
JUMLAH penambahan kasus sebaran harian Covid-19 global yang tren kurvanya mulai melandai Maret lalu, meningkat lagi dan kini memasuki fase kritis pandemi.
Di Indonesia sendiri, angka penambahan harian mencapai titik tertinggi sebanyak 14.518 kasus pada 30 Januari lalu dan pada bulan itu rata-rata harian di atas 10.000 kasus.
Kurva penambahan harian baru menurun trennya menjadi rata-rata di bawah angka 10.000 kasus sejak medio Februari dan pada 13 April tercatat 4.828 kasus. Angka terendah antara medio Fabruari sampai 13 April terctatat pada 5 April yakni 3.712 kasus.
Ironisnya, negara-negara Eropa yang sistem layanan kesehatannya tinggi, kini dibayangi lonjakan angka kematian akibat Covid-19 yang sudah melampaui lebih satu juta orang di 52 negara di kawasan itu.
Eropa juga sempat menikmati penurunan tingkat infeksi, nmun kini, angkanya melonjak lagi sehingga sejumlah negara seperti Belgia, Belanda, Ceko, Denmark, Jerman, Itali,Polandia, Portugis dan Swedia memberlakukan lockdown terbatas.
Ketua Gugus Tugas Covid-19 WHO (Badan Kesehatan Dunia) Maria van Kherkove bahkan menyebutkan, saat ini masyarakat dunia menghadapi titik kritis pandemi yang ditandai meningkatnya jumlah korban secara eksponensial.
Menurut catatan, yang juga mencemaskan yakni terjadinya mutasi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang membentuk sejumlah varian baru, misalnya B.1.1.7 asal Inggeris yang lalu berkembang lagi menjadi belasan varian baru seperti E484K, D614G, N439K yang terdeketeksi di sejumlah negara lintas benua.
Di Asia, India yang semula dipuji karena berhasil menekan penyebaran Covid-19 juga mengalami lonjakan kasus pada Senin (13/4) dengan penambahan 168.000 kasus menjadi total sekitar 13,5 juta kasus , sehingga menyalib Brazil yang semula berada pada posisi ke-2 dengan 13,4 juta kasus, sedangkan AS (31,9 juta kasus).
Lonjakan kasus Covid-19 di India juga berimbas tertundanya program vaksinasi di Indonesia karena negara itu dan juga beberapa negara produsen vaksin melakukan embargo karena akan memprioritaskan penggunannya di dalam negeri.
Potensi ancaman lonjakan Covid-19 di Indonesia juga di depan mata, jika larangan mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri dan arus balik setelah itu gagal ditegakkan, begitu juga rencana pembukaan sekolah-sekolah pada Juli nanti.
Dari hasil jajak pendapat baru-baru ini, sekitar 81 juta orang berencana mudik jika pemerintaha tidak memberlakukan larangan, sementara 21 juta orang tetap akan melakukannya walau dilarang sekali pun.
Ancaman Covid-19 di depan mata, tinggal kita apakah mau menahan diri dan berupaya mencegahnya dengan mematuhi prokes termasuk tidak mudik atau tidak.
Ingat! Menjaga keselamatan diri, berarti menjaga keselamatan keluarga dan orang lain serta keselamatan kita semua.




