
PASUKAN Amerika Serikat bakal hadir kembali di Filipina di tengah memanasnya situasi di Laut China Selatan (LCS) akibat sikap agresif China di kawasan itu yang dianggap mengancam negara di sekitarnya.
Rencana penempatan kembali pasukan AS di Filipina tertunda sejak Februari lalu setelah Presiden Rodrigo Duterte menyatakan akan menghentikan seluruh kerjasamanya akibat penolakan penerbitan visa kunjungan ke AS terhadap salah seorang kepercayaannya.
Duterte berang, karena salah seorang panglima tentara Filipina yang dianggap bertanggungjawab terhadap pembantaian 8.000 anggota geng narkoba tidak diberi izin masuk AS dengan alasan terlibat pelanggaran HAM.
Dalam pernyataan yang disampaikan oleh jubirnya, presiden berkilah, keputusannya yang diambil merupakan cara Filipina bersikap lebih independen terhadap kepentingan negara besar (AS dan China –red) yang sedang berebut pengaruh di kawasan tersebut.
Di bawah payung “Visiting Forces Agreement (VFA) atau Kesepakatan Kunjungan Pasukan, AS dan Filipina sebelumnya melakukan sekitar 300 kegiatan tiap tahun termasuk latihan perang Balikatan yang melibatkan ribuan pasukan ketiga matra (AD, AU dan AL) kedua negara.
Sementara kehadiran pasukan AS di kawasan Asia Tenggara juga dianggap sebagai penyeimbang bagi kekuatan China yang terus meningkatkan kemampuan militer dan kehadirannya di kawasan LCS.
China juga menganggap kawasan di sepanjang sembilan garis putus-putus di peta LCS yang dipersengketakan dengan sejumlah negara seperti Brunei, Vietnam dan Filipina adalah bagian wilayah tradisionalnya, walau klaim tersebut tidak diakui int’l.
Perubahan keputusan Duterte diduga kuat tak terlepas dari laporan intelijen tentang meningkatnya aktivitas militer China di sekitar wilayah yang sengketa yakni Pulau Thitu atau Pagasa yang diklaim Filipina, Dhao Thi Tu menurut versi Vietnam dan Zhing Ye Dao menurut China.
Tidak Sebanding
Filipina yang anggaran militernya sekitar 4,2 milyar dolar AS (sekitar Rp59 triliun), dengan 125.000 personil, tentu tidak sebanding raksasa China dengan anggaran militar 209 miliar (Rp2.926 triliun) dengan 2,3 juta tentara dan jutaan pasukan cadangan.
AU Filipina mengoperasikan puluhan pesawat, tak satu pun pesawat tempur utama, hanya pesawat latih yang digunakan untuk serangan ringan, T-50 Golden Eagle buatan Korsel, AD-nya didukung sekitar 500 tank ringan (M-113, ex-AS, Excalibur eks-Cheko, Alvis exs-Inggeris dll) dan AL-nya dengan satu korvet, dua fregat dan 76 patroli pantai.
Sebaliknya, AL China didukung 700-an kapal perang termasuk dua kapal induk, puluhan destroyer, fregat dan 70-an kapal selam, AU dengan 3.000-an pesawat berbagai jenis, sedangkan AD memilik lebih 7.000 tank dan peluncur roket serta rudal-rudal balistik.
Penempatan pasukan AS di negara-negara ASEAN hanya ada di Filipina, walau latihan bersama juga acap digelar dengan negara lain termasuk RI seperti Latgab “Garuda Shield” di pusat latihan tempur TNI-AD di Baturaja, Sumsel, Makalisung, Sulut dan Amborawang, Kutai Kartanegara, 1 sampai 14 Agustus.
Dalam latihan yang digelar matra darat itu, AS menyertakan 2.282 anggota psukannya, sementara TNI-AD sebanyak 2.246 anggotanya yang akan melakukan latihan manajemen pertempuran, latihan lapangan, tembakan dengan peluru tajam, evakuasi medis dan dukungan udara.
Kehadiran AS di kawasan ini agaknya masih diperlukan guna mengimbangi China.(AP/Reuters/ns)




