
JIKA tidak ingat umur, Begawan Durna ingin rasanya CLBK lagi dengan Betari Wilutama. Tapi dalam usia di atas 60 tahun sekarang, Pendita Sokalima ini merasa tenaganya sudah banyak ngedrop, tinggal satu digit. Kalau HP dicas 1 jam 2 jam sudah kenceng lagi, lha kalau dia punya “aset” ngecasnya pakai apa? Minum pil biru atau Viagra, malah bisa jadi biru wajahnya karena Durna sesungguhnya pengidap penyakit jantung yang jarang kontrol. Salah-salah minum Viagra bukannya naik spaneng tapi malah naik ke “surga” alias wasalam.
Tiba-tiba Betari Wilutama mendekati, dan dia berbisik-bisik di telinga kiri Pendita Durna. Serrr….., jantung Kumbayana jompo berdegup keras. Bau parfum khas kahyangan menyeruak ke hidungnya. Dalam kondisi normal, pastilah gairah kelelakian Begawan Durna segera bangkit. Tapi kini, gejolak hati tak bisa lagi berkordinasi dengan semangat kelelakiannya.
“Jadi Begawan Bimakandawa digituin saja langsung klepeg-klepeg wasalam?” tanya Begawan Durna kurang yakin.
“Iya! Pokoknya percayalah sama aku, salam buat anak kita Aswatama,” kata Betari Wilutama dan tahu-tahu sudah terbang mengangkasa.
Begitu Betari Wilutama pergi, bau parfum mengundang asmara itu pun sirna. Tapi celakanya, bersamaan dengan itu hilang pula daya penciumannya bahkan rasa di lidah pun sirna. Pendita Durna terkesiap, jangan-jangan dirinya potisip Covid-19 gara-gara kedatangan bidadari kahyangan itu. Buru-buru Pendita Durna blonyohan minyak kayu putih, sebab konon minyak tersebut bisa menangkal Corona.
Hari itu juga dia langsung memutuskan sendiri untuk karantina mandiri ketimbang lapor ke Puskesmas malah dikirim ke Wisma Atlet Kemayoran. Mestinya siang itu Durna hendak ketemu Aswatama dan murid Sokalima tercinta Prabu Bramadirada dari negeri Bantarangin, dekat Bantargebang Bekasi. Tapi gara-gara karantina mandiri, terpaksa pertemuan dilakukan secara zoom saja.
“Anakprabu Bramadirada melawan Begawan Bimakandawa berani nggak?” tanya Begawan Durna setelah pengarahan awal.
“Kenapa takut? Demi nama besar perguruan Sokalima, saya pasti bisa binasakan Begawan Bimakandawa.” Jawab si murid kesayangan, yang tak pernah telat bayar SPP.
“Bagaimana kamu Aswatama, siap bantu Prabu Bramadirada? Aku tadi ketemu mantanku, ibumu kirim salam buatmu.”
“Siap! Kanjeng rama.” Jawab Aswatama, karena tak ingin mengecewakan harapan orangtua.
Aslinya, urusan dengan Begawan Bimakandawa yang penjelmaan Bima dari Pendawa Lima, dia sudah memeng (trauma) duluan. Sebab belum ada kamusnya, keluarga Kurawa berperang lawan kubu Pandawa bisa menang. Pasti kalah! Maka bagi Aswatama, yang penting jawab “siap” saja dulu. Adapun jika nanti kalah, ya tinggal “istirahat di tempat”, begitu saja kok repot.
Selepas pengarahan via zoom, Aswatama bergabung dengan Prabu Bramadirada, bersama-sama menuju ke padepokan Gunung Jamurdwipa yang tengah diduduki Begawan Bima Kandawa. Tapi belum sampai ketemu Begawan Bimakandawa, sudah dicegat oleh Kapi Anoman dari Kendalisada, yang rupanya juga gabung di Jamurdwipa, mungkin karena sesama turunan Betara Bayu.
