Jalan bebatuan yang terjal dan menanjak tak membuat langkahnya surut. Sebaliknya, dia semakin gesit dan lincah melintasi celah jalanan yang terjal. Kami terpaksa meninggalkan kendaraan roda empat yang kami tumpangi dan menggantinya dengan sepeda motor, karena jalan menuju kaki Bukit Lumbung, di Dusun Tanggung Rejo, Desa Karang Patihan, Balongan, Ponorogo tidak memungkinkan untuk dilalui dengan mobil. Sepeda motor yang dipakai pun harus dimodifikasi bannya supaya tidak mudah selip.
“Di balik bukit itu sudah masuk daerah Pacitan,” ungkap pria paruh baya itu dengan tetap menjaga keseimbangan sepeda motor yang dikendarainya. Sekali dalam sepekan, pria itu datang ke dusun yang jaraknya puluhan kilometer dari rumahnya. Tujuannya adalah memastikan warga mendapat air bersih dari bak penampungan yang sudah dibangun. Pria dengan jenggot tipis itu bernama Ahmad Thobroni (46), pegiat sosial yang sangat perhatian pada nasib masyarakat di sekitar kota Reog, Ponorogo.
Ketika Dompet Dhuafa menggulirkan program pengadaan air bersih bagi masyarakat Dusun Tanggung Rejo awal tahun 2010, Thobroni termasuk orang yang berada di barisan depan, bahu-membahu bersama warga setempat menyukseskan program ini. Di wilayah yang berjarak 25 kilometer dari pusat kota Ponorogo ini, Dompet Dhuafa membangun 9 bak penampungan air dengan kapasitas 1.500 liter air.
Dari 9 bak besar itu, air dialirkan ke 20 bak penampungan yang berukuran lebih kecil. Sedikitnya 55 rumah bisa menikmati dan menerima manfaat dari program ini. “Kalau musim kemarau di sini sangat parah, tumbuh-tumbuhan mati semua dan warga harus memikul air sejauh 2 kilometer hanya untuk mandi, cuci, dan kakus. Kini air bisa masuk ke rumah warga melalui bak-bak itu. Satu bak kecil untuk dua hingga tiga rumah,” terangnya.
Mayoritas penduduk Dusun Tanggung Rejo adalah buruh tani. Mereka tidak memiliki lahan sendiri karena lahan di sekitar mereka tidak cocok untuk bercocok tanam. Sebagian warga hanya bisa mengandalkan ternak kambing yang jumlahnya tidak banyak. Sebagian lagi mencari kayu bakar dan tanaman obat di hutan sekitar rumah untuk kemudian dijual ke pengepul.
Air yang mengalir ke rumah warga itu, kata Thobroni, berasal dari sumber air di salah satu tebing bukit. Setelah dibuat bendungan kecil, air dialirkan melalui pipa besi ke bak penampungan besar. Tugas Thobroni adalah memastikan tidak ada sumbatan di sumber air, sehingga bak penampungan bisa tetap terisi dan masyarakat bisa memanfaatkan air bersih itu. Thobroni tidak sendiri, dia dibantu empat relawan lainnya yang juga peduli pada nasib warga dusun ini.
Beberapa tahun sebelumnya ada satu lembaga swadaya masyarakat asing yang memberi bantuan air bersih, namun karena masyarakat tidak banyak terlibat, program itu menjadi sia-sia. Banyak bak penampungan yang kosong dan tidak berfungsi.
Belajar dari pengalaman itu, Thobroni dan teman-temannya mengajak masyarakat untuk berpartisipasi merawat dan menjaga penampungan air yang sudah ada. “Alhamdulillah, masyarakat mau diajak kerja sama, ada urunan untuk pemeliharaan,” tandasnya.
*****
Kerusakan lingkungan dan kemiskinan merupakan dua variabel yang saling berkaitan. Tersebab lingkungan yang rusak, masyarakat bisa menderita karena hidupnya tak sehat. Mereka tak bisa bercocok tanam karena air tak mengalir. Mereka juga tak bisa menjaga kebersihan karena tak ada air yang diandalkan.
Sebaliknya, masyarakat yang hidupnya melarat, acap kali terpaksa “merusak” lingkungan demi keberlangsungan hidupnya. Kawasan Tebing Citatah yang berada di Kabupaten Bandung Barat, misalnya. Di kawasan ini terdapat bukit yang sebagain besar merupakan batu kapur. Warga sekitar menjadikan tempat tersebut untuk menambang batu kapur untuk dijual. Padahal, bila hal ini terus menerus terjadi bebatuan kapur tersebut bisa hilang. Terlebih, pada kawasan tersebut terdapat situs purba Goa Pawon. Namun warga tetap saja menambang batu kapur karena tidak ada pilihan pekerjaan lain.
Ini salah satu contoh di mana kemiskinan bisa merusak lingkungan. Oleh karena itu diperlukan program yang mampu mengentaskan kemiskinan secara efektif yang juga disertai program perbaikan lingkungan.
Dompet Dhuafa menyadari, selain kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, lingkungan juga memiliki kaitan erat dengan kemiskinan. Untuk itu, program Semesta Hijau digulirkan. Program ini bertujuan untuk mendorong perbaikan daya-dukung lingkungan sebagai prasyarat pemberdayaan kaum dhuafa dan jaringan pendukung komunitas pada tingkat akar rumput.
Dengan visi mewujudkan masyarakat berdaya yang bertumpu pada Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam yang berkelanjutan melalui sistem yang berkeadilan, Semesta Hijau mempunyai berbagai misi. Beberapa di antaranya membangun nilai kemandirian dan kebermanfaatan masyarakat berbasis lingkungan hidup dan sumber daya alam; mendorong sinergi program dan jaringan lintas organisasi untuk aktivitas lingkungan hidup berbasis pemberdayaan masyarakat; menumbuhkembangkan sistem ekonomi hijau melalui pendayagunaan sumberdaya lokal masyarakat; dan berperan aktif dalam perlindungan dan pembelaan hak-hak masyarakat atas sumber daya alam dan keadilan lingkungan hidup.
Ada berbagai sub-program yang dijalankan Semesta Hijau ini. Salah satunya adalah Air Untuk Kehidupan (AUK). Sejumlah wilayah di Indonesia kerap mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Tidak terdapatnya kantong air merupakan salah satu penyebab. Oleh karena itu program ini dibuat untuk penyediaan air bersih dan infrastruktur sanitasi, melalui program partisipatori (keterlibatan langsung) masyarakat.
Program yang dimulai pada 2008 ini mulai menjadi program reguler sejak 2010. Hingga saat ini 15 titik program AUK yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi dan Nusa Tenggara Timut (NTT). Ada empat macam treatment dalam program ini yaitu pipanisasi, pengeboran, penampungan air, dan desalinasi. Ada lebih dari 39.000 yang menjadi penerima manfaat dari program ini.





