Sayembara Istri Hilang

Sandratari Ramayana, mengambil adegan Dewi Sinta dibakar demi menguji kesucian.

BERITA anak hilang, itu sering terjadi. Begitu juga istri hilang, sering pula diberitakan, tapi biasanya karena sang istri dalam kondisi stress atau tidak normal. Harian “Pos Kota” dulu sering memberitakan di halaman I. Tapi istri hilang disayembarakan, barulah Ny. Ervina istri pengusaha di Riau, karena tiba-tiba hilang saat pergi ke toilet. Berbulan-bulan tak ditemukan, sampai disayembarakan berhadiah uang. Ketika besaran sayembara baru Rp 50 juta sampai Rp 125 juta, belum direspon publik. Tapi begitu nominal hadiah dinaikkan jadi Rp 150 juta oleh Kharirudin suaminya, langsung ketemu di Magetan (Jatim).

Sayangnya, setelah istri ditemukan ribuan kilometer dari Pakanbaru, suami tak mau membeberkan kisahnya pada wartawan. Jika ada informasi tambahan, Ervina ditemukan di pondok pengajian. Itu saja! Ketemu sehat sudahlah. “”Intinya sudah jumpa, selesai semuanya. Semua sehat,” kata pengusaha kelapa sawit asal Kampar tersebut. Padahal, karena kisah penemuannya dirahasiakan, publik di era gombalisasi semakin bertanya-tanya, dan beranalisa secara liar mengalahkan pengamat politik Rocky Gerung.

Apakah Ny. Ervina diculik seseorang, belum tentu juga! Ditemukannya di pondok gudangnya para santri dan kiyai, jelas menggugurkan dugaan negatip. Tapi modus keluarga kaya jadi sasaran penculikan demi tebusan, memang sering terjadi. Sasarannya bisa anak-anaknya, bisa pula istrinya. Dan sebagai pengusaha kelapa sawit, bagi kalangan penculik mata duitan, suami Ervina Lubis itu memang sangat “memenuhi syarat” untuk dijadikan obyek sasaran.

Harian Pos Kota Jakarta, dulu memiliki kolom khusus di halaman I, tentang orang-orang hilang di Ibukota. Hampir tiap hari ada saja beritanya, dari bocah yang hilang, orang tua yang kesasar karena sudah pikun, atau mereka yang berpenyakit jiwa. Pernah terjadi tahun 2000-an, agen iklan mini bernama Ahok dari Ciputat kehilangan anak ABG-nya yang sengaja kabur. Dicari dan lapor polisi tak ketemu juga. Tapi setelah dimuat Pos Kota langsung ketemu. Tapi karena nama Ahok kala itu belum ngetop, dan si ABG itu memang bukan anak Ahok Basuki alias BTP, setelah ketemu ya tak ada kelanjutan beritanya di koran.

Usaha penemuan si anak hilang itu juga gratis tanpa biaya. Baik ketika pasang beritanya di koran maupun  terhadap siapa yang menemukan, semuanya cuma-cuma tanpa biaya. Beda dengan kisah istri pengusaha di Riau tersebut, setelah hadiah sayembara dinaikkan dari Rp 50 juta berangsur-angsur naik sampai Rp 150 juta, baru ketemu. Apakah sang penemu terlalu komersil? Nggak jugalah, bisa saja karena informasinya terlambat sampai daerah Magetan.

Tapi kisah bini hilang sebagaimana yang dialami pengusaha Khairudin Siregar di Kampar, bukan hanya di dunia nyata. Dalam kisah perwayangan seri Ramayana, Dewi Sinta istri Ramawijaya juga sempat hilang bertahun-tahun. Tapi Ramawijaya memang mengaku apa adanya bahwa istrinya terang-terangan diculik Prabu Dasamuka dari Ngalengka. Dia berani memastikan demikian berdasarkan informasi dari burung Jathayu dan diperkuat oleh sidak (inspeksi mendadak) kapi Hanoman.

Sayangnya Ramawijaya memang bukan pengusaha, sehingga dia tak mampu buka sayembara untuk temukan istrinya yang hilang dengan uang. Bahkan untuk membebaskan istri dari Dasamuka, dia cari sponsor kepada Srugriwa. Dengan imbalan dijadikan patih oleh Prabu Rama ketika membentuk kerajaan Pancawati, Sugriwa rela mengorbankan ribuan prajurit kera menggempur Ngalengka. Jika kala itu ada kera-kera jenis kadrun, Sugriwa pasti dinyinyiri: mengorbankan rakyat demi kekuasaan!

Endingnya, Dewi Sinta bisa direbut kembali setelah Prabu Dasamuka berhasil dibunuh Prabu Rama lewat panah sakti Guwawijaya. Sayangnya, raja Pancawati ini tak pandai bersyukur di muka bumi. Istri bisa direbut kembali masih dimasalahkan, “Masih suci orisinil buntelan plastik nggak?” Prabu Rama curiga, jangan-jangan sudah tercemar dan terjamah raja Ngalengka, 5 tahun bukan waktu yang pendek lho!

Patih Sugriwa kaget, ribuan pasukan kera dikerahkan dan banyak yang tewas di medan laga. Eh begitu menang perang dan Dewi Sinta berhasil diboyong kembali, kok malah mau dibakar. Ini benar-benar di luar akal sehat, menafikan pengorbanan anak bangsa. Tapi apa boleh buat, Prabu Rama bergeming. Untung saja dewa Sanghyang Brama melindungi, sehingga jilatan api saat dibakar, terasa dingin saja. Ini mirip kisah Nabi Ibrahim dibakar raja Namrud. (Cantrik Metaram)

Advertisement