KEPALA Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio memastikan, hingga saat ini, vaksin Covid-19 yang ada masih efektif untuk melawan mutasi virus corona asal Inggris atau yang dikenal sebagai varian B.1.1.7.
Sampai saat ini vaksin Covid-19 yang dikembangkan dianggap masih efektif menghadapi varian baru yang muncul dan belum ada arahan untuk menyesuaikan atau mengganti vaksin yang sedang dikembangkan,” kata Amin pada Kompas, Kamis (4/3).
Menurut Amin, pihaknya juga belum mendapatkan informasi bahwa mutasi virus corona B.1.1.7 Â menyebabkan turunnya efikasi atau kemanjuran vaksin Covid-19 asal Sinovac, China yang juga diproduksi bersama PT Bio Farma, Bandung.
Sebelumnya Menkes Gunadi Sadikin menyatakan, bahwa berdasarkan pengamatan di sejumlah negara, gejala yang diakibatkan infeksi varian virus corona B.1.1.7 tidak ada bedanya dengan virus asli.
Namun demikian, lanjutnya, dari jenis vaksin Covid-19 lain yang pernah diamati di beberapa negara menunjukkan ada penurunan efikasi terhadap varian virus corona baru.
“Walau demikian, kekebalan atau antibodi yang dibentuknya masih efektif untuk varian virus baru ini,” ujarnya.
Amin juga menyatakan, dalam situasi saat ini, program vaksinasi agi 181,5 juta atau dua pertiga dari total penduduk Indonesia untuk mencapau herd immunity atau kekebalan komunitas harus dirampungkan.
Sejauh ini, menurut Jubir Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, terdapat dua kasus warga di Karawang, Jawa Barat yang baru kembali dari Arab Saudi terpapar varian baru virus corona B.1.1.7
Nadia mengatakan, varian virus corona B.1.1.7 berbeda dari virus corona yang muncul pertama kali di Wuhan, China yakni lebih mudah dan cepat menular tetapi tidak mematikan.
Menurut catatan, sejumlah epidemiolog di Uni Eropa dan Inggeris juga melaporkan tingkat penularan varian baru virus corona B.1.1.7. yang lebih tinggi 70 persen diatas virus asli, namun belum bisa dipastikan, apakah lebih mematikan atau tidak.
Vaksin yang ada saat ini antara lain butatan AstraZeneca (Inggeris), Sinovac dan Sinopharm (China) serta Pfizer –BioNTech (AS/Jerman) dan Moderna (AS) dianggap masih cukup ampuh melawan virus SARS-CoV-2 dan varian baru virus B.1.1.7.
Sedangkan varian B.1.1.7 sendiri yang bermula terdeteksi di Inggeris dan Afrika Selatan (Desember 2020) dan dari hewan cerpelai di Norwegia (Januari lalu), saat ini sudah menyebar di belasan negara di dunia.





