
ERA Perang Dingin sudah berlalu sejak sekitar tiga dekade lalu, namun saling gertak antara dua kubu kekuatan militer blok Barat dan Timur masih berlangsung, ditandai latihan perang perangan.
AL Amerika Serikat saat ini sedang menggelar latgab di 17 zona waktu di kawasan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik melibatkan armada AL Inggeris, Australia, Korea Selatan dan Jepang.
Disebut-sebut sebagai unjuk gigi terbesar sepanjang 40 tahun terakhir ini , latgab yang digelar sampai 16 Agstus nanti diikuti paling tidak 36 kapal perang AS dan 50 sistem pertahanan virtual.
Adik perempuan Presiden Korut Kim Jong Un, Kim Yo Jong yang sering mewakilinya dengan menyebut latgab tersebut sebagai aksi permusuhan yang mengancam keselamatan rakyatnya.
Pihak Korut pun menolak menjawab panggilan telpon rutin di saluran hotline antarKorea yang biasa dilakukan dua kali sehari sebagai protes atas latgab yang diikuti juga oleh negara serumpun seterunya, Korsel.
Tentu saja latgab tersebut juga berupa pesan pada China untuk tidak gegabah melakukan tindakan permusuhan di wilayah sengketa China Selatan dan juga terhadapTaiwan.
China sejauh ini mengklaim wilayah yang di peta tergambar sebagai sembilan garis putus-putus adalah wilayah tradisional nelayannya (traditional fishing ground) walau tidak diakui secara internasional.
KLaim China di LCS
Di LCS China juga membangun pos militer di dua pulau yang hanya berjarak dua ratusan KM dari Filipina, selain itu di kawasan ini China juga bersengketa dengan Brunei, Malaysia, Vietnam dan Taiwan.
AL AS menyebutkan latgab tersebut juga merupakan pesan bagi dunia bahwa AS mampu merespon secara serentak jika terjadi konflik di LCS, Laut Hitam (terkait krisis Ukraina) dan Laut Mediteranea (konflik Timur Tengah).
Sebaliknya, tak kalah gertak, China dan Rusia juga menggelar latihan bersama melibatkan 10.000 tentara di wilayah Hui, Provinsi Ninxia, China barat laut 9 sampai 14 Agustus.
China dilaporkan mengerahkan alutsista terbaiknya seperti pesawat tempur generasi kelima J-20 Chengdu yang digadang-gadang setara dengan F-35 Lightning milik AS, sementara Rusia menyertakan pesawat-pesawat tempur seri Sukhoi terbarunya.
Sebelumnya, China dan Uni Soviet yang pernah berada dalam satu kubu melawan AS, “putus kongsi” di tahun 1960’an karena China menganggap negara beruang merah itu kaum revisionist yang tidak berani melawan AS.
Setelah itu, China yang semula mengandalkan alutsista buatan Soviet, mulai menjiplaknya, lalu mengembangkannya sendiri, sehingga kini sudah menjadi eksportir global.
Di tempat terpisah, Rusia pekan lalu juga menggelar latihan diikuti 2.500 tentara dengan dua negara sempalan Soviet di Asia Tengah yakni Tazikistan dan Uzbekistan.
Diduga latihan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi perubahan di Afghanistan pasca penarikan seluruh pasukan AS dan sekutunya 31 Agustus yang ditandai ofensif besar-besaran oleh milisi Taliban untuk mengambilalih pemerintahan.
Sisa-sisa tentara AS, didukung pesawat-pesawat pembom B-52 Stratofoster sedang berupaya menahan gerak cepat milisi Taliban yang sudah berhasil merebut empat provinsi di Afghanistan.
Sementara itu, 1.547 anggota Divisi 82 Lintas Udara AS juga menggelar latihan bersama Garuda Shield dengan sekitar 2.161 prajurit TNI AD di wilayah Baturaja, Sumsel, Amborawang, Kutai Kertanegara dan Makalisung, Sulut, 9 sampai 14 Agustus.
Latgab terbesar dalam sejarah yang dilakukan TNI dengan AS itu menuai polemik di dalam negeri, mengingat posisi RI sebagai negara bebas aktif dan non-blok walau sejauh ini belum ada reaksi dari Rusia atau China.
Saling gertak di era globalisasi kini, agaknya tidak sampai berujung perang, hanya sekedar dinamika atau saling unjuk kekuatan. (Reuters/AP/AFP/ns)




