Penerbangan Supersonic Bakal Dihidupkan lagi

Ilustrasi pesawat komersil supersonic. United Airlines, AS merencanakan penerbangan pesawat komersil Overture tahun 2030 nanti untuk melayani rute Trans Atlantik.

MASKAPAI penerbangan asal Chicago, Illinois, Amerika Serikat, United Airlines berencana menghidupkan kembali layanan penerbangan supersonic komersial rute Trans Atlantik menjelang tahun 2030.

United Airlines seperti dikutip CBS News mengungkapkan (4/6), layanan penerbangan supersonic yang akan dilakukan nanti menjadi yang pertama pasca penerbangan lintas Samudera Atlantik dengan pesawat Concorde yang dihentikan pada 24 Oktober, 2003.

Tak tanggung-tanggung, United Airlines bahkan disebut-sebut sudah menjalin kesepakatan pembelian untuk 15 pesawat supersonic bernama Overture tersebut dari industri pesawat Boom Supersonic  bermarkas di Denver, AS.

Melaju pada  1.7 Mach atau kecepatan suara, Overture berkapasitas 55 penumpang, dengan daya jelajah 4.250 Nautical Mile dan dijadwalkan sudah bisa melayani penerbangan komersial sebelum tahun 2030.

Pada kecepatan tersebut, Overture bisa memangkas waktu tempuh  dari New York ke London dari enam setengah jam menjadi tiga setengah jam saja sedangkan kelebihan lainnya, pesawat mengosumsi jenis bahan bakar berkelanjutan ramah lingkungan dengan emisi karbon “net zero”.

Selain tinggi biaya pengoperasian sehingga harga tiketnya juga lebih mahal dari pesawat jet penumpang biasa, British Airways dan Air France menghentikan penerbangan Concorde pada 2003. Pesawat ini juga dianggap tak ramah lingkungan karena tingkat kebisingannya yang tinggi.

Tingkat keselamatan penerbangannya juga dipertanyakan setelah terjadi kecelakaan di dekat Bandara Charles de Gaulle, Paris pada tahun 2000 yang menewaskan 113 seluruhnya penumpang dan awaknya.

Kecepatan Concorde jauh lebih tinggi yakni 2.4 Mach, sehingga penerbangan dari Paris ke New York bisa dipersingkat menjadi dua jam dibandingkan tujuh jam dengan pesawat komersial biasa.

Concorde dengan sayap delta yang dirancang Aerospatiale Perancis dan BAe Inggeris berkapasitas 144 penumpang, menggunakan mesin jet afterburner yang semula didisain untuk pesawat pembom Avro Vulcan. Harga per unitnya saat itu 69,1 juta Euro atau setara Rp1,2 triliun.

Uni Soviet juga pernah memproduksi pesawat penumpang supersonic TU-144 yang dijuluki “Concordski” karena diduga hasil jiplakan spionase di era Perang Dingin saat itu.

Namun reputasi TU-144 yang diproduksi sejak 1968  1989 sampai 16 unit dan digunakan untuk penerbangan di dalam negeri, tidak cukup baik, selain mahal biaya operasinya, juga sering mengalami kecelakaan.

Beroperasinya jenis pesawat supersonic komersil berkecepatan tinggi nanti tentu akan mendekatkan jarak dari benua ke benua.

 

 

 

 

Advertisement