Virus Covid Ada Sejak Zaman Purba ?

Peneliti Amerika Serikat dan Australia memperkirakan virus Covid sudah ada sejak era purba 50.000 tahun lalu (Majalah Current Biologi).

VIRUS penyebab Covid-19 yang menjadi pandemi global dan  menyebar di seluruh dunia saat ini, berdasarkan penelitian terbaru ilmuwan Amerika Serikat dan Australia , sudah ada  ribuan tahun lalu.

Bermula terdeteksi di kota Wuhan, Prov. Hubei, China medio 2019 alu,  virus corona Severe Accute Respiratory Syndrome Covid-2 (SARS-CoV-2) sampai hari ini (26/6) sudah menewaskan Lebih 2,9 juta jiwa dan memapar hampir 181 juta jiwa di 200-an negara di dunia (24/6).

AS di urutan tertinggi korban Covid-19 dengan 618.616 orang tewas, 34.463.714 terpapar, disusul India 393.338 tewas, 30.133.417 terpapar, Brazil 509.141 tewas, 18.243.483 terpapar, Perancis 110.906 tewas,  5.764.329 terpapar serta Turki  49.417 tewas, 5.254.708 terpapar.

Di Indonesia sendiri, pandemi Covid-19 sedang menuju puncak outbreak ditandai dengan nyaris penuhnya Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah-rumah sakit di seluruh Indonesia.

Pada hari yang sama tercatat rekor penambahan harian kasus Covid-19 menjadi 20.754 kasus atau tertinggi sejak awal pandemi pada  2 Maret 2020.  Pada 26 Juni tercatat total 2.072.867 kasus,

Sementara itu, majalah ilmiah dwi mingguan Current Biologi terbitan 25 Juni lalu melaporkan, virus corona sempat mewabah di China pada 2002, dikenal dengan SARS yang menjangkiti lebih dari 8.000 orang ribu orang dan menewaskan 800 orang.

Empat tahun kemudian muncul Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) yang juga disebabkan oleh virus corona yang memapar sekitar 2.400 orang dan menewaskan 850 orang.

“Bukti adanya epidemi yang menimbulkan malapetaka bisa dilihat dari genom yang dimiliki penduduk di kawasan Asia Timur, “ ungkap Kirill Alexandrov, pakar biologi sintetis  Queensland University of Technology (QUT).

Menurut dia, gen bisa menjelaskan apa yang terjadi pada masa lalu, sama halnya seperti pepohonan. Mutasi random pada gen manusia akan membuat sebagian orang lebih mudah terpapar  penyakit atau mengalami tingkat penyakit lebih parah.

Sebagai contoh, penelitian baru-baru ini menemukan,  mereka yang memiliki gen dari species manusia purba Neanderthals  yang menghuni wilayah Eurasia sekitar 50.000 tahun lalu berisiko mengalami gejala Covid-19 yang lebih parah.

Namun menurut Alexandrov,  mutasi lain bisa berdampak sebaliknya, bahkan memberikan perlindungan ketika wabah penyakit terjadi.

Jadi yang terjadi selama beberapa generasi adalah varian gen  yang menguntungkan akan semakin berkembang,” kata peneliti lainnya, Yassine Souilmi dari University of Adelaide.

Namun menurut Dr Soulimi, diperlukan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun hingga tanda tersebut muncul dalam genome warga.

Dr Soulimi dan peneliti lain menduga, manusia mungkin pernah berhubungan dengan virus corona sebelumnya, terlihat dari genom mereka sekarang.

Para peneliti menemukan virus ini berhenti melakukan tekanan evolusi terhadap genom sekitar 5.000 tahun lalu, berarti epidemi berlangsung sekitar 20.000 tahun lalu.

“Kami tidak bisa menjelaskan apakah ini terjadi secara berkala misalnya setiap musim dingin seperti flu, atau ada virus yang secara berkala melompat dari binatang ke manusia setiap lima atau 10 tahun seperti terjadi dalam 20 tahun terakhir pada  SARS, MERS, dan SARS-CoV-2,” kata Dr Souilmi.

Terlepas dari itu, yang jelas dari penelitian ini adalah manusia pernah mengalami wabah virus corona selama sekitar 20.000 tahun dalam satu masa dalam sejarah kehidupan kita. Melihat ke belakang untuk masa depan

Informasi tentang adanya wabah virus corona di masa lalu bisa memberikan sinyal apa yang harus dilakukan bila terjadi  pandemi di masa depan,  bagaimana virus menyebar dan seberapa lama bertahan,” kata Dr Souilmi.

Bertambah banyak info yang digali dan masukan terkait virus penyebab Covid-19, diharapkan upaya untuk menaklukannya semakin cepat demi menghindari lebih banyak korban.

 

 

 

 

Advertisement