
TEMBOK Berlin (Berliner Mauer) mulai dibangun 13 Agustus 1961 untuk mencegah warganya dan juga warga Jerman Timur yang merupakan bagian negara blok komunis Uni Soviet hijrah atau membelot ke Eropa Barat.
Tembok setinggi enam meter sepanjang 155 km membagi dua kota Berlin di wilayah Jerman Timur menjadi Berlin Timur di bawah pengawasan Soviet dan Berlin Barat di bawah kekuasaan Jerman Barat yang pro Amerika Serikat dan sekutunya.
Pembagian kota Berlin berdasarkan atas Perjanjian Potsdam yang dilakukan antara para pihak pemenang PD II yakni AS dan sekutu-sekutunya dan Uni Soviet.
Akibatnya, warga Berlin Barat terjebak dalam enclave atau wilayah kantong karena untuk keluar harus melalui jalur udara mengingat lokasinya yang berada di dalam di wilayah Jerman Timur.
Pada 24 Juni 1948, pemerintah Soviet di bawah Stalin melancarkan tindakan blokade terhadap Berlin Barat untuk mencegah masuknya pasokan makanan, material dan berbagai kebutuhan lainnya sehingga koalisi sekutu AS terpaksa melakukan misi “jembatan udara” untuk memasok kebutuhan warga. Blokade berakhir pada 12 Mei 1949.
Keberadaan tembok Berlin bagi penguasa Blok Timur diharapkan mampu mencegah pembelotan atau pelarian warga Jerman Timur saat itu ke negara-negara Eropa Barat gina menemukan kebebasan dan kehidupan lebih baik.
Sebelum tembok dibangun, paling tidak saat itu sudah sekitar 3,5 juta warga Jertim kabur, baik mealui Berlin dan juga pintu-pintu keluar lainnya dari Cekoslowakia dan Hongaria.
Bagi Jerman Timur, Tembok Berlin juga disebut sebagai Tembok Anti Fasis (Antifaschistischer Schutzwall), karena menilai, rezim pemerintah Jerman Barat yang pro AS masih menyisakan pola-pola fasis peninggalan Nazi di Bawah Adolf Hitler.
Sebaliknya, Walikota Berli Barat saat itu Willy Brandt (kemudian menjadi Kanselir Jerman Barat) menyebutnya sebagai “Tembok Memalukan” karena dibangun untuk membelenggu kebebasan rakyat, sedangkan di era Perang Dingin, Tembok Berlin juga menjadi “tirai besi” pemisah antara Eropa Barat dan Blok Timur.
Baru kemudian pada tahun 1989, terjadi perubahan drastis politik di kawasan Blok Timur sebagai dampak liberalisasi sistem otoritas di kawasan itu dan mulai pudarnya hegemoni Soviet di negara-negara satelitnya seperti Polandia dan Hongaria.
Pasca kerusuhan sipil yang berlangsung selama beberapa pekan, pemerintah Jerman Timur mengumumkan, mulai 9 November 1989 penduduk Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat.
Jerman Barat dan Jerman Timur
Sebagai catatan, Jerman Timur (RDJ) dideklarasikan pada 7 Oktober 1949 melalui perjanjian rahasia dengan Soviet yang hanya menyetujui otoritas administratif negara itu tetapi bukan otonomi dan tetap mengontrol penuh militer, polisi rahasia dan administrasi pemerintah.
Sebaliknya Jerman Barat (Republik Federasi Jerman) yang dibentuk pada 23 Mei 1949 berkembang menjadi negara kapitalis dengan budaya Barat dengan sistem ekonomi pasar sosial (Soziale Marktwirtschaft) dan pemerintahan demokrasi parlementer.
Pertumbuhan ekonomi luar biasa di era 1950-an memunculkan keajaiban ekonomi (“Wirtschaftswuender”) Jerman Barat yang terus tumbuh dan standar hidup warganya semakin baik sehingga banyak warga Jerman Timur yang ingin pindah ke Jerman Barat.
Pasca pengmuman bagi warga Jertim bebas bepergian ke Berlin Barat dan Jerman Barat, Tembok Berlin diruntuhkan, bahkan di tengah euforia massa, dijadikan potongan-potongan kecil menjadi souvenir yang diburu untuk dikoleksi oleh wisatawan manca negara.
Sebagian besar tembok kemudian dihancurkan oleh pemerintah dengan menggunakan alat-alat berat dan runtuhnya Tembok Berlin membuka jalan bagi reunifikasi Jerman, 3 Oktober 1990.
Saat ini Jerman bersatu sudah berkembang pesat menjadi raksasa ekonomi dan kiblat teknlogi dunia serta negara demokratis, meniggalkan masa kelam di bawah rezim Nazi dan juga saat mereka terbelah dua.