“Mau ketemu siapa Mas, apa yang bisa sata bantu?” kata Kapi Anoman, lagaknya seperti Satpam BCA.
“Ketemu Begawan Bimakandawa. Ada, kan?” jawab Prabu Bramadirada.
“Ada, tapi begawan baru meeting, tak bisa diganggu.” Jawab Anoman lagi.
“Sombong amat! Ini kami delegasi dari Ngastina, utusan Prabu Duryudana. Kalau mempersulit bisa ditutup ini pertapan. Tau nggak, ini Gunung Jamurdwipa masuk wilayah Ngastina.” Ucapan Prabu Bramadirada mencoba menggertak.
Tapi rupanya Kapi Anoman tak bergeming. Sampai-sampai Prabu Bramadirada minta waktu 15 menit saja, tapi tetap ditolak. Di samping tak ada janjian sebelumnya, ini bukan pertemuan Jokowi – Amien Rais Cs di Istana. Jadi kalau memang serius, ajukan permohonan dulu nanti dipertimbangkan tingkat urgensinya. Jika hanya mau mengajukan proposal sponsor, takkan masuk skala prioritas.
Prabu Bramadirada benar-benar tersinggung, murid teladan Pendita Durna kok direken seperti tukang bikin proposal minta proyek. Diapun menggebrak meja dengan maksud untuk menggertak kapi Anoman, tapi yang kaget malah Aswatama. Maklum ketika bayi dulu dia tak pernah digebyak dukun bayi.
“Nggak usah nakut-nakuti mantan prajurit Pancawati. Kalau nggak mau balik, sini kalian berdua maju bersama, biar kujadikan bergedel….” tantang Hanoman, mayor purnawirawan prajurit Pancawati tapi tak pernah berpikir pengin nyagub.
“Benar-benar elu ngecilin gua ya? Belum tahu siapa gua…..”
Kapi Anoman pun diserang Prabu Bramadirada, dibantu Aswatama. Tapi karena dasarnya Aswatama sudah takut duluan, dia tak bisa maksimal membantu murid andalan Begawan Durna ayahnya. Hanya beberapa gebrakan, keduanya sudah berhasil dihalau oleh kapi Anoman. Caranya pun sangat tidak terhomat, mereka sengaja dilempar sampai jatuh di depan Pendita Durna selaku aktor intelektualnya.
“Payah memang kalian. Katanya murid teladan, lawan Anoman saja gak mampu. Padahal sudah kuusulkan untuk jadi Paskibraka di Istana.” Gumam Begawan Durna demi melihat murid andalan bersama anaknya jatuh gedubrak di depan hidungnya.
“Nggak jadi anggota Paskibraka juga nggak papa, ketimbang mati konyol lawan Anoman.” Jawab Prabu Bramadirada seenaknya.
Tadinya Begawan Durna berharap murid andalan di Sokalima itu bisa mungkasi karya (menyelesaikan tugas) dengan baik, sehingga dia bisa lenggang-lenggang kangkung. Tapi ternyata, hanya segitu saja prestasinya. Ini artinya Begawan Durna harus turun gunung sendiri, untuk naik gunung Jamurdwipa melawan Bima mantan muridnya dulu, yang lulus secara cumlaude.
Tapi dia harus menyingkirkna kapi Anoman selaku barikade padepokan Jamurdwipa. Berdir juga bulu roma Pendita Durna, karena mau tak mau harus siap berlaga dengan benteng Begawan Bimakandawa. Padahal jika lihat situs Wikipedia, kapi Anoman itu di masa mudanya punya prestasi luar biasa. Dia menjadi utusan Ramawijaya ke Ngalengka dalam rangka merebut kembali Dewi Sinta. Di bakarpun tak mempan, kulit Anoman seperti asbes layaknya.
“Hai Anoman, jangan ketawa dulu. Kau boleh menang lawan muridku. Sekarang ayo hadapilah direktur sekolahnya……,” tantang Pendita Durna. (Ki Guna Watoncarita).


