rekayasa politik yang lain. Biarkan saja, yang penting kita memikirkan masa depan kita sendiri,” nasihat Kunthi pada kelima putranya.

Setelah sarapan bubur kacang ijo-ketan item diganjal roti tawar di warung kaki lima, keluarga Pendawa Lima melanjutkan perjalanan dengan tetap jalan kaki. Tiba-tiba terbaca sebuah poster yang ditempel di pohon mahoni pinggir jalan. Isinya berupa pengumuman sayembara memperebutkan perempun cantik, namanya Wara Drupadi. Penyelenggaranya Prabu Drupada yang menjadi raja di Pancalaradya.

Syarat keikutsertaanya juga mudah sekali. Tanpa uang pendaftaran, lelaki bujangan, tidak terlibat organisasi terlarang FPI maupun HTI, dan lolos test swab Covid-19. Bima yang merasa mampu  memenuhi segala persyaratan tersebut, sangat berminat untuk mengikuti sayembara itu. Siapa tahu sedang jodoh, sehingga berhasil memboyong Dewi Drupadi sebagai hadiahnya.

“Tapi itu kan ringan dari segi administrasi saja, Sena. Tapi apa kamu mampu melawan Patih Gandamana yang terkenal akan kesaktiannya? Dia kelihatannya lebih kecil darimu, tapi itu kan ibaratnya gandik (batu penggilas jamu), sekali dihantamkan ke gentong, pastilah hancur lebur……” nasihat Ibu Kunthi pada Sena. Sialan banget memang, tinggi besar begitu Bima alias Bratasena hanya direken seperti gentong.

“Enggaklah Bu, saya tetap nomer satu. Biar Gandamana sakti, tapi saya lebih rosa-rosa macam Mbah Marijan. Buktikan saja nanti Bu, yang penting doa ibu selalu menyertaiku.” Jawab Bima optimis.

Tak hanya Ibu Kunthi, Wijakangka kakak sulung dan Permadi, juga menyarankan tak usah ikut sayembara begituan, terlalu tinggi resikonya. Itu lebih berat dari sayembara Presiden Jokowi, hanya jawab tebakan sebutkan macam jenis ikan, akan dapat hadiah sepeda. Bahkan tanpa menjawab benar pun, jika sedang mujur dapat pula itu sepeda. Tapi kapan lagi, karena sekarang sudah tak terdengar lagi sayembara berhadiah sepeda itu.

Di negeri Pancala memang sedang heboh tentang sayembara memperebutkan putri sulung kerajaan Wara Drupadi, yang sudah berusia kepala tiga belum juga menikah. Cemas jika tak laku kawin nanti, sebetulnya Prabu Drupada hendak mempermudah sayembara itu. Asal punya pekerjaan tetap dan seiman, bolehlah menjadi menantu raja Pancalaradya. Tapi Patih Gandamana bersikeras untuk menyelenggarakannya secara lebih terhormat.

“Drupadi itu titisan Dewi Sri, masak akan dapat suami sembarangan. Malu saya sebagai pamannya. Dia harus memperoleh suami berkelas, kalau PNS minimal sudah bergolongan IV-a. Sukur-sukur Capres 2024 yang paling tinggi hasil surveinya.” Kata Patih Gandamana sok idealis.

“Survei paling tinggi, tapi kalah melulu dalam Pilpres, ya buat apa. Mending orang biasa, tapi bertanggungjawab pada keluarga dan tak pernah ngrepoti mertua. Itu sudah bagus…..” jawab Prabu Drupada agak kesal, karena dia sepertinya kalah kuasa dengan patih sekaligus adik iparnya tersebut.

Di taman keputren Wara Drupadi selalu bermuram durja. Dia khawatir bahwa Oom Gandamana benar-benar wudhu tandhing (tak terkalahkan), sehingga resikonya tetap saja dirinya tak laku kawin. Padahal dia sudah banyak puasa mutih ini itu agar dipercepat jodohnya oleh dewa yang Akarya Jagad. Tapi faktanya paman sendiri malah mempersulit prosedur. Apa sebaiknya dilaporkan ke Ombudsmen saja, karena Oom Gandamana secara nyata mempersulit pelayanan publik.

Tapi enggaklah, pesan dewa lewat mimpinya benar-benar jelas bahwa dirinya akan segera memperoleh jodoh, orang terhormat. Malam itu Bethara Sangkara dari Jonggiring Salaka, datang ke taman keputren dengan pakai jubah dan jenggotan mirip wayang radikal. Dan dia dewa yang sopan, tak seperti Betara Surya yang suka melakukan tindakan pelecehan seksual.

“Tenanglah Wara Drupadi, hilangkanlah duka lara, mari bergembira ria hai kawan….,” kata Betara Sengkara, yang rupanya penggemar lagu-lagunya Titiek Puspa.

“Pukulun jangan bercanda, dong! Ini gue lagi pusing, di grup WA dilecehkan teman kenapa nggak laku-laku kawin.” Kata Wara Drupadi nadanya protes.

Bethara Sangkara hanya tertawa. Kembali dia membesarkan hati Wara Drupadi bahwa jodohnya akan segera tiba, bukan hanya satu tapi malah 5 sekaligus. Mereka adalah tokoh-tokoh terhormat, bagus jejak rekamnya, tak pernah masuk dalam catatan KPK. Tentu saja hal ini malah bikin Wara Drupadi tambah terkaget-kaget, bagaimana mungkin punya suami sampai lima. Itu kan  lebih daripada poliandri.

“Suami satu kan versi wayang Jawa, tapi versi India boleh kok perempuan bersuami lima.” Kata Betara Sengkara mencari pembenaran.

“Tapi gue yang capek. Masak, mau memberikan nafkah batin kok ngantri kaya pembagian sembako.” Protes Wara Drupadi, tapi lagi-lagi Bethara Sengkara hanya tertawa ngakak. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement